LintasJejaring.com, SAMARINDA — Bagi masyarakat yang ingin menikmati suasana alam tanpa harus keluar jauh dari Kota Samarinda, Tebing Lonceng di Kelurahan Mangkupalas, Kecamatan Samarinda Seberang, bisa menjadi pilihan menarik untuk dikunjungi.
Tebing Lonceng di Kelurahan Mangkupalas, Samarinda Seberang, menjadi destinasi wisata alam yang menawarkan pemandangan Kota Samarinda dan Sungai Mahakam dari ketinggian, sekaligus berkembang sebagai tempat rekreasi yang membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Tebing Lonceng yang berada di ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut (MDPL), kawasan wisata ini menawarkan pemandangan luas Kota Samarinda, Sungai Mahakam, hingga hamparan wilayah Samarinda Seberang dari atas ketinggian.
Pengelola Tebing Lonceng, Rusdi mengatakan, daya tarik utama tempat ini adalah panorama yang bisa dinikmati hampir dari berbagai arah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau bicara Tebing Lonceng, salah satu yang menarik adalah view-nya. Dari sisi selatan kita bisa melihat arah muara sungai, dari utara bisa melihat Kota Samarinda dan kawasan seberang. Kalau cuaca bagus, pemandangannya sangat indah,” ujarnya.
Selain menawarkan pemandangan alam, Tebing Lonceng juga mulai dilengkapi berbagai fasilitas untuk kenyamanan pengunjung. Kawasan ini kini memiliki area kuliner, musala, toilet, kafe, vila, hingga sejumlah spot foto yang menarik.
Tempat yang dulunya hanya menjadi lokasi warga untuk bermain dan menikmati suasana alam tersebut, perlahan berkembang menjadi destinasi wisata yang mulai dikenal masyarakat.
Rusdi menjelaskan, pengembangan Tebing Lonceng mulai dirintis sejak 2016 dan terus dilakukan hingga saat ini.
“Awalnya hanya tempat warga datang untuk menikmati suasana, jogging, dan melihat pemandangan. Sekarang sudah ada fasilitas yang mendukung agar pengunjung lebih nyaman,” katanya.
Tidak hanya menjadi tempat rekreasi, keberadaan Tebing Lonceng juga memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Warga mulai terlibat melalui usaha kuliner, penyediaan parkir, pelayanan wisata, hingga menitipkan produk UMKM lokal.
“Ketika pengunjung datang, masyarakat sekitar ikut mendapatkan manfaat. Ada yang berjualan makanan, mengelola parkir, sampai membantu operasional tempat wisata,” jelasnya.
Selain keindahan alam, Tebing Lonceng juga menyimpan cerita sejarah yang membuat kawasan ini semakin menarik. Nama Tebing Lonceng dipercaya berkaitan dengan kisah masa lalu ketika kawasan tersebut menjadi titik strategis untuk mengawasi wilayah Sungai Mahakam.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, keberadaan lonceng dahulu digunakan sebagai tanda peringatan apabila terdapat ancaman dari arah sungai.
“Dulu kawasan ini dianggap strategis untuk memantau pergerakan kapal. Kalau ada sesuatu yang dianggap berbahaya, lonceng dibunyikan sebagai tanda bagi masyarakat,” tutur Rusdi.
Meski memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata, Rusdi berharap adanya dukungan lebih dari pemerintah daerah, terutama dalam hal promosi, fasilitas penerangan, akses, dan mitigasi kawasan.
Salah satu perhatian utama adalah kondisi tebing yang perlu mendapatkan pengawasan karena terdapat beberapa titik yang rawan mengalami longsor.
“Kita berharap pemerintah bisa melihat ini sebagai potensi wisata Samarinda. Karena Samarinda tidak hanya punya sungai, tapi juga punya tempat dengan pemandangan dari ketinggian seperti ini,” katanya.
Ke depan, ia berharap Tebing Lonceng dapat terhubung dengan destinasi wisata lain di Samarinda Seberang seperti Kampung Ketupat, Kampung Tenun, Rumah Tua, dan Masjid Tua sehingga menjadi satu rangkaian wisata budaya dan alam.
Dengan panorama kota dari atas bukit, suasana yang masih alami, serta cerita sejarah yang melekat, Tebing Lonceng menawarkan pengalaman berbeda bagi warga maupun wisatawan yang ingin menikmati sisi lain Kota Samarinda.
(Kinka)









