LintasJejaring. Com, Biduk-Biduk Berau – Warga RT 01 Desa Labuan Kelambu, Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, menyampaikan berbagai aspirasi dan keluhan pembangunan kepada anggota Komisi I DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Budianto Bulang, dalam agenda reses yang digelar pada Senin (27/10/2025) lalu. Rabu (29/10/2025).
Dalam pertemuan tersebut, warga mengungkapkan beragam persoalan yang mereka hadapi, mulai dari biaya penyeberangan yang tinggi, kebutuhan infrastruktur dasar, hingga ancaman kemunculan buaya di wilayah pesisir.
Salah satu warga, mewakili masyarakat RT 01, menyampaikan bahwa tingginya biaya penyeberangan di kawasan penyebrangan GM Sangkulirang, menjadi beban besar bagi perekonomian warga pesisir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami harus membayar biaya penyeberangan antara Rp250 ribu hingga Rp300 ribu untuk mobil pribadi, bahkan bisa mencapai Rp400 ribu untuk kendaraan bak terbuka pengangkut ikan. Padahal, kami juga ikut membayar pajak,” keluhnya.
Warga juga menanyakan perkembangan rencana pembangunan Jembatan Sungai Nibung, yang disebut-sebut dapat menjadi solusi bagi akses transportasi warga.
“Kalau jembatan itu jadi dibangun, tentu akan sangat berdampak positif bagi masyarakat pesisir,” tambahnya.
Selain persoalan transportasi, warga mengeluhkan kondisi jembatan penyeberangan yang kumuh, serta keterbatasan akses antar RT yang dinilai memperlambat pemerataan pembangunan. Mereka meminta pemerintah provinsi untuk turun tangan melakukan renovasi menyeluruh dan membuka jalur baru antar permukiman.
Persoalan lain yang tak kalah serius adalah kemunculan buaya liar di sekitar kawasan wisata. Masyarakat menilai keberadaan predator itu menimbulkan keresahan dan berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi warga.
“Kalau dibiarkan, bagaimana kami bisa meningkatkan ekonomi wisata? Bahkan bisa membahayakan warga dan merusak ketahanan keluarga,” ujar salah satu warga.
Sebagai solusi, warga mengusulkan pembangunan penangkaran buaya muara, yang selain menjaga keamanan juga bisa dikembangkan sebagai objek wisata edukatif baru.
Dalam kesempatan itu, warga juga mengusulkan pemekaran Desa Labuan Kelambu yang saat ini memiliki wilayah seluas sekitar 12 kilometer persegi. Menurut warga, luas wilayah yang terlalu besar menyebabkan anggaran desa lebih banyak terserap untuk biaya operasional, bukan pembangunan.
Dari sisi ekonomi, warga meminta dukungan terhadap sektor perikanan dan pertanian. Nelayan berharap adanya bantuan untuk pengelolaan hasil tangkap agar tidak hanya dijual mentah, melainkan bisa diolah dan memiliki nilai tambah.
“Kami butuh dukungan alat dan fasilitas agar bisa mengelola hasil tangkap. Begitu juga untuk sektor pertanian, mohon bantuan pupuk dan bibit, terutama bagi petani buah dan sawit,” ujar Mashud, warga RT 01.
Selain itu, warga juga menyoroti ancaman abrasi pantai yang kian mengkhawatirkan. Mereka berharap adanya pembangunan pemecah ombak atau pengurai gelombang secara merata di kawasan pesisir Biduk-Biduk.
Menanggapi seluruh aspirasi tersebut, Budianto Bulang mengapresiasi semangat warga Labuan Kelambu dalam memperjuangkan pembangunan desa.
“Saya melihat masyarakat di sini sangat antusias dan memiliki semangat tinggi untuk membangun desanya. Ini menjadi tantangan bagi kami di DPRD untuk terus menjaga semangat itu,” ujar politisi Golkar Kaltim tersebut.
Dirinya memastikan bahwa seluruh hasil reses akan dibawa dan diperjuangkan dalam rapat di DPRD Kaltim. Ia juga menyampaikan kabar baik terkait proyek Jembatan Sungai Nibung.
“Insyaallah pembangunan jembatan itu akan segera rampung karena sudah dalam tahap proses. Semoga segera selesai dan bisa dimanfaatkan masyarakat dengan aman,” pungkas anggota DPRD Kaltim Dapil VI (Bontang, Kutim dan Berau) tersebut.
Sebagai anggota Komisi I DPRD Kaltim, Budianto Bulang terus berkomitmen untuk membangun Kaltim, terutama daerah dapilnya, untuk maju dan berkembang, baik dari segi infrastruktur, ekonomi, SDM, perkebunan dan lain sebagainya.
Baginya, kemajuan sektor-sektor tersebut merupakan bagian terpenting dari majunya kualitas hidup masyarakat Kaltim. Dengan cara, hadir di tengah masyarakat sebagai ‘rumah aduan’ bagi mereka.
“Kalau kita abai dan menutup mata, jelas kita juga turut menghambat kemajuan masyarakag Kaltim. Kita hari cek, membuka mata dan hadir di tengah masyarakat sebagai ‘ruma aduan’ bagi mereka semua.”tandasnya.
Dengan aspirasi yang disampaikan masyarakat, reses di Desa Labuan Kelambu menjadi momentum penting bagi pemerintah provinsi untuk memperhatikan pembangunan wilayah pesisir Berau, terutama di sektor infrastruktur, ekonomi rakyat, dan pariwisata berkelanjutan.
(Zul)









