Menyelesaikan Konflik Wahabisme Lingkungan: Aksiologi Tambang

- Redaksi

Sabtu, 21 Juni 2025 - 05:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Muhamad Fajri, M.Pd
Dosen Filsafat Pendidikan Islam UINSI Samarinda
Ketua Lakpesdam PCNU Samarinda

Persoalan rencana pembangunan ekonomi negara dengan pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia di berbagai wilayah Negara Republik Indonesia, maka perlu kita teliti menggunakan pendekatan lebih mendalam dari Islam.

“inni jaa’lun fiil Ardhi khalifah” adalah bukti bahwa memang manusia diciptakan untuk mengurus bumi, baik yang ada di dalamnya maupun yang ada di permukaannya, termasuk manusia.

Manusia menjadi sumber sentral semua kejadian pada bumi, sehingga selalu identik dengan pesan liqawmi yatafakkarun, hasil dari pemikiran tentunya dibuktikan dengan tindakan pemanfaatan, namun catatannya ialah dampak dari pemanfaatan hasil bumi ini harus didisiplinkan.

Mulai dari survei lokasi, pengolahan, hingga manajemen lingkungannya, seperti jaminan reklamasi (Jamrek) yang berkesinambungan dengan perluasan penambangan. Jika hal demikian di lakukan, maka dapat dipastikan adanya keberkahan, sekaligus bukti bahwa manusia telah menjalankan amanahnya (Alahzab 33:72).

Baca Juga:  Opini Mahasiswa FUAD UINSI Samarinda Tentang Ancaman Banjir Kaltim : Belajar Dari Sumatra

Inilah yang dimaksud oleh Ulil Abshar, untuk tidak memahami tambang sebagai kejahatan, tambang itu boleh sebagai alat pemanfaatan alam, namun harus tetap memperhatikan kepentingan lain, seperti ekosistem alam sekitar dan seterusnya.

Dalam konteks Raja Ampat memang sangat pelik, dikatakan memiliki sumber alam yang perlu dimanfaatkan, namun juga sebagai icon kemurnian ekosistem yang perlu dilestarikan.

Baca Juga:  Fenomena Banjir Berulang Di Samarinda Dan Kutai Kartanegara : Tantangan Lingkungan Dan Krisis Komunikasi Antara Pemerintah & Masyarakat

Persoalan ini perlu dilakukan diskusi panjang, sampai mendapatkan simpulan kebijakan yang representatif terhadap kepelikan tersebut.

Kesempatan ini berupa tawaran Trans-Estetika yang konkret, istilah Wahabisme bukan persoalan utama. Sejatinya sebagai orang berilmu, fokusnya ialah bahwa alam harus bermanfaat dan dapat dimanfaatkan terhadap kehidupan, jadi keberadaannya bermanfaat, hasil pengolahannya pun bermanfaat, tidak ada pihak atau entitas yang dirugikan.

Penulis : Muhammad Fajri, M. Pd

Editor : Redaksi Lintasjejaring

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

September Membuat Sejarah Kelam Baru? Masih Layakkah Kalimantan Disebut Paru-Paru Dunia?
Maulid Nabi: Adilkah Jika Hanya Mencintai Secara Spiritual?
81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia
Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu
Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar
UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur
IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?
Dinamika Sosialisasi Beasiswa Gratispol 2026 Tahap 1

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 15:45 WITA

September Membuat Sejarah Kelam Baru? Masih Layakkah Kalimantan Disebut Paru-Paru Dunia?

Selasa, 15 September 2026 - 16:32 WITA

Maulid Nabi: Adilkah Jika Hanya Mencintai Secara Spiritual?

Senin, 17 Agustus 2026 - 00:37 WITA

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:19 WITA

Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:49 WITA

Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar

Berita Terbaru