Lakukan MoU Bersama YKAN, BRIN Konsisten Ungkap Fakta Alam Terbaru Bentang Alam Wehea-Kelay

- Redaksi

Kamis, 7 Agustus 2025 - 17:07 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Penandatanganan Kerjasama Antara BRIN dan YKAN.

Foto : Penandatanganan Kerjasama Antara BRIN dan YKAN.

Lintasjejaring.com, Bogor – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjalin kerja sama untuk penelitian satwa langka dan terancam, dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) pada tahun ini.

“Melalui kerja sama ini, diharapkan dapat terungkap fakta-fakta ilmiah, temuan ilmu pengetahuan, dan rekomendasi dari aspek ekologi hutan tropis dan satwa liar, untuk mendukung pengelolaan di Bentang Alam Wehea-Kelay, dan ekosistem bernilai penting lainnya di Kalimantan, termasuk menghasilkan produk ilmu pengetahuan dan penerapannya,” ujar Kepala Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Delicia Yunita Rahman.

“Kami memiliki kesamaan strategi dengan YKAN,” sambungnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Khususnya, Ia melanjutkan, dalam memberikan kontribusi terhadap konservasi alam dan pembangunan yang berkelanjutan melalui sains. Lokus kerja sama ini, adalah Kalimantan Timur dan ekosistem penting lain di Kalimantan, yang memiliki peran penting, dalam ekosistem hutan tropis Indonesia.

Provinsi Kalimantan Timur sendiri, memiliki hutan seluas 13 juta hektare, dan menjadi rumah bagi setidaknya 1.500 jenis flora-fauna, dimana sebagian di antaranya, adalah jenis endemik. Hutan juga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat, muasal pengetahuan dan penjaga keseimbangan lingkungan.

Baca Juga:  Dukung Peningkatan Ekonomi, Pusat UMKM Dan Oleh - Oleh Disediakan Oleh Perumda Danum Taka

Sebagai salah satu rumah bagi satwa endemik penting, model-model pengelolaan habitat yang mampu menjaga, dan menyediakan sumber daya kehidupan bagi berbagai fauna ini, adalah kunci mempertahankan populasi. Salah satunya orang utan. Di Kalimantan Timur, Bentang Alam Wehea-Kelay menjadi salah satu habitat orang utan liar.

Pada 2020, YKAN mencatat terdapat kawasan seluas 532 ribu hektare, hidup sekitar 1.282 individu orang utan. Selain orang utan, di bentang alam tersebut, juga terdapat setidaknya 77 jenis mamalia (50 persen adalah Ordo Primata, Carnivora, dan Artiodactyla), 271 jenis burung, dan 117 jenis herpetofauna.

Saat ini terdapat 23 pihak, yang berkontribusi di dalam pengelolaan kolaboratif Bentang Alam Wehea-Kelay. Mereka adalah pemerintah, dunia usaha, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi dan lembaga penelitian, termasuk YKAN.

Adapun pihak swasta yang terlibat, mayoritasnya adalah konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan-Hutan Alam (PBPH-HA), yang telah memiliki sertifikat Pengelolaan Hutan Produksi Lestari, di mana sebagian di antaranya telah memiliki sertifikat Forest Stewardship Council (FSC). Selain itu terdapat kawasan Hutan Lindung Wehea yang dikelola oleh Masyarakat Adat Wehea.

Baca Juga:  Terus Bangun Kesadaran Demokrasi Masyarakat, Budianto Bulang Laksanakan PDD Di Kaubun

Model pengelolaan di Bentang Alam Wehea-Kelay, berpotensi untuk dikembangkan pada tempat-tempat serupa lain di Kalimantan. Lokasi tersebut di antaranya adalah, lanskap Menyapa-Lesan dan Lanskap Kutai.

Kolaborasi dengan BRIN, bertujuan untuk meneliti bioekologi dan kualitas habitat orangutan, owa kalimantan, mamalia, avifauna dan satwa liar lainnya, khususnya satwa yang langka dan terancam, mendiseminasi hasil penelitian, membangun desain dan rekomendasi pengelolaan ekosistem bernilai penting di masing-masing bentang alam.

Foto: Pemasangan alat Bioakuistik di PT WBPU

Salah satu penelitian yang akan dikembangkan, adalah penelitian kualitas habitat satwa liar, dan pengembangan Indeks Kualitas Habitat (IKH) menggunakan teknologi bioakustik, dan e-DNA di Bentang Alam Wehea-Kelay.

“YKAN sangat terbuka dengan riset dan pengembangannya, termasuk penggunaan teknologi terkini untuk konservasi alam yang efektif, seperti penggunaan kamera jebak dan bioakustik,” ujar Direktur Eksekutif YKAN Herlina Hartanto dalam kesempatan yang sama.

Herlina mengatakan bahwa, kolaborasi ini juga inovatif, karena akan mengujicobakan environmental-DNA (e-DNA), untuk mengukur kualitas lingkungan sebuah hutan hujan tropis.

Tidak kalah penting, kerja sama ini diharapkan saling menguatkan, dalam pengembangan ilmu pengetahuan, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Kerja sama dengan BRIN ini, selaras dengan semangat YKAN dalam konservasi.

“Program-program YKAN dikembangkan dan diimplementasikan dengan menggunakan hasil-hasil riset ilmiah dan menghormati nilai dan budaya lokal,” kata Herlina menambahkan.

Ia menceritakan bahwa, Hutan Lindung Wehea telah menjadi laboratorium riset alam, sejak 2007 hingga saat ini. Hutan Wehea ditetapkan sebagai hutan lindung, dan pengelolaannya menggunakan hukum adat masyarakat Dayak Wehea, berdasarkan hasil riset, temuan orang utan dan budaya adat setempat. Kolaborasi dengan BRIN akan berjalan selama lima tahun hingga 2030.

“Menguatkan riset konservasi diharapkan menjadi pijakan, untuk menjaga hutan Kalimantan, dan keanekaragaman hayati di dalamnya,” ujar Herlina.

Tentang YKAN

Baca Juga:  DPRD Minta Pemkab Berau, Prioritaskan Penanganan Banjir Di Bedungun

Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) adalah organisasi nirlaba berbasis ilmiah yang hadir di Indonesia sejak 2014. YKAN memberikan solusi inovatif demi mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif, mengedepankan pendekatan nonkonfrontatif, serta membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak kepentingan untuk Indonesia yang lestari. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.ykan.or.id. 

 

(Sean)

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Imigrasi Samarinda Gandeng Media, Perkuat Transparansi dan Tangkal Disinformasi Keimigrasian
Meski Akses Terbatas Hambat Penanganan Karhutla, BPBD Kaltim Pastikan Tetap Komitmen 
Sekjen Korda CMI Kaltim Kritik DLH Provinsi Soal Persoalan Sampah
Petugas dan Warga Binaan Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda Lakukan Shalat Ghaib Untuk Alm. Endang Lintang Hardiman
Pendaftaran Tanah Warga Terdampak Tol Balikpapan-Samarinda Lambat, Budianto bulang Minta Kepastian
Peringati Bulan Bung Karno, PDI Perjuangan Samarinda Tanam Pohon Buah Di Folder Air Hitam
Haraku Ramen Resmi Hadir Di Samarinda, Sajikan Cita Rasa Jepang Yang Nyaman Di Lidah, Kantong, Dan Hati
Ratusan Rumah Rusak Akibat Gempa Sigi, PMII Serukan Gerakan Solidaritas Kemanusiaan
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 15:33 WITA

Imigrasi Samarinda Gandeng Media, Perkuat Transparansi dan Tangkal Disinformasi Keimigrasian

Kamis, 13 Agustus 2026 - 15:01 WITA

Meski Akses Terbatas Hambat Penanganan Karhutla, BPBD Kaltim Pastikan Tetap Komitmen 

Kamis, 13 Agustus 2026 - 13:56 WITA

Sekjen Korda CMI Kaltim Kritik DLH Provinsi Soal Persoalan Sampah

Kamis, 13 Agustus 2026 - 07:05 WITA

Petugas dan Warga Binaan Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda Lakukan Shalat Ghaib Untuk Alm. Endang Lintang Hardiman

Jumat, 7 Agustus 2026 - 08:37 WITA

Pendaftaran Tanah Warga Terdampak Tol Balikpapan-Samarinda Lambat, Budianto bulang Minta Kepastian

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi IAIN Tana Tidung. (MetaAI)

Tana Tidung

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:32 WITA