LintasJejaring.com, Samarinda – Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, menilai pembangunan Patung Bung Karno yang terintegrasi dengan ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara, memiliki makna strategis yang melampaui fungsi monumen semata. Menurutnya, kawasan tersebut berpotensi menjadi pusat edukasi sejarah sekaligus ruang tumbuh ekonomi rakyat.
Keterbatasan pemanfaatan kawasan bersejarah selama ini menjadi persoalan tersendiri, karena nilai sejarah yang tinggi belum diiringi dengan pengelolaan ruang yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Tanpa konsep integrasi yang matang, kawasan bersejarah cenderung hanya menjadi simbol, bukan ruang publik aktif yang mendukung edukasi, aktivitas sosial, dan perputaran ekonomi lokal.
Iswandi, mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar), yang dinilainya berhasil mengemas nilai historis Sanga-Sanga, ke dalam ruang publik yang lebih hidup dan produktif
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini bukan hanya soal membangun patung, tapi bagaimana sejarah dihidupkan kembali dan bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Politikus Partai PDI – Perjuangan ini menyebutkan, proyek pembangunan kawasan Patung Bung Karno yang berlangsung sekitar dua tahun tersebut, mendapat dukungan dari PSS Pertamina Hulu Mahakam Sanga-Sanga, mengingat lokasi pembangunan berada di atas lahan milik perusahaan.
“Lahannya milik Pertamina, proses pembangunannya cukup panjang, dan sekarang hasilnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan publik. Ini kolaborasi yang patut diapresiasi,” katanya.
Ke depan, ia berharap kawasan tersebut tidak berhenti pada fungsi simbolik, melainkan terus dikembangkan dengan berbagai fasilitas pendukung. Mulai dari museum Bung Karno, ruang edukasi sejarah, hingga area rekreasi yang ramah bagi generasi muda.
“Kalau hanya patung, nilainya terbatas. Tapi kalau ada museum, ruang edukasi, dan konsep yang menarik, anak-anak muda bisa belajar sejarah dengan cara yang lebih santai dan relevan,” jelasnya.
Selain sebagai pusat edukasi, kawasan tersebut juga dirancang untuk membuka ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro dan kecil.
“Harus ada ruang UMKM. Jadi kawasan ini bukan hanya bicara masa lalu, tapi juga menggerakkan ekonomi rakyat hari ini,” tambah Iswandi.
Terkait pemilihan lokasi dan waktu peresmian, ia menilai hal tersebut sarat makna sejarah. Ia mengingatkan bahwa tanggal 27 Januari, memiliki nilai historis penting bagi Sanga-Sanga, yang dikenal sebagai salah satu daerah dengan peristiwa perjuangan besar dan telah ditetapkan sebagai kota sejarah.
“Momentum dan lokasinya sangat tepat. Sanga-Sanga memang punya ikatan sejarah yang kuat dengan perjuangan bangsa,” ucapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebelum pembangunan dilakukan, Pemkab Kukar telah berkoordinasi dan bermusyawarah dengan keluarga Bung Karno. Pada peresmian kawasan tersebut, keluarga Bung Karno diwakili oleh Jarot Saiful Hidayat.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Patung Bung Karno seharusnya dipahami sebagai pintu masuk, bukan tujuan akhir.
“Patung itu simbol. Yang paling penting justru aktivitas, nilai, dan kehidupan yang tumbuh di kawasan itu,” tegasnya.
Menurutnya, pendekatan ini relevan untuk menjangkau generasi Z yang cenderung akrab dengan ruang publik visual dan digital.
“Anak muda mungkin datang awalnya untuk foto-foto. Tapi dari situ muncul rasa ingin tahu. Masa iya enggak tahu Bung Karno? Dari situ proses belajar bisa dimulai,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan diorama, miniatur sejarah, perpustakaan, serta fasilitas edukatif lainnya dapat menjadi sarana efektif menanamkan nilai nasionalisme dengan pendekatan yang lebih menarik.
“Kalau dikemas dengan baik, rasa bangga terhadap Bung Karno sebagai Bapak Bangsa bisa tumbuh, lalu menular ke lingkungan sekitarnya. Itulah nilai besar dari kawasan ini,” pungkasnya.
(Sean)









