Home / PPU

Krisis Air Baku Lumpuhkan Distribusi Air Bersih di Penajam, Warga Diminta Bersiap Hadapi Kemarau Panjang

- Redaksi

Minggu, 6 September 2026 - 17:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Potret Tangki Air. (Ist)

Foto: Potret Tangki Air. (Ist)

Lintasjejaring.com, Penajam – Kemarau berkepanjangan yang melanda Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mulai menimbulkan dampak serius terhadap layanan dasar masyarakat. Menyusutnya cadangan air baku di kawasan Lawe-Lawe memaksa Perusahaan Umum Daerah Air Minum Danum Taka (AMDT) menghentikan operasional distribusi air bersih dari instalasi pengolahan utama yang selama ini melayani sebagian besar wilayah Kecamatan Penajam. Minggu (06/09/2026).

Penghentian layanan dilakukan setelah ketersediaan air baku tidak lagi memenuhi syarat untuk diproses menjadi air bersih. Kondisi tersebut menyebabkan ribuan pelanggan harus menghadapi gangguan pasokan hingga situasi memungkinkan instalasi kembali beroperasi.

Direktur Perumda AMDT PPU Abdul Rasyid mengatakan keputusan penghentian layanan merupakan langkah yang tidak bisa dihindari karena kondisi sumber air terus mengalami penurunan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saat ini stok air baku benar-benar berada pada titik yang sangat kritis. Kami tidak memiliki pilihan lain selain menghentikan sementara proses produksi agar tidak menimbulkan kerusakan pada sistem pengolahan,” kata Abdul Rasyid.

Menurutnya, seluruh tim teknis telah diterjunkan untuk mencari sumber air alternatif di sekitar kawasan rawa yang berada di sekitar instalasi pengolahan air Lawe-Lawe.

“Kami masih melakukan pencarian sumber air yang memungkinkan untuk dimanfaatkan. Setiap hari tim berada di lapangan memantau kondisi rawa dan titik-titik yang berpotensi menjadi sumber tambahan air baku,” ujarnya.

Wilayah yang terdampak meliputi kawasan padat penduduk mulai dari Petung hingga kawasan pesisir Pelabuhan Penajam. Masyarakat yang selama ini bergantung pada pasokan dari instalasi berkapasitas 200 liter per detik tersebut kini harus menghemat penggunaan air sembari menunggu penanganan darurat.

Baca Juga:  Pemkab PPU Salurkan Bantuan Pangan untuk 200 Balita, Percepat Penurunan Stunting

Abdul Rasyid menjelaskan bahwa masalah utama bukan hanya berkurangnya volume air, tetapi juga menurunnya kualitas air yang tersisa di sumber baku.

“Kalau debit air terus turun, kandungan lumpur dan sedimen akan semakin tinggi. Itu berisiko merusak pompa, jaringan perpipaan, hingga peralatan pengolahan yang nilainya sangat besar,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin mengambil risiko dengan tetap mengoperasikan instalasi dalam kondisi yang tidak memenuhi standar teknis.

“Kami harus menjaga agar infrastruktur tetap aman. Jika dipaksakan beroperasi, dampaknya bisa lebih panjang karena peralatan pengolahan berpotensi mengalami kerusakan,” tambahnya.

Meski layanan utama dihentikan, AMDT masih mengoperasikan instalasi sumur dalam dengan kapasitas terbatas. Produksi dari fasilitas tersebut diprioritaskan untuk menjaga cadangan air pada reservoar sebagai bagian dari langkah antisipasi kebutuhan darurat.

“Kami masih mengaktifkan sumur dalam yang tersedia, tetapi kapasitasnya sangat terbatas. Produksi air saat ini lebih difokuskan untuk menjaga stok cadangan daripada mendistribusikannya secara luas,” terang Rasyid.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten PPU telah menggelar koordinasi lintas instansi guna memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap dapat dipenuhi selama masa krisis.

Baca Juga:  Hadapi Ancaman Karhutla, Pemkab PPU Perkuat Deteksi Dini hingga Desa

Berdasarkan hasil rapat yang dipimpin Bupati PPU Mudyat Noor, distribusi bantuan air bersih akan dikoordinasikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Bupati Mudyat Noor meminta seluruh perangkat daerah bergerak cepat agar dampak kekeringan tidak semakin meluas.

“Prioritas utama kita adalah memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses air bersih. Semua instansi terkait harus bersinergi dan bergerak cepat,” tegas Mudyat.

Ia juga meminta pemerintah desa dan kelurahan aktif mendata kebutuhan warga sehingga penyaluran bantuan dapat dilakukan secara tepat sasaran.

“Kami ingin distribusi air berjalan efektif. Karena itu pendataan kebutuhan warga menjadi sangat penting agar bantuan yang dikirim benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan,” ujarnya.

Sementara itu, BPBD PPU menyiapkan armada tangki air untuk melayani permintaan masyarakat. Penyaluran dilakukan melalui titik distribusi yang telah ditentukan bersama pemerintah desa dan kelurahan.

Baca Juga:  Komisi IV DPRD Samarinda Soroti Perbedaan Data Stunting dan Posyandu, Minta Ego Sektoral Dihapus

Sekretaris Daerah PPU Tohar mengatakan mekanisme distribusi sengaja dilakukan secara terpusat agar pelayanan dapat menjangkau lebih banyak warga.

“Pengiriman dilakukan ke titik kumpul yang telah disepakati. Dengan cara ini distribusi menjadi lebih efisien dan bisa menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan,” kata Tohar.

Ia mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan kebutuhan air bersih melalui pemerintah setempat agar dapat dimasukkan dalam jadwal distribusi.

“Silakan berkoordinasi dengan kelurahan atau desa masing-masing. Semua laporan akan diteruskan kepada tim penanganan sehingga bantuan dapat segera dijadwalkan,” ucapnya.

Hingga saat ini, sumber pasokan untuk bantuan darurat masih mengandalkan unit-unit produksi yang beroperasi di wilayah Waru, Maridan, dan Sepaku. Namun pemerintah daerah mengakui bahwa keberlanjutan pasokan tetap bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan sumber air baku.

“Kami terus memantau perkembangan di lapangan setiap hari. Harapan kami tentu hujan segera turun sehingga debit air kembali meningkat dan pelayanan kepada masyarakat bisa dipulihkan secara bertahap,” pungkas Abdul Rasyid.

Baca berita lengkapnya: Stok Air Baku Mengering, Layanan Air Bersih di Penajam Paser Utara Dihentikan Total

Penulis : Sultan

Editor : Redaksi

Sumber Berita : mediaindonesia.com

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kemarau Panjang Picu Produksi Air Bersih PPU Anjlok 95 Persen, Bendungan Waru Jadi Alternatif Stok Air Bersih
Karhutla Kembali Membara di Sepaku, Tim Gabungan Kejar Titik Api Hingga kerahkan Caracal
Kualitas Udara PPU Memburuk, Mudyat Noor: Kiriman Dari Paser
Tiga Pilar PPU Siaga Karhutla, Personel hingga Kecamatan Dilibatkan
Hadapi Ancaman Karhutla, Pemkab PPU Perkuat Deteksi Dini hingga Desa
Kemarau di PPU, Mudyat Noor Ingatkan Warga Jangan Bakar Lahan
Karhutla Meningkat di PPU, 79 Kasus Ditangani Tim Gabungan hingga Akhir Agustus
PPU Kejar Pemerataan Pendidikan, SLB dan Infrastruktur Sekolah Jadi Prioritas
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 17:36 WITA

Kemarau Panjang Picu Produksi Air Bersih PPU Anjlok 95 Persen, Bendungan Waru Jadi Alternatif Stok Air Bersih

Minggu, 6 September 2026 - 17:16 WITA

Krisis Air Baku Lumpuhkan Distribusi Air Bersih di Penajam, Warga Diminta Bersiap Hadapi Kemarau Panjang

Sabtu, 5 September 2026 - 16:46 WITA

Karhutla Kembali Membara di Sepaku, Tim Gabungan Kejar Titik Api Hingga kerahkan Caracal

Kamis, 3 September 2026 - 14:41 WITA

Kualitas Udara PPU Memburuk, Mudyat Noor: Kiriman Dari Paser

Rabu, 2 September 2026 - 14:11 WITA

Tiga Pilar PPU Siaga Karhutla, Personel hingga Kecamatan Dilibatkan

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi IAIN Tana Tidung. (MetaAI)

Tana Tidung

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:32 WITA