Kronologi Tak Sinkron, Kematian Siswa Di Samarinda Bongkar Retaknya Sistem Perlindungan Sosial

- Redaksi

Kamis, 30 April 2026 - 19:40 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kaltim, Anik Nurul Aini, 

Foto : Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kaltim, Anik Nurul Aini, 

LintasJejaring.com, SAMARINDA – Kematian Mandala Risky Syahputra, siswa kelas XI Pemasaran 2 SMKN 4 Kota Samarinda, bukan sekadar peristiwa duka. Perbedaan kronologi yang muncul ke publik justru membuka lapisan masalah yang lebih dalam, terkait rapuhnya sistem perlindungan sosial bagi warga rentan.

Informasi yang berkembang tidak hanya berbeda, tapi saling bertolak belakang. Di satu sisi, pemerintah menyebutkan bahwa adanya miskomunikasi. Di sisi lain, keluarga korban menghadirkan cerita yang tidak sepenuhnya sejalan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kaltim, Anik Nurul Aini, menegaskan bahwa narasi yang beredar di masyarakat tidak sepenuhnya akurat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ada perbedaan cerita dari hasil konfirmasi kami. Tidak semuanya seperti yang berkembang di media sosial,” ujarnya.

Salah satu isu yang ramai diperbincangkan adalah dugaan korban meninggal akibat sepatu sempit. Hal itu dibantah pihak DP3A.

“Ukuran sepatu 43. Jadi tidak tepat jika dikaitkan dengan kesempitan,” tegasnya.

Namun pernyataan itu berseberangan dengan kesaksian ibu korban, Ratnasari. Ia menyampaikan jika anaknya sempat mengeluhkan rasa sakit saat menggunakan sepatu.

“Dia bilang sudah tidak nyaman, bahkan sampai minta diganjal supaya tidak sakit,” ungkapnya.

Di tengah tarik-menarik informasi tersebut, muncul fakta lain yang justru lebih krusial. Korban diketahui menjalani aktivitas magang mandiri selama libur sekolah, dengan durasi kerja yang menuntut berdiri dalam waktu lama.

Baca Juga:  HMPS KPI UINSI Samarinda Sukses Gelar Pelatihan Bahasa Isyarat

DP3A menduga kelelahan menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi korban. Namun yang paling disorot bukan hanya penyebab, melainkan absennya penanganan medis sejak awal.

“Kenapa tidak dibawa ke fasilitas kesehatan, itu yang kami sesalkan,” kata Anik.

Penelusuran lebih lanjut mengungkap bahwa BPJS Kesehatan keluarga korban dalam kondisi tidak aktif, dengan tunggakan sekitar Rp2,5 juta. Fakta ini mempertegas adanya hambatan akses layanan kesehatan bagi keluarga kurang mampu.

Baca Juga:  Pemprov Kaltim Kirim 68 Ton Beras Ke Mahakam Ulu, Besok Tambah Pasokan

Tak berhenti di situ, komunikasi antara pihak sekolah dan keluarga juga disebut tidak berjalan optimal. Bahkan ada informasi yang tidak sepenuhnya dibuka ke publik.

“Ada hal yang tidak disampaikan secara utuh, itu yang membuat informasi jadi terpotong-potong,” jelasnya.

Meski demikian, pihak sekolah disebut tetap berupaya membantu, mulai dari penanganan awal hingga proses pemakaman.

Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim, Rina Zainun, membenarkan keterlibatan sekolah, termasuk menyediakan fasilitas untuk salat jenazah karena kondisi rumah korban yang terbatas.

Namun menurut Rina, polemik penyebab kematian seharusnya tidak menutupi persoalan yang jauh lebih besar, lemahnya sistem pendataan dan perlindungan sosial.

Ia menyoroti peran Rukun Tetangga (RT) yang seharusnya menjadi garda terdepan, dalam memastikan warga rentan tidak terlewat dari sistem bantuan.

“Tidak boleh ada lagi istilah memilah warga. Selama dia tinggal di situ, itu tanggung jawab pendataan,” tegasnya.

Rina juga mengungkap, bahwa masih banyak anak usia sekolah di Kalimantan Timur yang belum terjangkau pendidikan, akibat faktor ekonomi dan minimnya akses.

Baca Juga:  Menag Kecam Penembakan di New Zealand: Tak Berperikemanusiaan!

Di sisi lain, keluarga korban mengaku sempat kesulitan mendapatkan ambulans saat kondisi darurat. Permintaan bantuan disebut terkendala biaya dan prosedur.

“Semua serba uang,” ujar ibu korban.

Ironisnya, bantuan justru datang dari pihak sekolah yang mengambil alih penanganan hingga pemakaman.

Bagi Rina, kasus ini bukan sekadar tragedi individu, melainkan alarm keras bagi sistem yang selama ini dianggap sudah berjalan.

“Jangan setiap ada kejadian baru sibuk klarifikasi. Yang dibutuhkan itu perbaikan nyata, dari pendataan sampai akses layanan dasar,” pungkasnya.

 

 

(Kinka)

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas
150 PNS Bulungan Kantongi Satya Lencana, Syarwani: Ini Bukan Sekadar Penghargaan Masa Kerja
Polisi Ungkap Modus Dugaan Pencabulan Siswa SMP di Nunukan, Korban Diduga Diberi Tuak Hingga Mabuk
Pekerja Proyek Stadion Malinau Asal Makassar Meninggal Dunia, Polisi Tak Temukan Bukti Kekerasan
Ribuan Warga Kutim Gelar Salat Istisqa, Berharap Hujan Segera Turun
HUT Polwan ke-78, Polres Berau Dorong Polisi Wanita Adaptif Hadapi Era Digital
Kurangi Efek Kemarau Panjang, Polda Kaltara Siram Jalan Untuk Kurangi Debu
Kemarau Tekan Cadangan Air Balikpapan, Puluhan Ribu Pelanggan Hadapi Pengurangan Jam Layanan
Berita ini 72 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 09:32 WITA

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas

Rabu, 9 September 2026 - 09:08 WITA

150 PNS Bulungan Kantongi Satya Lencana, Syarwani: Ini Bukan Sekadar Penghargaan Masa Kerja

Rabu, 9 September 2026 - 08:21 WITA

Polisi Ungkap Modus Dugaan Pencabulan Siswa SMP di Nunukan, Korban Diduga Diberi Tuak Hingga Mabuk

Rabu, 9 September 2026 - 08:01 WITA

Pekerja Proyek Stadion Malinau Asal Makassar Meninggal Dunia, Polisi Tak Temukan Bukti Kekerasan

Rabu, 9 September 2026 - 07:50 WITA

Ribuan Warga Kutim Gelar Salat Istisqa, Berharap Hujan Segera Turun

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi IAIN Tana Tidung. (MetaAI)

Tana Tidung

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:32 WITA