Lintasjejaring.com, Samarinda – Penanganan kebakaran hutan, lahan, dan kebun (karhutla) di Kalimantan Timur tidak selalu berjalan mudah. Luasnya wilayah serta kondisi medan di sejumlah daerah menjadi tantangan tersendiri bagi petugas dalam menjangkau titik-titik kebakaran. Kamis (13/08/2026).
Beberapa lokasi karhutla bahkan berada jauh dari kawasan permukiman dan akses jalan. Kondisi geografis tersebut membuat mobilisasi personel maupun kendaraan pemadam tidak dapat dilakukan dengan cepat di semua wilayah.
Di tengah tantangan itu, BPBD Kalimantan Timur terus meningkatkan koordinasi dengan BPBD kabupaten dan kota untuk memantau perkembangan kejadian karhutla di daerah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan karakter wilayah Kalimantan Timur menjadi salah satu faktor yang memengaruhi proses penanganan kebakaran di lapangan.
“Sejumlah titik kebakaran berada jauh dari permukiman dan sulit dijangkau kendaraan pemadam, terutama di wilayah dengan bentang geografis luas seperti Berau dan Kutai Barat,” ujar Buyung.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat sistem pelaporan dan koordinasi antarwilayah menjadi sangat penting. Informasi dari BPBD kabupaten dan kota menjadi dasar untuk mengetahui perkembangan serta menentukan langkah penanganan yang diperlukan.
“Memang sampai saat ini kendalanya adalah luas wilayah. Kita hanya bisa memantau dan menerima laporan dari BPBD kabupaten/kota, kemudian melihat apakah bisa ditangani atau tidak,” katanya.
242 Kejadian Sepanjang Januari-Agustus
Tantangan geografis tersebut muncul di tengah tingginya jumlah kejadian karhutla di Kalimantan Timur.
Data BPBD Kaltim mencatat sebanyak 242 kejadian kebakaran hutan, lahan, dan kebun terjadi sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Lonjakan cukup signifikan terlihat pada Agustus. Dalam periode tersebut, tercatat 118 kejadian karhutla di berbagai wilayah Kaltim. Paser menjadi daerah dengan jumlah kejadian tertinggi selama Agustus dengan 31 kasus. Selanjutnya Kutai Barat mencatat 20 kejadian, Berau 17 kejadian, dan Samarinda sebanyak 13 kejadian.
Sementara jika dihitung secara kumulatif sejak Januari, Kutai Barat menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 40 kasus. Paser dan Samarinda menyusul dengan masing-masing 39 kejadian.
Kondisi tersebut membuat BPBD Kaltim tetap menempatkan penanganan karhutla sebagai salah satu perhatian utama, khususnya dalam memastikan setiap laporan dari daerah dapat segera dipantau.
Kutai Barat Catat Dampak Terluas
Selain tingginya jumlah kejadian, Kutai Barat juga mencatat luasan kawasan terdampak kebakaran terbesar di Kalimantan Timur.
Total area yang terbakar mencapai sekitar 226 hektare, yang terdiri dari sekitar 193 hektare lahan, 30 hektare kawasan hutan, dan tiga hektare area kebun.
“Untuk luasnya, yang paling besar ada di Kutai Barat, itu terdiri dari kebakaran lahan, hutan dan kebun,” ucap Buyung.
Namun demikian, BPBD Kaltim masih melakukan sinkronisasi data bersama instansi terkait, terutama di sektor kehutanan dan perkebunan.
Penyelarasan data diperlukan untuk memastikan jumlah kejadian serta luasan kawasan terdampak dapat tergambar secara akurat.
Pengawasan Tetap Diperkuat
Buyung menegaskan, keterbatasan akses dan medan yang sulit tidak membuat upaya penanganan karhutla berkurang.
BPBD Kaltim tetap mengandalkan koordinasi bersama pemerintah kabupaten dan kota serta berbagai unsur terkait untuk melakukan pemantauan terhadap perkembangan situasi.
Setiap kejadian yang dilaporkan akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan.
Dengan lebih dari seratus kejadian tercatat hanya dalam Agustus, BPBD Kaltim menilai kewaspadaan terhadap ancaman karhutla harus terus dijaga.
Tantangan geografis memang menjadi persoalan di lapangan, namun koordinasi antardaerah diharapkan dapat memastikan setiap kejadian kebakaran mendapat penanganan secepat mungkin.
Diharapkan, masyarakat dapat lebih ‘awas’ dan memperhatikan potensi terjadinya titik api baru di sekitar lingkungan.
Penulis : Zull
Editor : Redaksi









