Oleh : Reski Amaliyah Putri
Sebagai mahasiswa yang hidup dan belajar di Kalimantan Timur, saya cukup sering melihat berita tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sayangnya, berita-berita itu kerap hanya lewat di layar ponsel, dibaca sekilas, lalu dilupakan. Padahal, angka yang muncul bukan sekadar statistik, melainkan cerita tentang manusia yang terluka.
Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Kalimantan Timur mencatat, hingga 31 Agustus 2025 terdapat 916 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dilaporkan melalui aplikasi Simfoni PPA. Jika dirata-ratakan, hampir setiap hari ada tiga sampai empat kasus yang terjadi. Jumlah korbannya mencapai 936 orang, dan itu belum termasuk mereka yang memilih diam karena takut atau merasa tidak punya tempat untuk mengadu.
Yang membuat saya prihatin, kekerasan ini seolah menjadi hal yang “biasa”. Kita tahu angkanya tinggi, tapi jarang benar-benar membicarakan penyebabnya atau memikirkan cara mencegahnya bersama. Informasi yang beredar lebih sering berhenti pada jumlah kasus dan kronologi singkat, tanpa mengajak masyarakat untuk memahami persoalan ini secara lebih dalam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Padahal, jika melihat beberapa tahun terakhir, situasinya belum menunjukkan perbaikan yang berarti. Setelah sempat menurun pada 2024, jumlah kasus kembali meningkat pada 2025. Ini menjadi tanda bahwa kekerasan bukan masalah sesaat, melainkan persoalan sosial yang terus berulang.
Sebagai mahasiswa, saya melihat pentingnya cara isu kekerasan disampaikan ke publik. Ketika informasi hanya berupa angka, empati mudah hilang. Namun, jika disertai cerita, dampak yang dirasakan korban, serta peran lingkungan sekitar, kesadaran masyarakat bisa tumbuh. Dari situ, kepedulian tidak hanya berhenti pada rasa iba, tetapi juga dorongan untuk ikut mencegah.
Kekerasan tidak seharusnya kita anggap sebagai kabar biasa. Ini adalah masalah bersama yang membutuhkan perhatian semua pihak. Jika kita terus diam dan terbiasa, angka-angka itu akan terus bertambah, dan korban baru akan terus muncul.
#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM









