Lintasjejaring.com, Penajam – Program peningkatan keterampilan tenaga kerja di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, belum sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Dari tujuh program pelatihan yang disiapkan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) PPU sepanjang 2026, lima di antaranya masih tercatat belum terlaksana. Senin (26/10/2026).
Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kesiapan calon peserta hingga keterbatasan anggaran. Akibatnya, puluhan pencari kerja yang masuk dalam kuota pelatihan masih harus menunggu kepastian pelaksanaan program.
Berdasarkan data Disnakertrans PPU, tujuh program pelatihan tahun ini memiliki total kuota 113 peserta. Dua kegiatan telah terlaksana, yakni pelatihan forklift dengan lima peserta melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta satu pelatihan diklat security dengan 15 peserta melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, lima program lainnya yang bersumber dari APBD masih berstatus belum terlaksana dengan total kuota 93 peserta.
Kepala Bidang Penempatan, Pelatihan Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (P2NAKERTRANS) Disnakertrans PPU, Eko Yulianto, mengatakan pelaksanaan kegiatan bergantung pada kesiapan program dan peserta yang akan mengikuti pelatihan.
“Pelatihan forklift sudah terlaksana, sementara pelatihan menjahit masih belum berjalan karena sebelumnya jumlah pesertanya belum terpenuhi,” ujar Eko.
Ia menjelaskan, pelatihan menjahit baru dapat dipersiapkan lebih lanjut setelah jumlah pesertanya terpenuhi.
“Untuk menjahit itu 20 orang, tetapi belum jalan. Pesertanya baru lengkap sekarang,” katanya.
Selain menjahit, terdapat empat program lain yang masih tercatat belum terlaksana. Masing-masing meliputi pelatihan make up artist untuk 16 peserta, housekeeping 11 peserta, administrasi perkantoran 20 peserta, serta satu kegiatan diklat security dengan kuota 26 peserta.
Seluruh program tersebut dirancang untuk memberikan keterampilan praktis kepada masyarakat agar memiliki bekal lebih baik ketika memasuki dunia kerja.
Keterbatasan Anggaran Batasi Pilihan Pelatihan
Selain persoalan kesiapan peserta, kemampuan anggaran juga menjadi tantangan dalam memperluas jenis pelatihan. Disnakertrans PPU belum dapat merealisasikan sejumlah program yang membutuhkan penyelenggaraan di luar daerah.
Salah satu yang belum tersedia ialah pelatihan pengelasan atau *welder* yang direncanakan dapat dilaksanakan di daerah seperti Malang atau Semarang.
“Kalau pelatihan lainnya, seperti welder di Malang atau Semarang, belum ada. Kita terkendala efisiensi anggaran karena anggaran kita terbatas,” ungkap Eko.
Menurutnya, keterbatasan pembiayaan membuat dinas harus menyesuaikan jenis kegiatan dengan alokasi anggaran yang tersedia. Jumlah peserta, kebutuhan penyelenggaraan, hingga lokasi pelatihan turut menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan program.
Padahal, pelatihan kerja menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan daya saing pencari kerja. Keterampilan seperti menjahit, tata rias, administrasi perkantoran, hingga pengelasan memiliki peluang untuk dimanfaatkan dalam dunia usaha maupun industri.
Jadwal Lima Program Belum Dipastikan
Disnakertrans PPU masih perlu menyesuaikan kesiapan peserta dan kemampuan pembiayaan sebelum menjalankan seluruh kegiatan yang tertunda. Hingga wawancara dilakukan, belum ada kepastian mengenai jadwal pelaksanaan lima program tersebut.
“Program pelatihan yang sudah direncanakan perlu kita optimalkan pelaksanaannya. Harapannya, masyarakat tetap mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan sebagai bekal memasuki dunia kerja,” pungkasnya.
Dengan demikian, keberhasilan program pelatihan tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan yang direncanakan, tetapi juga dari realisasi pelaksanaan dan manfaat keterampilan yang diperoleh peserta untuk memasuki dunia kerja.
(Mat/ADV)









