Lintasjejaring.com, Samarinda – Kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) IX Rayon Dakwah PMII Komisariat UIN-SI Samarinda resmi dituntaskan dengan 77 peserta yang bertahan hingga proses pembaiatan dan dinyatakan sah menjadi anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Rabu (26/08/2026).
Ketua Rayon Dakwah PMII Komisariat UIN-SI Samarinda, Aji Aura Fajar menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya seluruh rangkaian kegiatan tersebut. Ia mengatakan, keberhasilan MAPABA IX tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Gus Joko yang memberikan dukungan penuh berupa fasilitas selama kegiatan berlangsung.
Sebagai bentuk apresiasi dan rasa terima kasih, pengurus inti bersama panitia MAPABA IX memberikan tanda penghargaan kepada Gus Joko. Pemberian tersebut menjadi simbol penghormatan atas waktu, perhatian, doa, serta fasilitas yang telah diberikan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan kaderisasi Rayon Dakwah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Atas nama seluruh pengurus dan panitia, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas doa dan support yang telah diberikan kepada kami. Alhamdulillah, peserta yang bertahan sampai proses pembaiatan dan sah menjadi anggota PMII berjumlah 77 orang,” ujar Aji.
Pertemuan bersama Gus Joko tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi para pengurus dan peserta setelah menyelesaikan seluruh rangkaian MAPABA IX. Gus Joko memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan dengan jumlah peserta yang mencapai 77 orang.
Ketua Rayon Dakwah juga berharap 77 anggota baru yang telah dibaiat tidak berhenti pada status keanggotaan semata. Proses MAPABA diharapkan menjadi pintu awal bagi mereka untuk terus belajar, berproses, berorganisasi, serta mengambil peran dalam menyuarakan persoalan-persoalan sosial yang ada di tengah masyarakat.
“Ini bukan akhir, tetapi awal dari proses yang lebih panjang. Kami berharap 77 peserta yang telah dibaiat dapat terus berproses, menjaga komitmen, dan membawa semangat perjuangan dalam menjalankan pengabdian,” pungkasnya.
Menurut Gus Joko, keberanian menyampaikan kritik tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya orang yang berada di belakang sebuah suara. Hal yang jauh lebih penting adalah keberanian tersebut memiliki dasar hukum dan argumentasi yang kuat.
Ia juga menekankan bahwa sikap kritis mahasiswa tidak boleh berhenti hanya karena pihak yang sedang menjalankan pemerintahan merupakan senior atau orang yang memiliki hubungan dekat dengan organisasi.
“Kalau memang ada yang harus dikritisi, tetap harus disampaikan. Jangan karena yang ada di pemerintahan itu senior kita, kemudian kita tidak berani mengkritik. Yang penting kritik itu memiliki dasar hukum dan argumentasi yang jelas,” pesan Gus Joko.
Baginya, mahasiswa harus memiliki keberanian untuk menjaga idealisme sekaligus memahami cara menyampaikan kritik secara bertanggung jawab. Militansi kader tidak hanya ditunjukkan melalui keberanian bersuara, tetapi juga melalui kemampuan membangun argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pelaksanaan MAPABA IX yang bertepatan dengan momentum bulan Maulid Nabi Muhammad SAW juga dinilai memiliki makna tersendiri. Momentum kelahiran Rasulullah SAW tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari refleksi spiritual bagi para peserta maupun panitia dalam menjalani proses kaderisasi dan pengabdian.
Nilai perjuangan, keteladanan, keberanian, kejujuran, serta kepedulian terhadap sesama yang tercermin dalam perjalanan Rasulullah SAW diharapkan dapat terus menjadi pegangan para kader PMII dalam menjalankan aktivitas organisasi maupun kehidupan bermasyarakat.
Rangkaian pertemuan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama. Doa tersebut menjadi bentuk ikhtiar untuk memohon kekuatan hati, keteguhan langkah, serta keikhlasan bagi seluruh kader dalam menjalankan proses pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.
Penulis : Zull
Editor : Redaksi











