Lintasjejaring.com, Kalimantan Utara – Cuaca panas dan kemarau panjang mulai memengaruhi aktivitas masyarakat di Kabupaten Bulungan. Kondisi jalan yang kering membuat debu mudah beterbangan setiap kali kendaraan melintas. Rabu (09/09/2026).
Situasi tersebut mendorong Polda Kalimantan Utara (Kaltara) mengambil langkah untuk membantu masyarakat menghadapi dampak musim kemarau. Personel Direktorat Samapta Polda Kaltara menyiram sejumlah ruas jalan yang mengalami peningkatan debu pada Senin dan Selasa kemarin.
Petugas mengerahkan satu unit kendaraan Armored Water Cannon (AWC) dengan kapasitas 5.000 liter air. Satu unit kendaraan patroli roda empat juga ikut mengawal kegiatan tersebut. Kabid Humas Polda Kaltara, Kombes Pol. Slamet Wahyudi, mengatakan pihaknya melihat kondisi jalan yang semakin kering selama cuaca panas berlangsung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Cuaca panas dan kondisi kemarau yang cukup panjang membuat sejumlah ruas jalan menjadi kering. Ketika kendaraan melintas, debu langsung beterbangan dan kondisi itu tentu mengganggu masyarakat. Karena itu, kami mengambil langkah sederhana dengan melakukan penyiraman untuk mengurangi debu dan membantu masyarakat beraktivitas dengan lebih nyaman,” ujar Slamet Wahyudi, Selasa (08/09/2026) kemarin.
Menurut Slamet, kondisi kering dapat menimbulkan berbagai persoalan di lingkungan masyarakat.
“Kita melihat dampaknya bukan hanya pada kondisi tanah atau lingkungan yang semakin kering. Debu juga menjadi persoalan yang langsung dirasakan masyarakat. Debu dapat mengganggu pengendara, mengurangi kenyamanan dan dalam kondisi tertentu juga dapat mengganggu jarak pandang,” jelasnya.
Polisi Siram Sejumlah Ruas Jalan
Personel Direktorat Samapta menyusuri sejumlah jalan yang ramai dilalui masyarakat. Petugas memulai penyiraman dari Jalan Sengkawit, Jalan Katamso, Jalan Jenderal Soedirman, Jalan Sutoyo, Jalan M.T. Haryono dan Jalan Skip 1.
Setelah itu, kendaraan AWC kembali melewati Jalan Katamso dan Jalan Sengkawit sebelum menuju Mako Polda Kaltara.
Slamet mengatakan petugas memilih sejumlah ruas tersebut karena masyarakat cukup banyak menggunakan jalur itu dalam aktivitas sehari-hari.
“Kami memilih beberapa ruas jalan yang cukup banyak digunakan masyarakat. Kami ingin mengurangi debu di jalur tersebut sehingga pengendara maupun masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar jalan bisa merasa lebih nyaman,” katanya.
Ia menjelaskan penggunaan AWC membantu petugas menyiram jalan dalam cakupan yang lebih luas.
“Kami menggunakan AWC dengan kapasitas 5.000 liter air. Dengan kendaraan tersebut, petugas bisa melakukan penyiraman secara lebih efektif. Kami juga mengatur pergerakan kendaraan supaya kegiatan ini tidak mengganggu pengguna jalan,” ungkap Slamet.
Pengendara Diminta Kurangi Kecepatan
Personel patroli roda empat turut memberikan imbauan kepada pengendara melalui pengeras suara selama kegiatan berlangsung.
Petugas meminta pengendara mengurangi kecepatan ketika mendekati kendaraan AWC. Polisi juga mengingatkan pengendara agar menjaga jarak aman.
“Kami meminta pengendara mengurangi kecepatan ketika mendekati kendaraan AWC. Jaga jarak dan jangan memaksakan kecepatan karena petugas sedang melakukan penyiraman. Kami ingin kegiatan ini membantu masyarakat tanpa menimbulkan gangguan baru di jalan,” tutur Slamet.
Menurutnya, pengendara juga perlu memperhatikan kondisi permukaan jalan setelah petugas melakukan penyiraman.
“Setelah kami menyiram jalan, permukaannya tentu menjadi lebih basah. Karena itu, pengendara tetap harus berhati-hati, mengurangi kecepatan dan memperhatikan kendaraan lain di sekitarnya,” ujarnya.
Kemarau Panjang Tingkatkan Risiko Karhutla
Slamet menilai kemarau panjang tidak hanya memicu persoalan debu. Kondisi lingkungan yang semakin kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, Polda Kaltara meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kering berlangsung.
“Kondisi kemarau yang panjang membuat lingkungan semakin kering. Situasi seperti ini tentu meningkatkan potensi kebakaran. Kami meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran sembarangan karena api bisa dengan cepat menjalar ketika kondisi lingkungan sangat kering,” tegas Slamet.
Polisi juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api atau aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran.
“Kalau masyarakat melihat ada titik api, segera laporkan kepada petugas. Jangan menunggu api membesar. Semakin cepat kita mengetahui adanya kebakaran, semakin cepat pula kita bisa mengambil langkah untuk mengendalikannya,” katanya.
Polda Kaltara Dorong Pencegahan
Menurut Slamet, menghadapi kemarau panjang membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Kepolisian akan terus menjalankan langkah preventif sambil memantau kondisi di lapangan.
“Kami akan terus melakukan pemantauan dan melihat kebutuhan masyarakat di lapangan. Kalau ada dampak kemarau yang bisa kita kurangi melalui kegiatan pelayanan seperti penyiraman jalan, tentu akan kami lakukan. Prinsipnya, kami ingin masyarakat tetap bisa menjalankan aktivitas dengan aman dan nyaman,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa masyarakat memiliki peran besar dalam mencegah dampak kemarau, terutama potensi kebakaran lahan.
“Pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan kepolisian. Kami membutuhkan dukungan pemerintah daerah, instansi terkait dan masyarakat. Mari kita sama-sama menjaga lingkungan, tidak membakar lahan sembarangan dan segera melaporkan setiap potensi kebakaran,” pungkas Slamet.
Polda Kaltara akan terus memantau kondisi jalan dan lingkungan selama musim kemarau. Penyiraman jalan menjadi salah satu langkah yang dilakukan polisi untuk mengurangi debu sekaligus membantu masyarakat menghadapi dampak cuaca panas dan kering.
Penulis : Yudistira/Bul
Editor : Redaksi









