Program Gratispol Disorot Mahasiswa, Transparansi Anggaran Dipertanyakan

- Redaksi

Selasa, 31 Maret 2026 - 20:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Mulawarman (Unmul), Rossa Tri Rahmawati Bahri

Foto : Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Mulawarman (Unmul), Rossa Tri Rahmawati Bahri

Lintasjejaring.com, SAMARINDA – Program pendidikan gratis Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur atau Gratispol kembali menjadi sorotan. Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Universitas Mulawarman, Rossa Tri Rahmawati Bahri, menilai implementasi program tersebut masih menyisakan persoalan mendasar, terutama terkait transparansi dan komunikasi publik.

Sorotan terhadap program Gratispol muncul karena dinilai belum diimbangi, dengan transparansi dan komunikasi publik yang memadai, sehingga memicu miskomunikasi antara pemerintah, kampus, dan mahasiswa. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan terkait pengelolaan anggaran, serta kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan program di lapangan, yang dinilai perlu segera dievaluasi agar manfaatnya benar-benar dirasakan secara merata.

Pernyataan itu disampaikan Rossa usai mengikuti forum diskusi bersama Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, Rabu (010/4/2026). Dalam forum tersebut, sempat terjadi penyampaian aspirasi mahasiswa di tengah pemaparan yang berlangsung.

“Diskusi berjalan baik. Penyampaian aspirasi yang terjadi di tengah forum itu spontan, bukan bagian dari skema kegiatan kami,” ujarnya.

Rossa menjelaskan, forum tersebut sejak awal memang dirancang sebagai ruang dialog antara mahasiswa dan pemerintah daerah. Ia menilai dinamika yang muncul, merupakan bagian dari ekspresi mahasiswa dalam menyampaikan keresahan.

“Forum ini memang kami siapkan untuk menyampaikan aspirasi. Tapi tetap harus menjaga etika kelembagaan,” katanya.

Terkait dinamika antarorganisasi mahasiswa yang sempat mencuat, ia memastikan komunikasi kelembagaan tetap berjalan dengan baik. Menurutnya, gerakan mahasiswa tidak didasarkan pada kepentingan oposisi, melainkan berangkat dari kondisi yang dirasakan masyarakat.

“Gerakan mahasiswa itu lahir dari keresahan, bukan soal pro atau kontra terhadap pemerintah,” tegasnya.

Dalam substansi diskusi, Rossa menyoroti pelaksanaan program Gratispol yang dinilai belum diimbangi dengan sosialisasi yang memadai. Hal ini, menurutnya, memicu miskomunikasi antara pemerintah provinsi, perguruan tinggi, dan mahasiswa sebagai penerima manfaat.

“Masih banyak miskomunikasi. Ini menunjukkan bahwa tata kelola komunikasi publik, dari pemerintah perlu diperbaiki,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga mempertanyakan transparansi pengelolaan anggaran program tersebut. Hingga kini, menurutnya, belum tersedia platform resmi yang dapat diakses publik untuk mengetahui alur penggunaan dana secara rinci.

“Sampai hari ini belum ada media atau sistem yang menjelaskan secara terbuka, terkait penggunaan anggaran Gratispol. Ini yang menjadi pertanyaan,” ujarnya.

Rossa juga mengingatkan agar pelaksanaan program pendidikan gratis tidak mengorbankan program pembangunan lainnya di daerah.

“Jangan sampai fokus ke satu program, sementara program lain justru terhambat,” katanya.

Ia menambahkan, perlu adanya sinkronisasi antara dokumen perencanaan pembangunan daerah, seperti RPJMD, dengan implementasi program di lapangan.

“Ada gap antara perencanaan dan realisasi. Ini harus menjadi bahan evaluasi bersama,” jelasnya.

Sebagai tindak lanjut, BEM FISIP Unmul berencana menyusun dan merilis infografis hasil kajian terkait program Gratispol. Langkah ini diharapkan dapat menjadi bentuk kontrol sosial sekaligus edukasi publik.

“Kami akan merilis infografis agar masyarakat bisa memahami program ini secara lebih utuh,” pungkasnya.

 

Baca Juga:  Subroto Harapkan Langkah Selanjutnya Usai penetapan Unsur Pimpinan Di Laksanakan Dengan Cepat
Baca Juga:  Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis, Samri Shaputra: Lebih Baik Dialihkan ke Pendidikan

(Kinka)

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas
150 PNS Bulungan Kantongi Satya Lencana, Syarwani: Ini Bukan Sekadar Penghargaan Masa Kerja
Polisi Ungkap Modus Dugaan Pencabulan Siswa SMP di Nunukan, Korban Diduga Diberi Tuak Hingga Mabuk
Pekerja Proyek Stadion Malinau Asal Makassar Meninggal Dunia, Polisi Tak Temukan Bukti Kekerasan
Ribuan Warga Kutim Gelar Salat Istisqa, Berharap Hujan Segera Turun
HUT Polwan ke-78, Polres Berau Dorong Polisi Wanita Adaptif Hadapi Era Digital
Kurangi Efek Kemarau Panjang, Polda Kaltara Siram Jalan Untuk Kurangi Debu
Kemarau Tekan Cadangan Air Balikpapan, Puluhan Ribu Pelanggan Hadapi Pengurangan Jam Layanan
Berita ini 52 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 09:32 WITA

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas

Rabu, 9 September 2026 - 09:08 WITA

150 PNS Bulungan Kantongi Satya Lencana, Syarwani: Ini Bukan Sekadar Penghargaan Masa Kerja

Rabu, 9 September 2026 - 08:21 WITA

Polisi Ungkap Modus Dugaan Pencabulan Siswa SMP di Nunukan, Korban Diduga Diberi Tuak Hingga Mabuk

Rabu, 9 September 2026 - 08:01 WITA

Pekerja Proyek Stadion Malinau Asal Makassar Meninggal Dunia, Polisi Tak Temukan Bukti Kekerasan

Rabu, 9 September 2026 - 07:50 WITA

Ribuan Warga Kutim Gelar Salat Istisqa, Berharap Hujan Segera Turun

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi IAIN Tana Tidung. (MetaAI)

Tana Tidung

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:32 WITA