Lintasjejaring.com, Muara Wahau – Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di tingkat pengecer di Kecamatan Wahau dan Kombeng, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), mencapai Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter. Harga tersebut dua kali lipat dibandingkan harga Pertalite di SPBU yang berada di kisaran Rp10 ribu per liter. Selasa (25/08/2026).
Kondisi tersebut membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan BBM, terutama ketika pasokan di SPBU terbatas. Selain Pertalite, harga Pertamax di tingkat pengecer juga mencapai sekitar Rp20 ribu per liter, sementara harga Pertamax di SPBU sebesar Rp16.300 per liter.
Seorang pengecer BBM di wilayah Wahau yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, tingginya harga di tingkat eceran bukan semata-mata karena keinginan pedagang untuk mengambil keuntungan lebih besar. Menurutnya, harga sangat dipengaruhi oleh ketersediaan BBM serta beban operasional (antrian panjang) yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan pasokan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau stok mudah didapat, tentu harga bisa lebih rendah. Sekarang barangnya yang susah, jadi harga di eceran ikut naik,” ujarnya.
Jika dibandingkan dengan harga Pertalite di SPBU sekitar Rp10 ribu per liter, harga eceran Rp18 ribu-Rp20 ribu membuat masyarakat harus membayar lebih mahal sekitar Rp8 ribu hingga Rp10 ribu untuk setiap liter. Artinya, harga Pertalite di tingkat eceran bisa mencapai 80 hingga 100 persen lebih tinggi dibandingkan harga di SPBU.
Sementara untuk Pertamax, harga eceran sekitar Rp20 ribu per liter terpaut Rp3.700 dari harga SPBU yang berada di angka Rp16.300 per liter. Dengan demikian, konsumen harus membayar sekitar 22,7 persen lebih mahal ketika membeli Pertamax melalui pengecer.
Pengecer tersebut menyebut, persoalan utama yang dihadapi saat ini adalah ketersediaan stok. Ketika pasokan BBM terbatas sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, harga di tingkat eceran ikut meroket.
“Yang paling utama memang stok. Kalau stok ada dan pengiriman lancar, harga tidak akan setinggi ini. Tapi kalau barang sulit didapat, otomatis harga ikut naik,” tuturnya.
Selain ketersediaan, faktor jarak distribusi juga menjadi persoalan. Pengiriman menggunakan mobil tangki menuju wilayah Wahau dan Kombeng membutuhkan perjalanan yang cukup jauh. Kondisi geografis tersebut membuat biaya distribusi menjadi lebih tinggi dibandingkan daerah yang berada lebih dekat dengan pusat penyaluran.
“Jaraknya jauh. Mobil tangki harus menempuh perjalanan yang cukup lama untuk sampai ke sini. Itu juga berpengaruh terhadap ketersediaan BBM yang kami dapatkan,” katanya.
Keterbatasan pasokan membuat keberadaan pengecer BBM tetap dibutuhkan masyarakat. Bagi warga yang membutuhkan bahan bakar untuk kendaraan maupun aktivitas sehari-hari, membeli BBM eceran menjadi pilihan yang tak bisa di acuhkan ketika tidak mendapatkan pasokan di SPBU.
Namun, pilihan tersebut membuat masyarakat harus menanggung harga yang jauh lebih tinggi. Kondisi ini terutama terasa pada Pertalite yang harganya dapat mencapai Rp20 ribu per liter atau hampir dua kali lipat dari harga di SPBU.
Situasi tersebut menunjukkan tantangan distribusi BBM di wilayah jalur poros Kutim-Berau ini. Ketersediaan pasokan, jarak pengiriman yang jauh serta kebutuhan masyarakat menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi harga BBM di tingkat eceran.
Maka dari itu, kelancaran distribusi dan kepastian ketersediaan BBM menjadi penting agar masyarakat di Wahau dan Kombeng dapat memperoleh bahan bakar dengan harga yang lebih terjangkau dan tidak terpaut terlalu jauh dari harga resmi di SPBU.
Penulis : Zull
Editor : Redaksi









