Ketika Pendidikan Belum Merata : Ketimpangan Akses Pendidikan Di Wilayah Pedalaman Kalimantan Timur

- Redaksi

Selasa, 16 Desember 2025 - 05:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Viona Maharani, Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam, UINSI Kota Samarinda.

Foto : Viona Maharani, Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam, UINSI Kota Samarinda.

Oleh : Viona Maharani

Pendidikan merupakan fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia. Namun, realitas di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa akses pendidikan belum dirasakan secara merata, khususnya di wilayah pedalaman. Ketimpangan antara daerah perkotaan dan pedalaman masih menjadi persoalan serius yang berdampak langsung pada kesempatan belajar anak-anak. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan bukan hanya soal kualitas pembelajaran, tetapi juga soal pemerataan akses.

Di wilayah perkotaan seperti Samarinda dan Balikpapan, masyarakat relatif mudah mengakses sekolah dengan fasilitas yang memadai, jumlah guru yang cukup, serta dukungan teknologi pembelajaran. Sebaliknya, di wilayah pedalaman Kalimantan Timur, banyak sekolah masih menghadapi keterbatasan ruang kelas, sarana belajar, dan tenaga pendidik. Tidak sedikit siswa yang harus menempuh jarak jauh untuk bersekolah, bahkan ada yang terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan akses. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka partisipasi sekolah di wilayah perkotaan Kalimantan Timur cenderung lebih tinggi dibandingkan daerah pedalaman, yang menunjukkan masih adanya kesenjangan akses pendidikan.

Baca Juga:  Arman Maulana, Kader PMII Samarinda, Meminta DPRD Kaltim Meninjau Kembali Putusan Penetapan Komisioner KPID Kaltim Dengan Melibatkan Seluruh Fraksi

Ketimpangan akses pendidikan ini tidak terlepas dari kondisi geografis Kalimantan Timur yang luas serta infrastruktur yang belum sepenuhnya merata. Keterbatasan akses jalan, distribusi guru yang tidak seimbang, serta minimnya jaringan internet di daerah terpencil menjadi kendala utama, terutama dalam pembelajaran berbasis digital. Akibatnya, anak-anak di wilayah pedalaman memiliki peluang pendidikan yang lebih kecil dibandingkan anak-anak di perkotaan, yang berpotensi memperlebar kesenjangan kualitas sumber daya manusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Permasalahan ini dapat dijelaskan melalui teori pemerataan pendidikan, yang menyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan tanpa dibatasi oleh letak geografis. Ketika akses pendidikan tidak merata, maka akan muncul ketimpangan sosial dan ekonomi di masa depan.

Baca Juga:  FASILITAS DAN ORGANISASI KAMPUS

Selain itu, teori pembangunan berkelanjutan menekankan bahwa pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan harus dilakukan secara adil dan merata. Pendidikan yang hanya berkembang di wilayah perkotaan akan menghambat pembangunan daerah pedalaman dan menciptakan ketimpangan antardaerah.

Untuk mengurangi ketimpangan akses pendidikan di wilayah pedalaman Kalimantan Timur, pemerintah perlu memperkuat pembangunan infrastruktur pendidikan, seperti sekolah dan fasilitas pendukung belajar. Pemerataan tenaga pendidik juga harus menjadi prioritas, termasuk pemberian insentif bagi guru yang bersedia mengajar di daerah terpencil. Selain itu, perluasan akses internet dan teknologi pendidikan menjadi langkah penting agar siswa di pedalaman tidak tertinggal dalam perkembangan pembelajaran digital.

Baca Juga:  EKSPOITASI BATU BARA VS KESELAMATAN WARGA : SAMPAI KAPAN KALIMANTAN TIMUR DIKORBANKAN?

Ketimpangan akses pendidikan di wilayah pedalaman Kalimantan Timur merupakan persoalan yang tidak bisa diabaikan. Pemerataan pendidikan bukan hanya tentang membangun sekolah, tetapi juga memastikan setiap anak memiliki kesempatan belajar yang sama. Tanpa upaya serius dan berkelanjutan, ketimpangan ini akan terus berlanjut dan menghambat pembangunan sumber daya manusia di Kalimantan Timur. Oleh karena itu, pemerataan akses pendidikan harus menjadi komitmen bersama demi masa depan daerah yang lebih adil dan berkelanjutan.

 

#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia
Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu
Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar
UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur
IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?
Dinamika Sosialisasi Beasiswa Gratispol 2026 Tahap 1
Pelaksanaan PKL Mahasiswa prodi Manajemen Dakwah (UINSI) Di DPRD Provinsi Kalimantan Timur
Univisual Studio : Ruang Inovasi Mahasiswa Bagi Agen Perubahan
Berita ini 32 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 00:37 WITA

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:19 WITA

Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:49 WITA

Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar

Kamis, 1 Januari 2026 - 08:12 WITA

UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur

Senin, 29 Desember 2025 - 08:30 WITA

IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi IAIN Tana Tidung. (MetaAI)

Tana Tidung

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:32 WITA