Oleh : M. Irfan Umar Abdullah Said
Suara yang Tak Didengar
Di banyak sudut wilayah Kalimantan Timur, tambang batubara telah menjadi pemandangan umum. Namun, tersembunyi di balik jalanan hitam dan lalu lalang truk – truk besar, terdapat suara-suara lirih masyarakat yang seringkali tak terdengar. Mereka berbicara, tetapi seolah tidak didengarkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Inilah masalah komunikasi lingkungan yang paling mendasar dalam masyarakat: bukan hanya tentang siapa yang berbicara, tetapi siapa yang didengar.
Komunikasi Sepihak dan Etika yang Diuji Perusahaan pertambangan sering mengklaim telah melakukan sosialisasi dan komunikasi publik sebelum memulai operasi. Namun, komunikasi yang mereka lakukan biasanya cenderung satu arah—bersifat informatif, bukan partisipatif.
Masyarakat diberi tahu, bukan diajak berkonsultasi. Faktanya, dalam teori komunikasi lingkungan, keberhasilan suatu kebijakan tidak bergantung pada seberapa banyak informasi disebarluaskan, melainkan pada kedalaman makna bersama yang dibangun di antara pihak-pihak yang terlibat.
Di sisi lain, masyarakat lokal seringkali hanya menjadi “penerima dampak”, tanpa ruang memadai untuk menyampaikan keluhan. Ketika air sungai keruh, tanaman tertutup debu, dan jalan rusak akibat lalu lintas alat berat, protes mereka sering dianggap sebagai hambatan investasi.
Di sinilah etika komunikasi diuji. Komunikasi yang beretika seharusnya mengedepankan empati, kejujuran, dan transparansi—bukan sekadar formalitas laporan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Peran Media dalam Keadilan Informasi Media massa lokal memiliki peran kunci dalam meningkatkan kesadaran publik. Namun, dalam praktiknya, liputan tentang pertambangan sering kali tidak seimbang berita tentang peresmian proyek lebih menonjol daripada laporan kerusakan lingkungan.
Padahal, fungsi komunikasi massa seharusnya menjadi forum dialog publik, bukan hanya corong kepentingan ekonomi.
Nilai Komunikasi dalam Perspektif Islam Perspektif komunikasi Islam mengajarkan hal yang serupa. Al-Qur’an menekankan pentingnya qaulan sadīda (perkataan yang benar) dan qaulan layyina (perkataan yang lembut).
Dalam konteks pertambangan, ini berarti pemerintah dan perusahaan harus berbicara dengan kejujuran dan mendengarkan masyarakat dengan hati terbuka. Lingkungan bukan sekadar sumber daya, melainkan amanah yang harus dijaga bersama.
Tantangan Baru Kalimantan Timur
Kini, Kalimantan Timur menghadapi tantangan baru terkait pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Jika pola komunikasi lingkungan yang timpang terus berlanjut, konflik sosial dan kerusakan alam bisa menjadi warisan yang sulit diperbaiki.
Menumbuhkan Komunikasi Sejati
Komunikasi seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan, bukan tembok yang memisahkan. Sudah saatnya perusahaan, pemerintah, dan masyarakat membangun komunikasi yang autentik, komunikasi yang menumbuhkan saling pengertian, bukan sekadar memenuhi kewajiban.
Karena pada akhirnya, bumi yang hancur bukan hanya milik mereka yang menambangnya, tetapi juga milik anak cucu kita yang akan mewarisinya.
#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM









