Lintasjejaring.Com – Menurunnya populasi kunang-kunang secara drastis di berbagai wilayah Kutai Timur (Kutim) menjadi sorotan serius Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Fenomena hilangnya serangga bercahaya yang dulu jamak ditemui di malam hari ini dianggap bukan sekadar kerinduan romantis, melainkan sebuah alarm ekologis atau peringatan keras akan adanya kerusakan lingkungan yang harus segera diwaspadai.
Kepala DLH Kutim, Aji Wijaya Effendie, menyatakan bahwa kunang-kunang adalah bio-indikator alami yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Kehadiran mereka menandakan bahwa sebuah ekosistem, terutama di sekitar area perairan seperti rawa, sungai, dan hutan mangrove, masih dalam kondisi sehat dan tidak tercemar.
“Hilangnya kunang-kunang adalah pertanda buruk. Ini sinyal dari alam bahwa lingkungan kita sedang tidak baik-baik saja. Mungkin karena polusi cahaya, pencemaran air oleh pestisida atau limbah, atau rusaknya habitat mereka,” jelas Aji Wijaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, cahaya dari lampu perkotaan dan permukiman dapat mengganggu ritual perkawinan kunang-kunang yang mengandalkan sinyal cahaya. Selain itu, larva kunang-kunang yang hidup di air atau tanah lembab sangat rentan terhadap bahan kimia berbahaya. Semakin berkurangnya area hijau dan hutan mangrove sebagai habitat alami mereka juga menjadi penyebab utama anjloknya populasi serangga ini.
DLH Kutim mengajak seluruh masyarakat untuk lebih peduli terhadap fenomena ini. Menjaga kebersihan sungai, mengurangi penggunaan pestisida secara berlebihan, dan melestarikan kawasan hijau di sekitar tempat tinggal adalah langkah-langkah kecil yang dapat membantu mengembalikan cahaya kunang-kunang. Karena hilangnya mereka adalah cerminan dari kesehatan bumi yang kita pijak.









