Lintasjejaring.Com – Dua proyek ambisius di Kutai Timur (Kutim), yakni pembangunan mal modern dan penangkaran buaya, hingga kini masih sepi dari investor. Meskipun telah ditawarkan sebagai peluang investasi yang menjanjikan, belum ada satu pun investor yang menunjukkan ketertarikan serius untuk merealisasikan kedua mega proyek ini.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kutim, Darsafani, mengakui bahwa pihaknya telah berupaya keras mempromosikan potensi investasi ini. Namun, ia juga menyoroti kendala utama: belum adanya kajian studi kelayakan (Feasibility Study) yang komprehensif.
“Untuk menarik investor besar, kami perlu data yang sangat matang. Studi kelayakan yang detail akan menjadi dasar mereka dalam membuat keputusan investasi,” jelas Darsafani.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebelumnya, Wakil Bupati Kasmidi Bulang sempat mengemukakan ide pembangunan penangkaran buaya sebagai daya tarik wisata baru yang unik. Proyek ini diharapkan tidak hanya menjadi destinasi, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi penangkaran skala industri. Sementara itu, keinginan untuk memiliki mal modern di Sangatta muncul dari aspirasi masyarakat dan pemerintah daerah untuk menggerakkan ekonomi lokal serta mencegah aliran belanja ke luar daerah.
Meski demikian, tanpa adanya studi kelayakan yang kuat yang bisa menunjukkan potensi keuntungan dan keberlanjutan proyek, investor cenderung enggan untuk mengambil risiko. DPMPTSP Kutim akan terus berupaya mematangkan kajian-kajian tersebut agar kedua proyek ini dapat segera menemukan investor dan memberikan dampak positif bagi perekutain Timur.









