Lintasjejaring.com, Samarinda – Ada pesan sederhana yang dibawa Yusuf Hamka atau yang akrab disapa Babah Alun saat kembali menginjakkan kaki di Samarinda. Di tengah kesibukan dan jabatan yang kini diembannya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI, ia justru mengajak masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) mengingat kembali asal-usul, bekerja dengan ketulusan, dan tidak melupakan kekayaan tanah kelahiran. Selasa (03/11/2026).
Kedatangannya kali ini bukan sekadar kunjungan biasa. Yusuf Hamka mengaku memiliki dua agenda, yakni menghadiri penghormatan terakhir kepada sahabatnya, Agus Sulistyo, sekaligus menyampaikan pesan kepada masyarakat.
Namun, ada satu hal menarik dari pernyataannya. Ia menyebut kedatangannya ke Samarinda juga untuk “berburu orang-orang zalim”..
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Agenda pertama adlaah berburu orang-orang zolim,” ucap Yusuf Hamka.
Pernyataan itu disampaikan dengan gaya khas Babah Alun yang spontan dan penuh seloroh.
Di balik kalimat tersebut, ia menyampaikan pesan tentang pentingnya keberanian melawan ketidakadilan serta membangun kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
Jangan Hanya Mengkritik, Saatnya Turun Tangan
Babah Alun juga menyoroti kondisi Samarinda yang saat dikunjunginya terlihat cerah dan bebas dari kepulan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Baginya, kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari kerja bersama masyarakat dan pemerintah dalam upaya memadamkan api.
“Cuaca Samarinda hari ini sudnah terang, asap sudah tidak ada, coba lihat. Ini berkat kerja keras kita semua bersama-sama dengan pemerintah,”ujarnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan terkait dengan persoalan lingkungan. Menurutnya, persoalan lingkungan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran untuk ikut menyelesaikan persoalan yang terjadi di sekitarnya.
“Jangan nyinyir, jangan caci maki, tetapi mari kita bekerja bersama-sama. Karena semua ini tanggung jawab kita, bukan hanya tanggung jawab pemerintah,” tegasnya
Menurutnya, kepedulian terhadap daerah harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Ketika pemerintah menghadapi keterbatasan, masyarakat dapat mengambil bagian untuk membantu.
“Kalau pemerintah tidak bisa, kita bisa ikut mengisi dan mengambil peran. Nah, itulah warga negara yang baik,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kritik tetap diperlukan, tetapi tidak seharusnya berhenti pada keluhan. Ada tanggung jawab bersama untuk ikut memperbaiki keadaan.
Anak Muda Harus Berkarya, Bukan Sekadar Bersuara
Pesan Babah Alun, kemudian mengarah kepada generasi muda Kalimantan Timur. Ia berharap anak-anak muda di daerah ini tidak hanya memiliki keberanian menyampaikan pendapat, tetapi juga mampu menunjukkan kemampuan melalui karya dan tindakan.
Baginya, masa depan tidak cukup dibangun dengan suara keras. Dibutuhkan usaha, keyakinan, kejujuran, dan amanah untuk mewujudkan sesuatu.
“Saya ingin menyampaikan kepada anak-anak Kaltim, jangan hanya yang muda yang bersuara. Anak muda harus berkarya nyata,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya keyakinan dalam mengejar cita-cita.
“Harus yakin, haqqul yakin. Kita semua bisa, asalkan berusaha dengan jujur dan amanah,” lanjutnya.
Pesan itu disampaikan bukan sekadar sebagai motivasi. Yusuf Hamka turut mengaitkannya dengan perjalanan hidupnya sendiri, yang tidak pernah benar-benar terlepas dari tanah Kalimantan Timur.
Dari Hulu Mahakam hingga Wantimpres
Di balik sosoknya yang kini dikenal luas di tingkat nasional, Babah Alun mengaku memiliki ikatan emosional kuat dengan wilayah Hulu Mahakam.
Ia menyebut Long Iram, Melak, Damai, hingga Tering sebagai bagian dari tempat yang membentuk perjalanan hidupnya.
Dengan nada bangga, ia mengingatkan bahwa dirinya merupakan anak daerah yang tumbuh dengan kekayaan alam dan kehidupan masyarakat Mahakam.
“Saya ini anak Hulu Mahakam. Long Iram, Melak, Damai, Tering, itu tempat saya,” ungkapnya.
Ia bahkan mengaitkan pencapaiannya hingga dipercaya menjadi anggota delegasi Amirul Hajj Indonesia pada musim haji 2026 dan anggota Wantimpres RI dengan kenangan masa kecil di Kalimantan Timur.
“Saya bisa menjadi seperti sekarang ini, menjadi Amirul Hajj dan Wantimpres, karena banyak makan ikan yang berasal dari sana,” ucapnya.
Ia juga menyebut Sungai Mahakam sebagai bagian dari ingatan yang tidak pernah terpisahkan dari dirinya.
“Saya juga minum air Sungai Mahakam. Jadi, jangan lupa dengan asal-usul kita,” tambahnya.
Bagi Babah Alun, jabatan dan pencapaian tidak seharusnya membuat seseorang melupakan tempat dari mana ia berasal.
Ikan Lancang, Lais, dan Jelawat: Kekayaan Mahakam yang Tak Boleh Dilupakan
Menariknya, ketika berbicara mengenai Kalimantan Timur, Babah Alun tidak hanya mengingat sungai sebagai bentang alam. Ia juga mengingat ikan-ikan lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sepanjang Mahakam.
Dengan gaya bercanda, ia menyebut ikan lancang sebagai salah satu kekayaan sungai yang memiliki cerita tersendiri.
“Kalau kita sedang di sungai, kemudian saat mau makan tidak ada duit, ikan lancang sudah menunggu,” katanya sambil tertawa.
Ia menggambarkan ikan lancang sebagai ikan yang lincah dan sulit ditangkap.
“Ikan lancang itu lincah sekali. Begitu kita mau mengambilnya, dia sudah menyambar,” ujarnya.
Tidak berhenti di situ, ia juga menyebut ikan lais dan jelawat sebagai ikan lokal yang patut dibanggakan.
“Pokoknya, kalau mau pintar, jangan lupa makan ikan lancang, ikan lais sama jelawat,” tuturnya.
Seloroh tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, ada pesan tentang kekayaan pangan lokal dan identitas masyarakat yang tersimpan di dalamnya.
Penulis : Sull
Editor : Redaksi










