Oleh : Adeliya Safitri
UMKM dan pasar tradisional merupakan denyut ekonomi masyarakat Kalimantan Timur. Namun di tengah gencarnya narasi transformasi digital, banyak pelaku UMKM justru tertinggal bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena kegagalan komunikasi pemberdayaan.
Program pelatihan, bantuan, dan digitalisasi UMKM sering kali disampaikan melalui saluran yang tidak menjangkau pelaku usaha kecil secara langsung. Informasi disebarkan dengan bahasa teknis, waktu terbatas, dan tanpa pendampingan berkelanjutan. Dalam perspektif komunikasi pembangunan, hal ini menunjukkan lemahnya penyampaian pesan yang berorientasi pada komunikan.
Alih-alih membangun dialog, komunikasi kebijakan UMKM cenderung bersifat satu arah. Pelaku usaha hanya diminta menyesuaikan diri dengan sistem baru tanpa penjelasan yang kontekstual. Akibatnya, digitalisasi dipersepsikan sebagai beban, bukan peluang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pasar tradisional pun sering luput dari perhatian komunikasi publik. Padahal, mereka memiliki pola komunikasi sosial yang kuat dan berpotensi menjadi ruang edukasi ekonomi yang efektif jika dikelola dengan pendekatan yang tepat.
Pemberdayaan UMKM sejatinya bukan hanya soal modal dan teknologi, tetapi soal bagaimana pesan pembangunan dipahami dan diterima. Ketika komunikasi dilakukan secara manusiawi, partisipatif, dan berkelanjutan, UMKM tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh bersama perubahan.
#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM









