Lintasjejaring.com, Penajam – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, semakin mendapat perhatian seiring meningkatnya kejadian sepanjang musim kemarau. Hingga akhir Agustus 2026, tim gabungan telah menangani puluhan titik kebakaran dengan luas lahan terdampak mencapai lebih dari 80 hektare. Senin, (01/08/ 2026).
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten PPU Nurlaila menyampaikan, sepanjang Januari hingga 30 Agustus 2026 tercatat 79 kejadian karhutla yang telah ditangani oleh petugas gabungan.
Dari jumlah tersebut, peningkatan paling signifikan terjadi pada Agustus. Sebanyak 57 kejadian karhutla tercatat hanya dalam satu bulan, sedangkan 22 kejadian lainnya berlangsung pada Januari hingga Juli.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dari Januari sampai 30 Agustus ada 79 kejadian karhutla yang kami tangani. Untuk Agustus saja mencapai 57 kejadian,” kata Nurlaila.
Akumulasi kejadian tersebut berdampak terhadap sekitar 83,74 hektare lahan. Kondisi ini membuat kesiapsiagaan petugas harus terus diperkuat, khususnya ketika titik api muncul di kawasan yang sulit dijangkau.
Menurut Nurlaila, salah satu tantangan dalam proses pemadaman adalah ketersediaan air. Petugas tidak selalu menemukan sumber air yang berada dekat dengan lokasi kebakaran sehingga diperlukan strategi untuk mendapatkan pasokan air selama proses pemadaman.
“Kalau sumber air sulit, petugas harus mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan pemadaman,” ujarnya.
Sejumlah sumber air yang berada di sekitar lokasi kemudian dimanfaatkan petugas. Di antaranya sumur bor, embung, sungai kecil hingga danau air payau.
Upaya tersebut menjadi penting karena beberapa kejadian membutuhkan waktu penanganan cukup lama. Salah satunya terjadi di Kelurahan Sepan, di mana proses pemadaman dan pendinginan berlangsung hingga enam hari.
Lamanya proses penanganan dilakukan untuk memastikan bara api di dalam lahan tidak kembali memicu kebakaran. Petugas juga harus melakukan pendinginan setelah api utama berhasil dikendalikan.
Karhutla juga terjadi di kawasan Riko, termasuk jalur menuju Bandara VVIP dan Pulau Balang. Di wilayah tersebut, petugas menggunakan embung sebagai sumber air untuk mendukung proses pemadaman.
“Untuk di Riko, sumber air yang digunakan berasal dari embung. Jaraknya sekitar satu kilometer dari lokasi kebakaran,” jelas Nurlaila.
Penanganan karhutla di PPU tidak hanya dilakukan BPBD. Operasi pemadaman melibatkan berbagai unsur yang bergerak sesuai kondisi di lapangan.
Tim gabungan tersebut terdiri atas BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) yang memiliki delapan pos, Brigade Karlabun, Satpol PP, TNI, Polri, Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, hingga pihak perusahaan atau dunia usaha.
Nurlaila menilai keterlibatan lintas sektor menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat penanganan setiap laporan kebakaran. Terlebih, karakteristik lokasi karhutla berbeda-beda sehingga membutuhkan dukungan personel, peralatan dan sumber air yang memadai.
“Semua unsur bersama-sama melakukan penanganan di lapangan. Kolaborasi ini sangat dibutuhkan agar kebakaran bisa segera dikendalikan,” katanya.
Dengan puluhan kejadian yang telah ditangani hingga penghujung Agustus, kesiapsiagaan terhadap karhutla masih menjadi perhatian di PPU. Tim gabungan terus melakukan respons terhadap laporan kebakaran sekaligus mengantisipasi meluasnya titik api, terutama di tengah kondisi lahan yang mudah terbakar.
Penulis : Sultan
Editor : Redaksi









