Babah Alun Pulang ke ‘Mahakam’: Pesan untuk Anak Muda Kaltim, Jangan Hanya Bersuara, tetapi Berkarya

- Redaksi

Selasa, 3 November 2026 - 15:43 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Wantimpres RI, Yusuf Hamka atau yang akrab di sapa Babah Alun, saat berada di Samarinda.

Foto: Wantimpres RI, Yusuf Hamka atau yang akrab di sapa Babah Alun, saat berada di Samarinda.

Lintasjejaring.com, Samarinda – Ada pesan sederhana yang dibawa Yusuf Hamka atau yang akrab disapa Babah Alun saat kembali menginjakkan kaki di Samarinda. Di tengah kesibukan dan jabatan yang kini diembannya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI, ia justru mengajak masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) mengingat kembali asal-usul, bekerja dengan ketulusan, dan tidak melupakan kekayaan tanah kelahiran. Selasa (03/11/2026).

Kedatangannya kali ini bukan sekadar kunjungan biasa. Yusuf Hamka mengaku memiliki dua agenda, yakni menghadiri penghormatan terakhir kepada sahabatnya, Agus Sulistyo, sekaligus menyampaikan pesan kepada masyarakat.

Namun, ada satu hal menarik dari pernyataannya. Ia menyebut kedatangannya ke Samarinda juga untuk “berburu orang-orang zalim”..

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Agenda pertama adlaah berburu orang-orang zolim,” ucap Yusuf Hamka.

Pernyataan itu disampaikan dengan gaya khas Babah Alun yang spontan dan penuh seloroh.

Di balik kalimat tersebut, ia menyampaikan pesan tentang pentingnya keberanian melawan ketidakadilan serta membangun kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.

Jangan Hanya Mengkritik, Saatnya Turun Tangan

Babah Alun juga menyoroti kondisi Samarinda yang saat dikunjunginya terlihat cerah dan bebas dari kepulan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Baginya, kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari kerja bersama masyarakat dan pemerintah dalam upaya memadamkan api.

“Cuaca Samarinda hari ini sudnah terang, asap sudah tidak ada, coba lihat. Ini berkat kerja keras kita semua bersama-sama dengan pemerintah,”ujarnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan terkait dengan persoalan lingkungan. Menurutnya, persoalan lingkungan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran untuk ikut menyelesaikan persoalan yang terjadi di sekitarnya.

“Jangan nyinyir, jangan caci maki, tetapi mari kita bekerja bersama-sama. Karena semua ini tanggung jawab kita, bukan hanya tanggung jawab pemerintah,” tegasnya

Menurutnya, kepedulian terhadap daerah harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Ketika pemerintah menghadapi keterbatasan, masyarakat dapat mengambil bagian untuk membantu.

“Kalau pemerintah tidak bisa, kita bisa ikut mengisi dan mengambil peran. Nah, itulah warga negara yang baik,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kritik tetap diperlukan, tetapi tidak seharusnya berhenti pada keluhan. Ada tanggung jawab bersama untuk ikut memperbaiki keadaan.

Baca Lainnya:  Warga Sungai Kapih Desak Kejelasan BPN, Sertifikat Tanah Tak Kunjung Terbit Sejak 2023

Anak Muda Harus Berkarya, Bukan Sekadar Bersuara

Pesan Babah Alun, kemudian mengarah kepada generasi muda Kalimantan Timur. Ia berharap anak-anak muda di daerah ini tidak hanya memiliki keberanian menyampaikan pendapat, tetapi juga mampu menunjukkan kemampuan melalui karya dan tindakan.

Baginya, masa depan tidak cukup dibangun dengan suara keras. Dibutuhkan usaha, keyakinan, kejujuran, dan amanah untuk mewujudkan sesuatu.

“Saya ingin menyampaikan kepada anak-anak Kaltim, jangan hanya yang muda yang bersuara. Anak muda harus berkarya nyata,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya keyakinan dalam mengejar cita-cita.

“Harus yakin, haqqul yakin. Kita semua bisa, asalkan berusaha dengan jujur dan amanah,” lanjutnya.

Pesan itu disampaikan bukan sekadar sebagai motivasi. Yusuf Hamka turut mengaitkannya dengan perjalanan hidupnya sendiri, yang tidak pernah benar-benar terlepas dari tanah Kalimantan Timur.

Baca Lainnya:  Sujarwo Arif Widodo Pinta Perusahaan Prioritaskan Pemberdayaan Tenaga Kerja Lokal dan Dukung Pembangunan BLK

Dari Hulu Mahakam hingga Wantimpres

Di balik sosoknya yang kini dikenal luas di tingkat nasional, Babah Alun mengaku memiliki ikatan emosional kuat dengan wilayah Hulu Mahakam.

Ia menyebut Long Iram, Melak, Damai, hingga Tering sebagai bagian dari tempat yang membentuk perjalanan hidupnya.

Dengan nada bangga, ia mengingatkan bahwa dirinya merupakan anak daerah yang tumbuh dengan kekayaan alam dan kehidupan masyarakat Mahakam.

“Saya ini anak Hulu Mahakam. Long Iram, Melak, Damai, Tering, itu tempat saya,” ungkapnya.

Ia bahkan mengaitkan pencapaiannya hingga dipercaya menjadi anggota delegasi Amirul Hajj Indonesia pada musim haji 2026 dan anggota Wantimpres RI dengan kenangan masa kecil di Kalimantan Timur.

“Saya bisa menjadi seperti sekarang ini, menjadi Amirul Hajj dan Wantimpres, karena banyak makan ikan yang berasal dari sana,” ucapnya.

Ia juga menyebut Sungai Mahakam sebagai bagian dari ingatan yang tidak pernah terpisahkan dari dirinya.

“Saya juga minum air Sungai Mahakam. Jadi, jangan lupa dengan asal-usul kita,” tambahnya.

Bagi Babah Alun, jabatan dan pencapaian tidak seharusnya membuat seseorang melupakan tempat dari mana ia berasal.

Baca Lainnya:  DPRD Samarinda Minta Perda Antinarkoba Dijalankan, Sekolah dan Keluarga Jadi Fokus

Ikan Lancang, Lais, dan Jelawat: Kekayaan Mahakam yang Tak Boleh Dilupakan

Menariknya, ketika berbicara mengenai Kalimantan Timur, Babah Alun tidak hanya mengingat sungai sebagai bentang alam. Ia juga mengingat ikan-ikan lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sepanjang Mahakam.

Dengan gaya bercanda, ia menyebut ikan lancang sebagai salah satu kekayaan sungai yang memiliki cerita tersendiri.

“Kalau kita sedang di sungai, kemudian saat mau makan tidak ada duit, ikan lancang sudah menunggu,” katanya sambil tertawa.

Ia menggambarkan ikan lancang sebagai ikan yang lincah dan sulit ditangkap.

“Ikan lancang itu lincah sekali. Begitu kita mau mengambilnya, dia sudah menyambar,” ujarnya.

Tidak berhenti di situ, ia juga menyebut ikan lais dan jelawat sebagai ikan lokal yang patut dibanggakan.

“Pokoknya, kalau mau pintar, jangan lupa makan ikan lancang, ikan lais sama jelawat,” tuturnya.

Seloroh tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, ada pesan tentang kekayaan pangan lokal dan identitas masyarakat yang tersimpan di dalamnya.

Penulis : Sull

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

GERAM Tagih Enam Tuntutan, Pemprov Kaltim Jelaskan Karhutla hingga Gangguan Listrik
Tiga Tersangka Kasus Penyadapan Presiden, Mantan Kapolri Ikut Terseret
Bobol Dua ATM Usai Matikan CCTV, Pelaku Diduga Kabur ke Luar Kaltim, Polisi Kerahkan Tim Pemburu
Cabai Tembus Rp 100 Ribu per Kilogram, Kemarau Sulawesi Bikin Harga Pangan Samarinda Bergejolak
Pajak Digital 9 November Bukan untuk Semua Transaksi, DJP Tegaskan Batas Pengenaan PPN
Usai Pajak Digital Kini Qris Berpotensi Di Pertimbangkan, Menko Perekonomian: Nanti Kita Lihat
Ironi Kelistrikan Indonesia: Penghargaan Mengalir, Listrik Justru Masih Sering Padam
Api Meluas hingga 10 Hektare di Sambutan, Pemadaman Dekat TPA Terkendala Sumber Air

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 22:26 WITA

GERAM Tagih Enam Tuntutan, Pemprov Kaltim Jelaskan Karhutla hingga Gangguan Listrik

Selasa, 3 November 2026 - 23:42 WITA

Tiga Tersangka Kasus Penyadapan Presiden, Mantan Kapolri Ikut Terseret

Selasa, 3 November 2026 - 21:49 WITA

Bobol Dua ATM Usai Matikan CCTV, Pelaku Diduga Kabur ke Luar Kaltim, Polisi Kerahkan Tim Pemburu

Selasa, 3 November 2026 - 18:02 WITA

Cabai Tembus Rp 100 Ribu per Kilogram, Kemarau Sulawesi Bikin Harga Pangan Samarinda Bergejolak

Selasa, 3 November 2026 - 17:21 WITA

Pajak Digital 9 November Bukan untuk Semua Transaksi, DJP Tegaskan Batas Pengenaan PPN

Berita Terbaru