Lintasjejaring.com, Tanjung Selor – Pendidikan mengenai kehidupan berkeluarga dinilai perlu diberikan sejak usia remaja, jauh sebelum seseorang memasuki jenjang pernikahan. Pemahaman tersebut penting agar generasi muda tidak hanya memiliki kesiapan secara fisik untuk menikah, tetapi juga matang dalam menghadapi tanggung jawab, komunikasi, pengasuhan, hingga persoalan rumah tangga. Selasa, (11/08/2026).
Hal itu menjadi salah satu pesan utama dalam Seminar Keluarga Sakinah bagi Remaja Putri yang digelar Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Keluarga Sakinah (LPPKS) BKPRMI Kabupaten Bulungan di Aula Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Bulungan pada Jumat (07/08/2026) kemarin.
Seminar yang diikuti 40 remaja putri dari berbagai jenjang pendidikan tersebut menjadi ruang pembekalan bagi generasi muda untuk memahami konsep keluarga sakinah, mawaddah, warahmah sekaligus pentingnya mempersiapkan kehidupan keluarga sejak dini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua DPD BKPRMI Kabupaten Bulungan, Mochamad Ali Mustafa mengatakan pendidikan keluarga tidak seharusnya baru diberikan ketika seseorang akan melangsungkan pernikahan.
“Pendidikan keluarga harus dimulai sejak remaja, karena membangun keluarga itu membutuhkan kesiapan yang tidak hanya berkaitan dengan pernikahan, tetapi juga pengetahuan, karakter, tanggung jawab dan kematangan dalam menghadapi kehidupan,” kata Ali.
Menurutnya, remaja perlu memahami sejak awal bahwa pernikahan merupakan fase kehidupan yang membawa tanggung jawab besar. Karena itu, pembinaan sebelum memasuki rumah tangga menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi penerus yang berkualitas.
“Jangan sampai anak-anak kita memahami pernikahan hanya sebagai sebuah seremoni. Mereka harus mengetahui bahwa setelah menikah ada tanggung jawab terhadap pasangan, anak, keluarga dan lingkungan,” ujarnya.
Urgensi pendidikan tersebut semakin kuat jika melihat kondisi perkawinan di Kabupaten Bulungan. Berdasarkan data BPS Kabupaten Bulungan, pada 2024 sebanyak 35,16 persen perempuan melakukan perkawinan pertama sebelum usia 19 tahun. Angka tersebut meningkat 3,08 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya. BPS juga mencatat usia perkawinan yang rendah dapat berkaitan dengan pola pengasuhan, gizi dan kesehatan anak.
Data tersebut menunjukkan bahwa pembekalan kepada remaja tidak hanya berkaitan dengan kesiapan menikah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran mengenai konsekuensi kehidupan berkeluarga.
Ali menilai pendidikan keluarga sakinah dapat menjadi salah satu instrumen untuk membangun pola pikir remaja agar mampu merencanakan masa depan dengan lebih matang.
“Remaja harus diberi ruang untuk belajar bagaimana merencanakan masa depan, memahami peran dalam keluarga dan mengetahui apa saja yang harus dipersiapkan sebelum mengambil keputusan untuk berumah tangga,” tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa keluarga sakinah tidak hanya ditentukan oleh kemampuan ekonomi. Menurutnya, komunikasi, saling menghargai, pengendalian diri serta pemahaman agama juga menjadi fondasi penting dalam membangun rumah tangga.
“Keluarga yang sakinah membutuhkan komunikasi yang baik, saling menghormati dan kemampuan menyelesaikan masalah dengan cara yang bijaksana. Hal-hal seperti ini harus dikenalkan kepada anak-anak sejak mereka masih remaja,” katanya.
Seminar tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan generasi muda di tengah kebutuhan akan akses edukasi dan konseling remaja. BPS Kalimantan Utara mencatat jumlah Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di Kaltara meningkat dari 86 unit pada 2023 menjadi 95 unit pada 2024. Layanan tersebut mencakup edukasi kesehatan reproduksi, perencanaan masa depan hingga pencegahan perkawinan usia anak.
Ali mengatakan pendidikan keluarga perlu dibangun secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, organisasi kepemudaan, lembaga keagamaan hingga pemerintah.
“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada seminar saja, tetapi menjadi bagian dari gerakan bersama untuk memberikan pendidikan keluarga kepada generasi muda secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Menurutnya, remaja putri memiliki posisi strategis dalam pembentukan keluarga di masa depan. Namun, pembekalan tersebut tidak dimaksudkan untuk mendorong remaja segera menikah, melainkan justru membantu mereka memahami pentingnya mempersiapkan diri dan menentukan masa depan secara bertanggung jawab.
“Yang paling penting adalah bagaimana mereka mempersiapkan diri terlebih dahulu. Ketika waktunya nanti tiba untuk membangun keluarga, mereka sudah memiliki bekal pengetahuan dan nilai yang cukup untuk menjalankan tanggung jawab tersebut,” tegas Ali.
Kegiatan seminar dibuka Asisten I Bidang Sekretariat dan Ekonomi Pembangunan, Jamal, yang hadir mewakili Bupati Bulungan. Turut hadir perwakilan DPW BKPRMI, Danrem, Polres, Dewan Masjid Indonesia (DMI), Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Bulungan serta Kementerian Agama Kabupaten Bulungan.
Dengan pembekalan tersebut, LPPKS BKPRMI Kabupaten Bulungan berharap pendidikan keluarga dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter remaja. Generasi muda tidak hanya dipersiapkan untuk memiliki pendidikan dan karier, tetapi juga dibekali kemampuan membangun relasi yang sehat, menjalankan tanggung jawab, serta kelak menciptakan keluarga yang harmonis dan berlandaskan nilai keislaman.
Penulis : Zull
Editor : Redaksi










