Teguh Santosa: BRICS New Delhi Uji Arah Baru Politik Luar Negeri Indonesia

- Redaksi

Senin, 14 September 2026 - 13:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Dr. Teguh Santosa menghadiri Pertemuan Menteri Lingkungan BRICS di India, 18 Agustus 2026.

Foto: Dr. Teguh Santosa menghadiri Pertemuan Menteri Lingkungan BRICS di India, 18 Agustus 2026.

Lintasjejaring.com, Jakarta – Keikutsertaan Indonesia sebagai anggota penuh BRICS dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 di New Delhi, India, menjadi momentum penting bagi arah politik luar negeri Indonesia. Senin (14/09/2026).

Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, menilai kehadiran Indonesia dalam forum tersebut bukan sekadar agenda diplomasi. Sebaliknya, posisi itu menunjukkan langkah Indonesia dalam merespons perubahan peta kekuatan geopolitik dunia.

KTT BRICS ke-18 berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi. Pertemuan tersebut menghasilkan Deklarasi New Delhi pada 12 September 2026 dengan tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation, and Sustainability”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Teguh, momentum tersebut memiliki arti historis bagi Indonesia. Pasalnya, untuk pertama kalinya Indonesia mengikuti KTT BRICS sebagai anggota penuh.

Karena itu, Indonesia kini memiliki ruang yang lebih besar untuk memperjuangkan kepentingan nasional. Pada saat yang sama, posisi tersebut dapat memperkuat suara negara-negara Global South dalam menghadapi perubahan tata ekonomi dunia.

BRICS dan Warisan Bandung 1955

Lebih lanjut, Teguh melihat keterlibatan Indonesia di BRICS memiliki hubungan erat dengan tradisi diplomasi yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung.

Menurutnya, semangat Bandung yang mengedepankan kesetaraan kedaulatan dan penolakan terhadap dominasi kekuatan besar kini menemukan ruang baru melalui kerja sama BRICS.

“Kehadiran Indonesia dalam forum strategis ini turut memperkuat gaung solidaritas Asia-Afrika yang berakar dari Semangat Bandung 1955. Prinsip kesetaraan kedaulatan dan penolakan terhadap hegemoni sepihak menemukan saluran institusional yang efektif melalui wadah kerja sama ekonomi berkembang seperti BRICS,” ujar Teguh.

Selain itu, dosen Hubungan Internasional UIN Jakarta tersebut menilai perkembangan BRICS membuka peluang bagi negara berkembang untuk memperkuat posisi dalam menghadapi dominasi tata ekonomi global.

Baca Juga:  September Membuat Sejarah Kelam Baru? Masih Layakkah Kalimantan Disebut Paru-Paru Dunia?

Oleh sebab itu, menurutnya keanggotaan Indonesia tidak cukup hanya menjadi simbol diplomatik. Indonesia perlu memanfaatkan forum tersebut untuk memperkuat kepentingan ekonomi, teknologi, pangan, energi, dan pembangunan nasional.

Reformasi Tata Kelola Global

Sementara itu, Teguh mengapresiasi sejumlah substansi dalam Deklarasi New Delhi. Salah satu agenda yang mendapat perhatian ialah dorongan reformasi terhadap lembaga multilateral dunia.

Dalam deklarasi tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Bank Dunia, dan Dana Moneter Internasional (IMF) menjadi bagian dari pembahasan mengenai reformasi tata kelola global.

Menurut Teguh, reformasi tersebut penting agar lembaga internasional lebih mencerminkan perubahan kekuatan ekonomi dunia. Dengan demikian, negara berkembang dapat memperoleh ruang representasi yang lebih proporsional dalam menentukan kebijakan global.

Selain reformasi kelembagaan, Deklarasi New Delhi juga menyoroti ketahanan rantai pasok global dan transformasi digital. Di sisi lain, ketahanan pangan serta transisi energi berkelanjutan turut menjadi agenda penting.

Bagi Teguh, isu tersebut memiliki kaitan langsung dengan kepentingan Indonesia. Sebab, penguasaan teknologi dan kemampuan membangun rantai pasok yang kuat akan menentukan ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik.

“Kolaborasi riset dan transfer teknologi hijau antarnegara anggota diupayakan untuk mengakselerasi target pembangunan berkelanjutan tanpa mengorbankan kepentingan ekonomi domestik,” katanya.

LCS Buka Peluang Kurangi Ketergantungan

Selain isu teknologi dan energi, BRICS juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan bilateral atau Local Currency Settlement (LCS).

Baca Juga:  Video: Kelemahan dan Kelebihan All New Terios

Menurut Teguh, langkah tersebut dapat menjadi bagian dari upaya negara-negara anggota mengurangi kerentanan terhadap gejolak sistem keuangan global.

Bagi Indonesia, skema LCS juga membuka peluang untuk memperluas kerja sama perdagangan. Bahkan, kebijakan tersebut dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap mata uang dominan dalam transaksi internasional.

Namun demikian, Indonesia tetap membutuhkan strategi yang matang. Setiap kerja sama harus mampu memberikan manfaat konkret bagi perekonomian nasional, bukan sekadar menghasilkan kesepakatan diplomatik.

Tantangan BRICS Justru Setelah KTT

Di balik optimisme terhadap hasil KTT New Delhi, Teguh mengingatkan bahwa tantangan terbesar BRICS justru muncul setelah pertemuan berakhir.

Sebab, berbagai komitmen dalam deklarasi harus segera diterjemahkan menjadi program dan kebijakan nyata. Tanpa langkah konkret, deklarasi berisiko hanya menjadi dokumen diplomatik tanpa dampak langsung bagi masyarakat.

Sementara itu, Teguh menilai India berhasil menjalankan perannya sebagai tuan rumah dengan menjembatani kepentingan negara-negara anggota yang memiliki latar belakang politik dan ekonomi berbeda.

Kemampuan tersebut menjadi modal penting bagi keberlanjutan BRICS. Meski begitu, soliditas kelompok tersebut pada akhirnya tetap bergantung pada kemampuan para anggota mengubah kesepakatan menjadi kerja sama nyata.

“Keterlibatan aktif Indonesia diharapkan mampu menjadi katalisator pengisi substansi kerja sama yang berpihak pada keadilan sosial global. Suara Indonesia akan memperkuat posisi tawar negara-negara berkembang dalam menuntut tata ekonomi dunia yang lebih adil dan transparan,” tegas Teguh.

Indonesia Harus Ambil Peran

Dengan keanggotaan penuh di BRICS, Indonesia kini memiliki ruang diplomasi yang semakin luas. Karena itu, pemerintah perlu memanfaatkan posisi tersebut untuk memperkuat kepentingan nasional sekaligus mendorong kerja sama yang memberikan manfaat nyata.

Baca Juga:  Driver Ojol di Kaltim Tuntut Revisi Tarif hingga Moratorium Mitra Baru, Wagub Seno Aji Siapkan Tim Kajian

Di sisi lain, Indonesia juga perlu menjaga konsistensi politik luar negeri bebas dan aktif. Dengan pendekatan tersebut, Indonesia dapat bekerja sama dengan berbagai kekuatan tanpa kehilangan ruang untuk menentukan kepentingan nasionalnya sendiri.

Pada akhirnya, Teguh melihat Deklarasi New Delhi sebagai sinyal semakin kuatnya tuntutan terhadap tata dunia multipolar. Negara-negara berkembang kini ingin memperoleh peran yang lebih besar dalam menentukan arah ekonomi dan politik global.

Dalam konteks tersebut, Indonesia memiliki modal sejarah sekaligus posisi strategis untuk memainkan peran lebih besar.

Semangat Bandung 1955 memberikan fondasi diplomasi Indonesia. Sementara itu, keanggotaan BRICS memberikan ruang baru untuk menerjemahkan semangat tersebut ke dalam kerja sama ekonomi dan geopolitik.

Dengan demikian, tantangan Indonesia bukan lagi sekadar memastikan kehadirannya dalam forum global. Lebih jauh, Indonesia harus mampu menggunakan posisi tersebut untuk memperjuangkan kepentingan nasional dan mendorong terciptanya tata dunia yang lebih adil.

Penulis : Sull

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dinkes Samarinda Siagakan Puskesmas Palaran dan Makroman Hadapi Ancaman ISPA akibat Karhutla
PMII Unmul Surati Prabowo-Gibran, Soroti Legitimasi Pemilihan Rektor
Bocah 12 Tahun Meregang Nyawa Di Lubang Tambang, JATAM Desak KSU PUMMA Bertanggung Jawab
Rocky Gerung Resmi Jadi Wantimpres Prabowo, Tegaskan  Tetap ‘Radical Break’
Kursi 2 RI Di Gugat, Administrasi Gibran Jadi Persoalan Di Meja MK
Usai Di Telpon Prabowo, Nahkoda Menkeu Di Gantikan Suahasil Nazara
Ratusan Rumah Rusak Akibat Gempa Sigi, PMII Serukan Gerakan Solidaritas Kemanusiaan
Syahariah Pastikan Tidak Maju dalam Pemilihan Ketua KONI Kaltim

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 21:46 WITA

Dinkes Samarinda Siagakan Puskesmas Palaran dan Makroman Hadapi Ancaman ISPA akibat Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 - 20:25 WITA

PMII Unmul Surati Prabowo-Gibran, Soroti Legitimasi Pemilihan Rektor

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:34 WITA

Bocah 12 Tahun Meregang Nyawa Di Lubang Tambang, JATAM Desak KSU PUMMA Bertanggung Jawab

Jumat, 2 Oktober 2026 - 20:00 WITA

Rocky Gerung Resmi Jadi Wantimpres Prabowo, Tegaskan  Tetap ‘Radical Break’

Rabu, 23 September 2026 - 17:13 WITA

Kursi 2 RI Di Gugat, Administrasi Gibran Jadi Persoalan Di Meja MK

Berita Terbaru