Lintasjejaring.com, Tarakan – Ketersediaan air baku di Kota Tarakan terus mengalami penurunan. Minimnya hujan membuat sejumlah embung yang menjadi sumber utama Perumda Tirta Alam Tarakan menyusut hingga berdampak langsung terhadap kapasitas produksi air bersih. Selasa (08/09/2026)
Direktur Perumda Tirta Alam Tarakan, Iwan Setiawan, mengatakan kondisi paling mengkhawatirkan terjadi di Embung Binalatung.
“Di Embung Binalatung itu sudah habis airnya,” ujar Iwan, Senin (07/09/2026) kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, kondisi tersebut bahkan membuat air tidak lagi bisa diambil melalui saluran intake yang selama ini digunakan.
“Bahkan di lubang hisapnya sudah tidak bisa menghisap lagi,” katanya.
Untuk menjaga agar pelayanan tetap berjalan, Perumda Tirta Alam Tarakan kemudian mencari sumber air alternatif dengan memanfaatkan aliran sungai bawah.
“Kita manfaatkan sumber air dari sungai bawah yang kita tangkap melalui intake,” jelas Iwan.
Namun, upaya tersebut belum mampu mengembalikan produksi air ke kapasitas normal.
“Produksi normal kita itu sekitar 333 sampai 340 liter per detik. Sekarang produksinya sekitar 191 liter per detik,” katanya.
Penurunan tersebut membuat sejumlah wilayah mulai mengalami gangguan pasokan, terutama kawasan yang berada di dataran tinggi dan pesisir.
“Ini mengakibatkan untuk daerah perbukitan dan daerah pesisir itu tidak mengalir,” ujar Iwan.
Iwan memperkirakan sekitar 15 ribu pelanggan terdampak akibat berkurangnya kapasitas produksi air bersih.
“Kurang lebih ada 15 ribu pelanggan yang terdampak,” katanya.
Meski demikian, ia memastikan kondisi tersebut tidak berarti seluruh pelanggan di Tarakan mengalami gangguan.
“Tidak semua pelanggan terdampak,” tegasnya.
Menurut Iwan, gangguan paling terasa pada pelanggan yang berada di kawasan perbukitan dan pesisir.
“Yang paling terdampak itu daerah perbukitan dan daerah pesisir,” jelasnya.
Wilayah yang terdampak terutama pelanggan yang memperoleh suplai dari IPA Kampung 1 dan IPA Persemaian.
Terbatasnya air baku membuat Perumda Tirta Alam Tarakan mengambil langkah pengaturan distribusi. Sistem penggiliran mulai diberlakukan agar air yang tersedia dapat dibagi ke wilayah pelanggan secara bergantian. Ia menjelaskan, sebelum diberlakukan secara penuh, skema tersebut telah lebih dahulu diuji coba.
“Sebenarnya sudah kemarin mulai diuji coba,” ujarnya.
Dengan kondisi produksi yang jauh di bawah normal, penggiliran distribusi menjadi salah satu langkah yang harus dilakukan perusahaan. Skema penggiliran tersebut direncanakan berlangsung dua hari sekali pada wilayah yang mengalami dampak paling besar.
“Untuk wilayah yang terdampak, distribusinya akan kita atur secara bergilir,” jelasnya.
Untuk pelayanan dari IPA Kampung 1, beberapa kawasan yang diperkirakan mengalami gangguan meliputi Mamburungan, Kampung 1, Kampung 4, Kampung 6, Lingkas Ujung, Gunung Lingkas, Bom Panjang, hingga sebagian Selumit Pantai.
Iwan mengatakan kondisi tersebut sangat berkaitan dengan terus menurunnya ketersediaan air baku.
“Kondisi air baku memang terus menurun karena minimnya hujan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, perusahaan daerah akan terus mengupayakan sumber air yang masih tersedia untuk menjaga pelayanan kepada masyarakat.
“Kita akan maksimalkan sumber air yang masih ada,” pungkas Iwan.
Penulis : Yah/Trk
Editor : Redaksi









