LINTASJEJARING.COM, JAKARTA – Salah satu upaya Pemerintah untuk dapat memenuhi ketersediaan energi nasional adalah dengan melakukan peningkatan ketahanan energi dan mengurangi ketergantuan terhadap impor energi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mewakili pemerintah untuk dapat menyusun strategi agar dapat mewujudlan kemandirian energi.
Yuliot selaku Wakil Kementerian ESDM menyampaikan bahwa guna memenuhi akan kebutuhan serta ketersediaan energi nasional, pihaknya akan menggunakan subtitusi dari energi, seperti LPG yang dapat digantikan dengan hilirisasi batubara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Bagaimana cara kita memenuhi kebutuhan LPG yang cukup kalau sebagian pasokannya harus kita impor dulu, maka dari itu kita mengharapkan substitusinya dari hilirisasi,” ucapnya.
Yuliot usai meresmikan BBM Satu Harga Klaster Papua dan Maluku, di Ternate, Maluku Utara, Rabu (30/10).
Dirinya juga menjelaskan terkait potensi indonesia yang memiliki cadangan batu bara yang sangat besar, sehingga hal tersebut dapat dimanfaatkan menjadi peluang agar dapat melakukan hilirisasi batubara menjadi gas.
Indonesia sendiri dapat mengaplikasikan cara dari negara – negara lain dalam menangani permasalahan energi yang terjadi.

Dirinya juga menjelaskan pemerintah yang melakukan upaya – upaya pengembangan sumur minyak dan gas bumi guna mengejar ketersediaan energi dalam negeri agar dapat tercukupi.
Yuliot juga menjelaskan bahwa pemerintah tidak bergantung hanya pada energi berbasis fossil saja akan tetapi, terdapat peran dari energi baru terbarukan (EBT).
“Terkait ketersediaan energi kedepannya, kita tidak hanya menggunakan energi fossil saja, kita juga akan memakai EBT, termasuk bahan bakar nabati yang berupa biosolar, bioetanol hingga biodiesel,” jelasnya.
Upaya pemerintah untuk terus meningkatkan ketersediaan energi, salah satunya dengan peningkatan pemanfaatan biodiesel hingga B100, terhitung sejak Agustus Tahun 2023 lalu, program mandatori Biodiesel B35 telah diluncurkan dan dengan mencampurkan 35% biodiesel kedalam solar.
“Pemerintah menargetkan pengunaan B100, dimulai dari B35 yang perlahan akan kita tingkatkan menjadi B40, B50, B60 hingga B100,” tegasnya.
Ketersediaan akan bahan baku program biodiesel sendiri telah masuk dalam tahap pembahasan dengan para stakeholder terkait.
“Kita telah merapatkan perihal bahan baku dengan para para stakeholder, untuk bio ini sendiri kita dapatkan dari sektor pertanian. Kita juga telah membahas persoalan ini dengan Kementerian Pertanian,” pungkasnya.
(Sean)









