Lintasjejaring.com, Penajam – Peralihan dari bangku pendidikan menuju dunia kerja masih menjadi tantangan bagi ribuan warga Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Kelompok pencari kerja pemula atau fresh graduate mendominasi pengangguran, menunjukkan bahwa memperoleh pekerjaan pertama masih menjadi persoalan bagi sebagian lulusan sekolah maupun perguruan tinggi. Senin (26/10/2026).
Data Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) PPU mencatat, 3.997 orang menganggur per September 2026.
Angka tersebut belum berubah dari pendataan sebelumnya. Kepala Bidang Penempatan, Pelatihan Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (P2NAKERTRANS) Disnakertrans PPU, Eko Yulianto, mengatakan sebagian besar penganggur yang tercatat merupakan lulusan baru yang belum mendapatkan pekerjaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Per September, jumlah penganggur yang tercatat di data kami sebanyak 3.997 orang. Sebagian besar didominasi pencari kerja pemula atau fresh graduate,” papar Eko.
Peluang Kerja Ikut Dipengaruhi Aktivitas Pembangunan
Persoalan pengangguran tidak hanya berkaitan dengan jumlah lulusan yang memasuki pasar kerja. Ketersediaan kesempatan kerja juga menjadi faktor penting, terutama ketika aktivitas ekonomi dan pembangunan di suatu wilayah mengalami perubahan.
Eko menilai berkurangnya kegiatan pembangunan di sekitar kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) turut memengaruhi peluang masyarakat untuk memperoleh pekerjaan. Aktivitas pembangunan yang sebelumnya membuka kesempatan kerja bagi masyarakat kini tidak lagi sebanyak periode sebelumnya.
“Sekarang kegiatan pembangunannya sudah tidak sebanyak sebelumnya. Kondisi itu tentu berpengaruh terhadap peluang masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan,” ujarnya.
Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi PPU. Di satu sisi, jumlah pencari kerja terus membutuhkan ruang untuk masuk ke dunia kerja. Di sisi lain, peluang yang tersedia perlu menyesuaikan dengan perkembangan kegiatan ekonomi dan kebutuhan tenaga kerja.
Sebagian Besar Penganggur Belum Pernah Bekerja
Gambaran mengenai kondisi ketenagakerjaan PPU juga terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Pada 2025, BPS mencatat jumlah pengangguran terbuka mencapai 5.073 orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,26 persen.
Dari jumlah tersebut, sekitar 57 persen merupakan penduduk yang belum pernah memiliki pengalaman kerja. Artinya, lebih dari separuh penganggur dalam pendataan tersebut berasal dari kelompok yang belum pernah masuk ke dunia kerja.
Kepala BPS PPU, Suko Haryono, sebelumnya menjelaskan bahwa kelompok tanpa pengalaman kerja menjadi bagian terbesar dari pengangguran di daerah tersebut.
“Sebanyak 57 persen penganggur belum pernah memiliki pengalaman kerja sama sekali,” ungkap Kepala BPS PPU, Suko Haryono.
Kelompok tersebut mayoritas terdiri atas pencari kerja pemula, termasuk lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi. Kondisi ini memperlihatkan adanya tantangan pada tahap awal perjalanan karier, yakni ketika lulusan pendidikan harus bersaing mendapatkan kesempatan kerja pertama.
Dengan demikian, persoalan pengangguran tidak semata-mata menyangkut ketersediaan lowongan. Kesesuaian keterampilan, pengalaman, dan kebutuhan dunia kerja juga menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi pencari kerja pemula.
Data Pengangguran dan Pencari Kerja Berbeda
Di sisi lain, angka pengangguran terbuka versi BPS tidak sama dengan jumlah pencari kerja yang tercatat di Disnakertrans PPU. Hingga Desember 2025, Disnakertrans mencatat sebanyak 2.327 pencari kerja terdaftar. Jumlah tersebut berselisih 2.746 orang dibandingkan angka pengangguran terbuka yang dicatat BPS pada 2025.
Perbedaan itu bukan berarti salah satu pendataan keliru. Kedua instansi menggunakan metode pengumpulan data dengan cakupan dan tujuan berbeda.
BPS mengukur pengangguran melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) berbasis sampel rumah tangga. Sementara itu, Disnakertrans mencatat masyarakat yang secara langsung mendaftarkan diri sebagai pencari kerja melalui layanan dinas, termasuk untuk memperoleh kartu pencari kerja atau AK-1.
“Tidak semua penganggur tercatat sebagai pencari kerja di Disnakertrans. Begitu juga sebaliknya, data pencari kerja yang terdaftar di dinas tidak bisa mewakili seluruh jumlah pengangguran di PPU karena metode pendataannya berbeda,” pungkasnya.
Perbedaan metode tersebut penting dipahami agar angka dari kedua instansi tidak dibandingkan secara langsung tanpa melihat dasar pendataannya.
Besarnya kelompok penganggur yang belum memiliki pengalaman kerja menjadi salah satu gambaran tantangan ketenagakerjaan di PPU.
“Penyerapan tenaga kerja tidak cukup hanya dengan membuka kesempatan kerja. Kesiapan dan keterampilan para lulusan juga perlu diperkuat agar mereka mampu bersaing dan memenuhi kebutuhan dunia kerja,” tutupnya.
(Mat/ADV)









