Ironi Kelistrikan Indonesia: Penghargaan Mengalir, Listrik Justru Masih Sering Padam

- Redaksi

Senin, 2 November 2026 - 21:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Kolase ironi kelistrikan Indonesia.

Foto: Kolase ironi kelistrikan Indonesia.

Lintasjejaring.com, Jakarta – Ada ironi di balik penghargaan sektor ketenagalistrikan Indonesia. Ketika perusahaan pendukung PLN mendapat pengakuan atas kontribusinya menjaga keandalan jaringan listrik, masyarakat di sejumlah daerah justru masih harus berhadapan dengan pemadaman bergilir. Listrik yang semestinya menjadi penopang kehidupan dan aktivitas ekonomi, belum sepenuhnya hadir sebagai layanan yang bisa diandalkan. Senin (02/11/2026)

PT Haleyora Powerindo (HPI) menjadi salah satu perusahaan yang mendapat apresiasi melalui ajang Nusantara Electrification Award (NEA) 2026. Perusahaan tersebut meraih predikat Outstanding Contribution to Electricity Network Operations & Maintenance atas kontribusinya dalam operasional dan pemeliharaan jaringan kelistrikan.

Penghargaan diserahkan Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN) sekaligus Dewan Pakar Listrik Indonesia, Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, kepada Direktur Utama PT Haleyora Powerindo, Ramaedi. Penganugerahan berlangsung di Auditorium Binakarna, Hotel Bidakara, Jakarta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ramaedi menyebut penghargaan itu sebagai bentuk pengakuan terhadap kerja keras seluruh insan perusahaan dalam menjaga operasional jaringan listrik.

“Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi dan komitmen seluruh insan HPI dalam menjaga keandalan operasional dan pemeliharaan jaringan kelistrikan,” ujar Ramaedi.

Ia berharap pencapaian tersebut mendorong perusahaan terus meningkatkan kontribusinya bagi PLN Group dan pelayanan ketenagalistrikan.

“Semoga menjadi motivasi bagi kita untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan dan PLN Group,” tambahnya.

Namun, penghargaan tersebut menghadirkan pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana berbagai upaya menjaga keandalan jaringan benar-benar tercermin dalam pelayanan listrik yang diterima masyarakat?

Ketika Masyarakat Harus Berdamai dengan Listrik Padam

Di Makassar, Sulawesi Selatan, pelanggan PLN masih harus menghadapi pemadaman bergilir pada Minggu (01/11/2026). Pemadaman dijadwalkan berlangsung sejak pagi hingga malam, dengan durasi rata-rata sekitar empat jam.

Baca Lainnya:  Tekad Dispora Kaltim Membangun Karakter Atlet Yang Mampu Bersaing di Tingkat Nasional Hingga Internasional

PLN melalui ULP Panakkukang, ULP Daya, dan ULP Mattoanging mengumumkan sejumlah wilayah yang terdampak manajemen beban selama pemeliharaan infrastruktur ketenagalistrikan.

Di wilayah Panakkukang, pemadaman dijadwalkan pukul 08.30–12.30 WITA. Sejumlah kawasan terdampak antara lain sebagian Jalan Yusuf Dg Ngawing, Jalan Raya Pendidikan, Jalan Mappala, dan sebagian Jalan Pettarani.

Gangguan pasokan tidak berhenti pada siang hari. Sejumlah wilayah bahkan dijadwalkan mengalami pemadaman mulai pukul 21.00 hingga 01.00 WITA, termasuk Jalan Teduh Bersinar dan Jalan Jipang Raya.

Kondisi serupa terjadi di wilayah pelayanan ULP Daya dan Mattoanging. Pemadaman menyasar sejumlah ruas jalan, termasuk sebagian Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Ir. Sutami, Jalan Andi Jemma, Jalan Bonto Langkasa, hingga sebagian Jalan Dr. Ratulangi.

PLN berdalih manajemen beban diperlukan karena kemampuan pasokan mengalami penurunan selama pekerjaan pemeliharaan. Langkah tersebut diklaim sebagai upaya menjaga kestabilan sistem sekaligus memastikan keselamatan petugas.

Akan tetapi, bagi pelanggan, penjelasan teknis tidak serta-merta menghilangkan dampak pemadaman. Aktivitas rumah tangga, pekerjaan, hingga usaha kecil tetap harus menanggung konsekuensinya.

Rio, warga Kecamatan Manggala, Makassar, mengaku listrik di wilayahnya padam sekitar pukul 11.00 WITA. Hingga pukul 13.00 WITA, pasokan belum juga kembali normal.

Pemadaman tersebut membuat sejumlah aktivitas yang membutuhkan listrik terpaksa tertunda. Situasinya semakin tidak nyaman karena masyarakat harus menghadapi cuaca panas musim kemarau dengan suhu sekitar 33–34 derajat Celsius.

Bahkan, PLN mengakui jadwal pemadaman dapat berubah mengikuti kondisi sistem kelistrikan Sulawesi. Artinya, pelanggan tidak hanya menghadapi ketidakpastian pasokan, tetapi juga ketidakpastian waktu kembali menikmati layanan listrik.

Kalimantan Belum Bebas dari Ancaman Pemadaman

Persoalan yang lebih panjang juga membayangi sistem kelistrikan Kalimantan. PLN mengakui pemadaman bergilir di sejumlah wilayah berpotensi berlangsung selama beberapa minggu ke depan.

Baca Lainnya:  Kolaborasi Pendidikan dan AI, Kemendikbudristek : Suatu Kemajuan Dunia Pendidikan

Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Kaltimra, Zailla Mairofiah, menjelaskan keterbatasan pasokan dipicu gangguan pada sejumlah pembangkit. Pada saat bersamaan, beberapa pembangkit lainnya masih menjalani pemeliharaan.

Situasi semakin berat setelah dua tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV jalur Talisayan–Maloy roboh pada Minggu (25/10/2026) lalu.

Menurut penjelasan PLN, robohnya tower tersebut dipicu pohon tumbang akibat aktivitas pembukaan lahan oleh warga dengan cara dibakar.

Sejumlah pembangkit yang masih dalam proses pemulihan meliputi PLTGU Senipah, PLTU Indoeka, dan PLTU Asam Asam. Sementara itu, PLTU GPK berkapasitas 100 megawatt (MW) masih menjalani pemeliharaan.

Kombinasi gangguan pembangkit dan transmisi membuat kemampuan pasokan belum mampu memenuhi kebutuhan sistem secara optimal. PLN pun harus membatasi dan mengatur distribusi listrik agar sistem tetap stabil.

Situasi ini memperlihatkan betapa rentannya pasokan listrik ketika beberapa komponen penting dalam sistem ketenagalistrikan mengalami gangguan secara bersamaan.

Bagi masyarakat Kalimantan, persoalannya bukan lagi sekadar pemadaman sesaat. Ketika PLN sendiri memperkirakan kondisi tersebut dapat berlangsung berminggu-minggu, ketidakpastian pasokan menjadi beban tambahan bagi rumah tangga, pelaku usaha, dan pelayanan publik.

Tambahan 278 MW, tetapi Pemulihan Masih Menunggu

Untuk mengatasi persoalan pasokan, PLN menyiapkan tambahan kapasitas pembangkit sewa sebesar 278 MW melalui dua tahap. Tahap pertama mencapai 158 MW, sedangkan tahap kedua sebesar 120 MW.

Sejumlah unit sudah mulai beroperasi, di antaranya Pembangkit Trisakti berkapasitas 20 MW dan Pembangkit Batulicin sebesar 25 MW.

Dua unit pembangkit Batulicin lainnya dengan total kapasitas 15 MW masih dalam proses pengiriman dan ditargetkan beroperasi pada awal November 2026.

PLN juga menargetkan perbaikan tower SUTT 150 kV Talisayan–Maloy selesai pada periode yang sama. Sementara tambahan kapasitas lainnya akan masuk secara bertahap hingga Desember 2026.

Baca Lainnya:  Rocky Gerung Resmi Jadi Wantimpres Prabowo, Tegaskan  Tetap 'Radical Break'

Adapun pembangkit sewa tahap kedua berkapasitas 120 MW ditargetkan mulai beroperasi pada akhir Desember 2026.

Di tengah berbagai rencana tersebut, masyarakat masih diminta menghemat penggunaan listrik, terutama saat beban puncak. PLN juga menyampaikan perkembangan penanganan melalui PLN Mobile, Contact Center 123, dan kanal komunikasi resmi perusahaan.

Zailla menegaskan komitmen perusahaan untuk mempercepat pemulihan sistem kelistrikan.

“Kami berkomitmen untuk terus bekerja keras mempercepat pemulihan sistem kelistrikan dan menyampaikan perkembangan penanganannya secara terbuka kepada masyarakat,” demikian keterangannya.

Penghargaan Tidak Boleh Mengalahkan Kewajiban Pelayanan

Penghargaan bagi perusahaan yang berkontribusi dalam pemeliharaan jaringan tentu patut diapresiasi. Namun, prestasi korporasi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan sektor ketenagalistrikan.

Keandalan listrik seharusnya tidak hanya terlihat dalam seremoni penghargaan, laporan kinerja, atau besarnya kapasitas pembangkit yang diumumkan. Ukuran paling nyata justru berada di rumah pelanggan, tempat usaha, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas publik yang membutuhkan listrik tanpa gangguan.

Ketika masyarakat masih harus menyesuaikan jadwal aktivitas dengan pemadaman, ada pekerjaan besar yang belum selesai dalam sistem pelayanan kelistrikan.

Persoalannya bukan semata-mata apakah PLN memiliki pembangkit, jaringan, atau perusahaan pendukung yang berprestasi. Lebih mendasar dari itu, apakah seluruh infrastruktur tersebut sudah mampu menjamin pasokan listrik yang stabil dan merata?

Sebab, bagi pelanggan, penghargaan setinggi apa pun tidak bisa menggantikan listrik yang padam. Mereka tidak membutuhkan seremoni untuk membuktikan keandalan, melainkan kepastian bahwa sakelar yang dinyalakan akan benar-benar menghadirkan listrik.

Di situlah ironi kelistrikan Indonesia: prestasi terus mendapat panggung, sementara sebagian masyarakat masih harus menunggu listrik kembali menyala.

Penulis : Sull

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tiga Tersangka Kasus Penyadapan Presiden, Mantan Kapolri Ikut Terseret
Pajak Digital 9 November Bukan untuk Semua Transaksi, DJP Tegaskan Batas Pengenaan PPN
Babah Alun Pulang ke ‘Mahakam’: Pesan untuk Anak Muda Kaltim, Jangan Hanya Bersuara, tetapi Berkarya
Usai Pajak Digital Kini Qris Berpotensi Di Pertimbangkan, Menko Perekonomian: Nanti Kita Lihat
Pajak Pedagang Online Mulai November, Shopee hingga Tokopedia Jadi Pemungut PPh
Pembalut Masih Kena PPN 11 Persen?, DJP Jelaskan Alasan Belum Bebas Pajak
Pemerintah Siapkan Pajak Digital 9 November, Bank Hingga Shopee Diminta Setor Pajak
Dinkes Samarinda Siagakan Puskesmas Palaran dan Makroman Hadapi Ancaman ISPA akibat Karhutla

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 23:42 WITA

Tiga Tersangka Kasus Penyadapan Presiden, Mantan Kapolri Ikut Terseret

Selasa, 3 November 2026 - 17:21 WITA

Pajak Digital 9 November Bukan untuk Semua Transaksi, DJP Tegaskan Batas Pengenaan PPN

Selasa, 3 November 2026 - 15:43 WITA

Babah Alun Pulang ke ‘Mahakam’: Pesan untuk Anak Muda Kaltim, Jangan Hanya Bersuara, tetapi Berkarya

Selasa, 3 November 2026 - 14:22 WITA

Usai Pajak Digital Kini Qris Berpotensi Di Pertimbangkan, Menko Perekonomian: Nanti Kita Lihat

Senin, 2 November 2026 - 21:11 WITA

Ironi Kelistrikan Indonesia: Penghargaan Mengalir, Listrik Justru Masih Sering Padam

Berita Terbaru