Lintasjejaring.Com – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memulai sebuah langkah konkret dan masif dalam upaya menanggulangi dampak perubahan iklim. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 50 desa di seluruh wilayah Kutim kini dilibatkan secara langsung untuk menjadi garda terdepan melalui Program Kampung Iklim (Proklim).
Proklim adalah program nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat di tingkat tapak dalam melakukan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Di Kutim, program ini dijalankan secara serius oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Sekretaris DLH Kutim, Andi Paselangi, menjelaskan bahwa program ini adalah jawaban atas urgensi untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana iklim seperti banjir, kekeringan, dan kenaikan permukaan air laut. Menurutnya, perang melawan perubahan iklim tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi harus menjadi gerakan bersama yang dimulai dari unit terkecil masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini adalah langkah nyata kita. Kami telah memilih 50 desa sebagai pionir untuk dibina dan didampingi dalam melaksanakan aksi-aksi adaptasi dan mitigasi. Target kami tidak main-main, yaitu menjadikan desa-desa ini tangguh dan mandiri dalam menghadapi krisis iklim,” ujar Andi Paselangi.
Melalui program Proklim, desa-desa ini akan didorong untuk melakukan berbagai kegiatan pro-lingkungan, seperti pengelolaan sampah terpadu, pembuatan lubang biopori, penanaman pohon, pemanfaatan energi terbarukan, hingga konservasi sumber mata air. Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, diharapkan akan lahir inovasi-inovasi lokal yang efektif dan berkelanjutan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mengurangi emisi gas rumah kaca.









