Kekerasan Di Kalimantan Timur Yang Terus Kita Anggap Biasa

- Redaksi

Senin, 15 Desember 2025 - 12:43 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Reski Amaliyah Putri, Mahasiswi KPI, UINSI Kota Samarinda

Foto : Reski Amaliyah Putri, Mahasiswi KPI, UINSI Kota Samarinda

Oleh : Reski Amaliyah Putri

Sebagai mahasiswa yang hidup dan belajar di Kalimantan Timur, saya cukup sering melihat berita tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sayangnya, berita-berita itu kerap hanya lewat di layar ponsel, dibaca sekilas, lalu dilupakan. Padahal, angka yang muncul bukan sekadar statistik, melainkan cerita tentang manusia yang terluka.

Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Kalimantan Timur mencatat, hingga 31 Agustus 2025 terdapat 916 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dilaporkan melalui aplikasi Simfoni PPA. Jika dirata-ratakan, hampir setiap hari ada tiga sampai empat kasus yang terjadi. Jumlah korbannya mencapai 936 orang, dan itu belum termasuk mereka yang memilih diam karena takut atau merasa tidak punya tempat untuk mengadu.

Baca Juga:  Fasilitas Tak Memadai Hambat Mahasiswa, Tinjau Kondisi Di Fakultas Tarbiyah UINSI

Yang membuat saya prihatin, kekerasan ini seolah menjadi hal yang “biasa”. Kita tahu angkanya tinggi, tapi jarang benar-benar membicarakan penyebabnya atau memikirkan cara mencegahnya bersama. Informasi yang beredar lebih sering berhenti pada jumlah kasus dan kronologi singkat, tanpa mengajak masyarakat untuk memahami persoalan ini secara lebih dalam.

Padahal, jika melihat beberapa tahun terakhir, situasinya belum menunjukkan perbaikan yang berarti. Setelah sempat menurun pada 2024, jumlah kasus kembali meningkat pada 2025. Ini menjadi tanda bahwa kekerasan bukan masalah sesaat, melainkan persoalan sosial yang terus berulang.

Sebagai mahasiswa, saya melihat pentingnya cara isu kekerasan disampaikan ke publik. Ketika informasi hanya berupa angka, empati mudah hilang. Namun, jika disertai cerita, dampak yang dirasakan korban, serta peran lingkungan sekitar, kesadaran masyarakat bisa tumbuh. Dari situ, kepedulian tidak hanya berhenti pada rasa iba, tetapi juga dorongan untuk ikut mencegah.

Baca Juga:  Fenomena Komunikasi Pembangunan Di Kalimantan Timur : Antara Harapan, Narasi, Dan Realitas Sosial

Kekerasan tidak seharusnya kita anggap sebagai kabar biasa. Ini adalah masalah bersama yang membutuhkan perhatian semua pihak. Jika kita terus diam dan terbiasa, angka-angka itu akan terus bertambah, dan korban baru akan terus muncul.

 

#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia
Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu
Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar
UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur
IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?
Dinamika Sosialisasi Beasiswa Gratispol 2026 Tahap 1
Pelaksanaan PKL Mahasiswa prodi Manajemen Dakwah (UINSI) Di DPRD Provinsi Kalimantan Timur
Univisual Studio : Ruang Inovasi Mahasiswa Bagi Agen Perubahan
Berita ini 34 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 00:37 WITA

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:19 WITA

Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:49 WITA

Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar

Kamis, 1 Januari 2026 - 08:12 WITA

UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur

Senin, 29 Desember 2025 - 08:30 WITA

IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi IAIN Tana Tidung. (MetaAI)

Tana Tidung

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:32 WITA