LintasJejaring.com, TEHERAN — Langit Teheran dilaporkan menyala oleh dentuman serangan udara, pada Sabtu malam. Beberapa jam kemudian, babak panjang dalam sejarah Republik Islam Iran resmi berakhir. Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran selama lebih dari 30 tahun, tewas di kompleks kantornya setelah serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel. Ia wafat di usia 86 tahun.
Media pemerintah Iran pada hari Minggu, mengonfirmasi kematian tersebut dan mengumumkan masa berkabung nasional, selama 40 hari.
Sementara itu di Washington, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyebut kematian Khamenei sebagai sebuah “keadilan,” ia menuduhnya bertanggung jawab atas kematian warga Amerika, dan korban di berbagai belahan dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kematian Khamenei menutup era yang membentuk arah politik Iran sejak 1989, ketika ia menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini pasca – revolusi Islam 1979. Namun, kepergiannya justru membuka pertanyaan besar, siapa yang akan mengisi kekosongan di puncak struktur kekuasaan paling berpengaruh di Iran?
Dari Revolusi ke Represi
Dengan janggut putih dan sorban hitamnya, Khamenei lama memproyeksikan citra ulama asketis, yang nyaris tak pernah tersenyum. Ia jarang bepergian ke luar negeri dan sejak menjabat sebagai pemimpin tertinggi, tidak pernah meninggalkan Iran.
Ia muncul dari arus revolusi anti-monarki 1979, gerakan religius yang menggulingkan Shah dan membangun sistem teokrasi modern. Sebelum itu, ia beberapa kali dipenjara dan diasingkan karena aktivitas politiknya.
Namun selama memimpin, Khamenei dikenal lebih sebagai penjaga sistem ketimbang reformator. Setiap gelombang protes dijawab dengan kekuatan aparat. Demonstrasi besar 2009 dipadamkan. Protes akibat kenaikan harga bahan bakar 2019 berujung kekerasan mematikan. Pada 2022, kematian seorang perempuan muda dalam tahanan polisi, yang memunculkan moral yang memicu pemberontakan nasional, yang kembali dibalas dengan tindakan keras.
Gelombang kerusuhan Desember 2025, yang dipicu runtuhnya nilai mata uang Iran hingga kebutuhan pokok melambung, menjadi salah satu episode paling berdarah. Kelompok hak asasi manusia memperkirakan lebih dari 7.000 orang tewas setelah akses internet diputus total.
Di setiap krisis, Khamenei berdiri di belakang aparat keamanan. Dalam salah satu pernyataannya, ia menyebut para demonstran sebagai “perusuh” yang harus “ditempatkan pada tempatnya.”
Ideologi Perlawanan
Khamenei memosisikan Iran sebagai poros anti-Israel dan anti-Amerika di Timur Tengah. Ia secara terbuka menyebut negara Israel sebagai “tumor kanker”, dan berulang kali menyerukan kehancurannya.
Ketidakpercayaannya terhadap Amerika Serikat, berakar pada sejarah campur tangan Washington dalam politik Iran, serta dukungan terhadap rezim Shah yang pernah memenjarakannya.
Di bawah kepemimpinannya, Korps Garda Revolusi Islam berkembang menjadi kekuatan militer sekaligus ekonomi yang dominan, dengan pengaruh meluas ke Irak, Suriah, Lebanon, Yaman, hingga Gaza. Jaringan milisi dan sekutu regional dibangun sebagai “lingkar pencegah” terhadap Israel dan sekutu Barat.
Namun peta kekuatan kawasan berubah drastis setelah serangan Hamas pada Oktober 2023, dan respons militer Israel yang menghancurkan banyak elemen yang disebut sebagai “Poros Perlawanan.” Pemimpin Hamas tewas, Hizbullah dilemahkan, dan jatuhnya Bashar al-Assad pada 2024, menjadi pukulan berat bagi arsitektur regional yang dibangun Khamenei selama bertahun-tahun.
Nuklir dan Ketegangan Global
Meski berkali-kali menyatakan Iran tidak menginginkan senjata nuklir, Khamenei tetap mengawasi pengembangan program, yang dicurigai Barat memiliki dimensi militer.
Kesepakatan nuklir 2015 yang dicapai pada masa Presiden Hassan Rouhani, sempat membuka jalan diplomasi, tetapi runtuh setelah Amerika Serikat keluar dari perjanjian pada 2018.
Hubungan Teheran-Washington sejak itu kembali memburuk, diselingi ketegangan militer dan perang bayangan di berbagai wilayah.
Dari Ulama Muda ke Pemimpin Tertinggi
Lahir pada 17 Juli 1939 di Mashhad, Khamenei pindah ke Qom pada usia 19 tahun untuk belajar di bawah Ayatollah Khomeini. Ia bukan pilihan paling jelas sebagai penerus pada 1989, karena tingkat keilmuannya dianggap belum memenuhi syarat konstitusi. Amandemen dilakukan agar ia dapat menduduki posisi tersebut.
Di masa mudanya, ia dikenal sebagai pecinta sastra dan perokok pipa. Percobaan pembunuhan pada awal 1980-an melumpuhkan tangan kanannya. Beberapa bulan setelah insiden itu, ia terpilih sebagai presiden sebelum akhirnya naik menjadi pemimpin tertinggi.
Selama tiga dekade lebih, ia menjadi figur paling berkuasa di Iran lebih tinggi dari presiden mana pun. Presiden datang dan pergi, dari yang konservatif hingga yang moderat, tetapi ruang reformasi selalu dibatasi oleh garis ideologis yang ia jaga ketat.
(Kinka)









