Lintasjejaring.com, Penajam – Meningkatnya kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menunjukkan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak bisa dilakukan secara parsial oleh masing-masing daerah. Pergerakan asap yang melintasi batas administrasi menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah di Kalimantan Timur. Kamis (03/09/2026).
Bupati PPU, Mudyat Noor, menilai kualitas udara di wilayahnya saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi di dalam daerah, tetapi juga oleh aktivitas karhutla yang terjadi di kabupaten sekitar, khususnya Kabupaten Paser. Menurutnya, asap yang terbawa angin menjadi bukti bahwa dampak kebakaran dapat dirasakan jauh dari lokasi titik api.
“Asap ini merupakan imbas embusan dari wilayah Paser yang kemarin mengalami kebakaran cukup hebat,” ujar Mudyat Noor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi tersebut membuat upaya pengendalian karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga membutuhkan koordinasi antardaerah dalam mengurangi sumber asap yang menyebar ke wilayah lain.
Mudyat menjelaskan, tim gabungan di PPU selama ini berupaya melakukan respons cepat terhadap setiap kejadian kebakaran agar tidak berkembang menjadi kebakaran besar yang menghasilkan asap dalam waktu lama.
“Kebakaran di Penajam penanganannya cepat banget dan tidak pernah berlarut-larut melebihi satu hari,” katanya.
Meski demikian, kualitas udara PPU tetap terdampak. Data menunjukkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di wilayah tersebut mencapai angka 80 dan masih berada pada kategori sedang. Parameter PM2,5 menjadi faktor dominan yang memengaruhi kualitas udara karena partikelnya mudah terbawa angin dan menyebar ke wilayah yang lebih luas.
Untuk membantu mengurangi dampak asap, pemerintah mendorong pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Namun, efektivitas metode tersebut tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan arah pergerakan angin.
“Kemarin sudah dilakukan rekayasa cuaca, tetapi karena angin cukup deras, awan hujan bergeser dan justru turun hujan di Kubar,” ungkap Mudyat.
Menurutnya, kondisi cuaca menjadi faktor yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan sehingga seluruh pihak harus memperhitungkan dinamika alam dalam setiap upaya penanganan karhutla.
“Rekayasa cuaca sebetulnya tetap perlu, tetapi kita harus melihat kondisi anginnya,” ujarnya.
Mudyat menegaskan bahwa persoalan asap di Kalimantan Timur harus dipandang sebagai masalah bersama. Selama kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah, potensi penyebaran asap ke daerah lain akan tetap ada.
“Kalau faktor cuaca dan angin tidak mendukung, tentu jadi tantangan tersendiri bagi kawan-kawan di lapangan,” pungkasnya.
Dengan kondisi tersebut, penguatan koordinasi lintas kabupaten dan kota dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menekan dampak karhutla, terutama pada puncak musim kemarau yang masih berlangsung di Kalimantan Timur.
Penulis : Sultan
Editor : Redaksi









