“Tungku Bakar Sampah Tanpa Asap” Sebagai Wujud Implementasi Eco-Dakwah

- Redaksi

Sabtu, 21 September 2024 - 17:09 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: M. Abdul Syahid

LINTASJEJARING.COM, Samarinda- Seperti yang diketahui hubungan manusia dan lingkungan merupakan suatu aspek yang tidak dapat dipisahkan, lingkungan sendiri menjadi suatu hal yang sangat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup yang ada di muka bumi ini termasuk manusia. Namun, alih-alih menjaganya manusia justru melakukan kerusakan pada lingkungan karena sikap serakah tanpa melakukan tindakan yang bertanggung jawab sehingga menimbulkan terjadinya krisis lingkungan.

Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) volume timbunan sampah di Indonesia mencapai 22,72 juta ton pada tahun 2023(sipsn.menlhk.go.id/sipsn) dan akan semakin meningkat jika tidak di kelola dengan baik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Oleh karena itu Eco-Dakwah hadir sebagai solusi penyadaran manusia dalam konteks keagamaan khususnya Islam. Eco-Dakwah adalah pendekatan yang mengintegrasikan prinsip-prinsip ekologi dengan ajaran Islam untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab lingkungan di kalangan umat Muslim.

Eco-Dakwah bertujuan untuk membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian penting dari ajaran Islam, Dengan menggabungkan nilai-nilai ekologi dengan ajaran Islam, Eco-Dakwah berupaya menciptakan komunitas yang lebih peduli terhadap lingkungan dan berkomitmen terhadapnya, karena itu inti dari dakwah lingkungan adalah usaha pengelolaan alam secara berkelanjutan.

Untuk memahami dampak teknologi tungku bakar sampah tanpa asap terhadap lingkungan dan kesejahteraan manusia, metode penelitian deskriptif kualitatif diusulkan. Metode ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang persepsi, sikap, dan pengalaman masyarakat terkait pembuatan dan penggunaan teknologi ini.

Melalui eksperimen, observasi, dan analisis data kualitatif, penelitian ini akan menjelajahi secara menyeluruh tentang bagaimana teknologi ini dipahami, diterima, dan diimplementasikan dalam masyarakat. Menurut Hegarty-Hazel, praktikum adalah suatu bentuk kerja praktik yang bertempat dalam lingkungan yang disesuaikan dengan tujuan agar siswa terlibat dalam pengalaman belajar yang terencana dan berinteraksi dengan peralatan untuk mengobservasi serta memahami fenomena.

Melalui pendekatan ini juga peneliti mengetahui secara langsung mulai dari proses pembuatan hingga implementasinya dalam dakwah ekologi.

Seberapa penting Eco-Dakwah dalam mengatasi sampah?

Baca Juga:  Pasar Kuliner Berau Dinilai Belum Stabil, DPRD Dorong Inovasi Dan Pelatihan Usaha

Kata “ekologi” pertama kali digunakan oleh Ernest Haeckel pada tahun 1869. Menurut Haeckel, ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme hidup dan lingkungannya. Kata “ekologi” berasal dari kata asli Yunani, “oikos”, yang berarti “rumah” Sederhananya, ekologi adalah ilmu tentang bagaimana makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungannya (ekosistem)

Tujuan utama dakwah adalah menyebarkan, mengajarkan dan menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari agar mencapai Amar Maruf Nahi Munkar baik secara lisan, tulisan, maupun perbuatan, guna membawa manusia kepada jalan Allah (kaffa) secara utuh.

Tujuan dan hakikat penciptaan manusia di bumi ini dijelaskan secara rinci dalam Al-Quran, seperti : dalam surat l-Baqarah dijelaskan bahwa “manusia sebagai khalifah atau pengelola bumi (Q.S. Al-Baqarah, 30). manusia juga bertugas menyampaikan Al-Amr bi Al-Ma‘ruf wa Al-nahi ‘an Al-Munkar (Q.S. Ali ‘Imran, 110 dan Al-Rahman, 31) dan akan dimintai tanggung jawabnya (Q.S. Al-Qiyamah, 36). Dan terakhir, manusia memiliki misi untuk membangun peradaban di bumi (Q.S. Huud, 61).

Dari ayat-ayat tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Islam mempunyai pandangan yang jelas terhadap ekologi. Alam ini diciptakan Tuhan untuk kepentingan manusia, dan manusia mempunyai kewajiban untuk melestarikannya. Oleh karena itu, manusia sebagai Khalifah mempunyai tanggung jawab penuh untuk menjaga sumber daya alam dan lingkungan hidup. Seruan untuk memperbaiki dan mengatasi permasalahan krisis lingkungan hidup ini disebut Eco-Dakwah.

Bagaimana solusi Eco-Dakwah dalam memusnahkan sampah

Di Kalimantan sendiri berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) kebanyakan sampah di Kalimantan Timur terdiri dari Sisa makanan sebesar 51,11%, Plastik sebesar 19,5%, Kertas/karton sebesar 12,37%. Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltim juga mencatat bahwa pengurangan sampah hanya tercapai 16,04 persen%, sedangkan penanganan baru mencapai 58,62 persen%.

Terlebih lagi proses penguraian sampah kebanyakan melalui pembakaran yang mana menimbulkan asap yang pekat dan dapat mengganggu kesehatan, asap dari hasil pembakaran tersebut juga menyebabkan emisi yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem lingkungan di sekitarnya seperti hujan asam, hingga pemanasan global.

Baca Juga:  Samri Saputra Harap Komunikasi Antara DPRD Samarinda Dengan Pemkot Membaik

Tungku bakar sampah tanpa asap hadir sebagai solusi inovatif dalam mengatasi pencemaran udara akibat pembakaran sampah konvensional. Teknologi ini menggabungkan prinsip-prinsip pembakaran dengan cara pencucian asap dengan air menggunakan sebagai penyaring lambat laun menjadi keruh akibat partikel asap dari hasil sirkulasi tersebut.

Air yang mengandung partikel asap ini dapat dimanfaatkan sebagai pestisida organik bagi tanaman dan abu dari pembakaran sampah tersebut bisa menjadi bahan campuran untuk media penanaman yang bisa menyuburkan. Teknik menghilangkan asap ini menirukan fenomena yang terjadi di alam di mana ketika hujan reda udara akan lebih segar dan asap menghilang. Dengan demikian, tungku ini tidak hanya membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga menjaga kualitas udara dan kesehatan manusia.

Apa plus dan minus dari tungku bakar ini?

Tungku bakar sampah tanpa asap merupakan suatu inovasi yang dirancang untuk mengurangi polusi udara yang dihasilkan dari pembakaran sampah. Tungku ini menggunakan teknologi yang memungkinkan pembakaran sampah dengan emisi asap yang sangat minim. Berikut adalah manfaat dan tantangan dari penggunaan tungku bakar sampah tanpa asap:

Plus nya mengurangi polusi udara,tungku ini meminimalkan emisi asap dan partikel berbahaya yang sering dihasilkan dari pembakaran sampah konvensional dan Meningkatkan kualitas udara di komunitas warga, yang mana ini sejalan dengan prinsip Islam guna menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Pengelolaan sampah yang efisien, dapat membakar sampah secara efisien, mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir dan juga mengurangi beban pada sistem pengelolaan sampah kota dan memperpanjang umur tempat pembuangan akhir.

Kesadaran lingkungan, penggunaan inovasi ramah lingkungan ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan mendorong perubahan perilaku dan praktik pengelolaan sampah yang lebih baik.

Adapun minusnya biaya tinggi dan pembuatan yang rumit, pembuatan dan instalasi tungku bakar sampah tanpa asap memerlukan biaya yang lumayan banyak dan lumayan rumit karena memerlukan pemotongan dan pengelasan besi. Lumayan sulit untuk diadopsi oleh komunitas atau individu dengan keterbatasan dana.

Baca Juga:  Soroti Sekolah Rusak, DPRD Samarinda Tekankan Peran Kepala Sekolah Dalam Deteksi Dini

Pemeliharaan dan operasional, tungku ini memerlukan pemeliharaan rutin dan pengoperasian yang benar untuk memastikan kinerja tetap optimal dan juga membutuhkan pelatihan serta pengetahuan khusus agar tetap terawat dengan baik.

Efisiensi pembakaran, tidak semua jenis sampah dapat dibakar dengan efisiensi yang sama, pengelolaan sampah harus dilakukan dengan baik untuk memastikan sampah yang dibakar sesuai dengan kapasitas dan jenis yang dapat ditangani oleh tungku.

Kesadaran dan penerimaan masyarakat, masyarakat perlu diberi pemahaman tentang manfaat dan cara kerja tungku bakar sampah tanpa asap juga memerlukan upaya edukasi dan sosialisasi yang intensif untuk mendapatkan penerimaan yang luas.

Secara keseluruhan, tungku bakar sampah tanpa asap memiliki potensi besar untuk meningkatkan pengelolaan sampah dan kualitas lingkungan. Namun, tantangan-tantangan tersebut perlu diatasi melalui kerja sama antara pemerintah, komunitas, dan pihak swasta.

Tungku bakar sampah tanpa asap merupakan salah satu wujud nyata dari implementasi Eco-Dakwah yang diberikan oleh eco-masjid. Biasanya teknologi cenderung merusak ekosistem lingkungan seperti tambang nikel, besi, dan tembaga untuk membuat perangkat teknologi yang ada.

Namun melalui inovasi ini, umat Islam diajak untuk berperan aktif dalam menjaga lingkungan dan mencegah kerusakan alam khususnya emisi udara, sekaligus menjaga kesehatan dan kesejahteraan manusia. Oleh karena itu perlu wujud implementasi dari Eco-Dakwah ini agar langsung terasa dan berdampak kepada masyarakat agar hati mereka tergerak dan mau menjaga lingkungan.

Dengan kesadaran dan kolaborasi yang tepat, inovasi ini memiliki potensi untuk memberikan dampak yang positif dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup kita. Walaupun sangat di sayangkan, tungku bakar sampah tanpa asap saat ini cuma ada di beberapa titik di kepulauan Jawa dan harapannya ini bisa menyebar ke seluruh Indonesia termasuk Kalimantan Timur.

Wallahu’alam Bish-Showwaab.

*Penulis merupakan Seorang Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UINSI Samarinda.

Notes: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Tidak Berkaitan/Mewakili Dengan Pandangan Redaksi .

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polemik Transparansi Hingga Asumsi Publik, Ketua Pelita kaltim Dorong Transparansi, Dirham : 1,38 T Harus jelas
PMII UIN-Samarinda Gelar Diskusi Refleksi Kemerdekaan: Soroti Krisis Pendidikan Dan Kasus Kekerasan Seksual
KKN UINSI Di SMPN 8 Loa Kulu : Stop Nikah Dini, Raih Mimpi
Cita-Cita Dulu, Cinta Belakangan! KKN UINSI Cegah Nikah Dini
Kemendikdasmen Dan DPR Dorong Komite Sekolah Jadi Pilar Peningkatan Mutu Pendidikan
PSGA UINSI Samarinda Tanamkan Nilai Adab Untuk Relasi Sehat Remaja
Lakukan MoU Bersama YKAN, BRIN Konsisten Ungkap Fakta Alam Terbaru Bentang Alam Wehea-Kelay
DPRD Samarinda Siap Kawal Ekspansi Program Literasi Anak KOPRI PMII
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 25 Februari 2026 - 12:41 WITA

Polemik Transparansi Hingga Asumsi Publik, Ketua Pelita kaltim Dorong Transparansi, Dirham : 1,38 T Harus jelas

Senin, 18 Agustus 2025 - 06:11 WITA

PMII UIN-Samarinda Gelar Diskusi Refleksi Kemerdekaan: Soroti Krisis Pendidikan Dan Kasus Kekerasan Seksual

Kamis, 14 Agustus 2025 - 10:34 WITA

KKN UINSI Di SMPN 8 Loa Kulu : Stop Nikah Dini, Raih Mimpi

Rabu, 13 Agustus 2025 - 12:08 WITA

Cita-Cita Dulu, Cinta Belakangan! KKN UINSI Cegah Nikah Dini

Selasa, 12 Agustus 2025 - 14:16 WITA

Kemendikdasmen Dan DPR Dorong Komite Sekolah Jadi Pilar Peningkatan Mutu Pendidikan

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi IAIN Tana Tidung. (MetaAI)

Tana Tidung

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:32 WITA