Lintasjejaring.com, Samarinda – Hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim). Namun, kedatangan musim hujan belum sepenuhnya membawa kelegaan bagi masyarakat yang selama berbulan-bulan menghadapi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Samarinda, kualitas udara masih berada dalam kategori tidak sehat, terutama pada dini hari hingga pagi. Senin (02/11/2026)
Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa turunnya hujan belum otomatis mengakhiri dampak karhutla. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi kualitas udara Samarinda selama 15 hari terakhir masih menunjukkan tren tidak sehat, meskipun mulai membaik ketika hujan turun.
Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda, Duo Rahman Abdila, menjelaskan, peningkatan curah hujan dalam beberapa hari terakhir menjadi tanda wilayah Kaltim mulai memasuki masa peralihan menuju musim hujan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejumlah daerah yang mulai mengalami peningkatan curah hujan meliputi Samarinda, Berau, Balikpapan, Paser, hingga Mahakam Ulu.
“Memang sedang mengalami transisi menuju musim hujan. Di beberapa daerah mulai memasuki tingkat curah hujan yang lebih bertambah,” kata Rahman.
Perubahan pola angin yang mulai bergerak dari timur serta kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan konvektif turut meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah Kaltim.
BMKG memperkirakan potensi hujan semakin meningkat pada paruh kedua November 2026. Adapun puncak musim hujan di Samarinda diprediksi berlangsung pada Desember mendatang.
“Potensi hujan tentunya akan meningkat seiring berjalannya waktu, terutama di awal musim hujan nanti sekitar November paruh kedua dan akan mencapai puncaknya di Desember,” ujarnya.
Meski begitu, hujan belum tentu turun setiap hari. Jeda tanpa hujan masih berpotensi terjadi sehingga ancaman kebakaran lahan belum sepenuhnya dapat dikesampingkan.
Hujan Belum Merata, Partikulat Masih Mengancam
Peningkatan curah hujan diharapkan membantu mengurangi konsentrasi partikulat yang selama ini mencemari udara akibat karhutla. Namun, efektivitas hujan sangat bergantung pada intensitas dan pemerataannya, terutama di kawasan yang memiliki banyak titik panas atau hotspot.
“Harapannya, dengan meningkatnya intensitas dan jumlah curah hujan, asap bisa lebih dinetralkan melalui turunnya hujan,” jelas Rahman.
Dia menegaskan, hujan perlu menjangkau kawasan yang terindikasi mengalami karhutla agar proses pengurangan asap dapat berlangsung lebih optimal.
“Namun, dengan catatan curah hujannya cukup dan merata di wilayah-wilayah yang terindikasi memiliki karhutla atau titik hotspot cukup banyak,” tambahnya.
Di sisi lain, kondisi udara Samarinda masih membutuhkan perhatian. Pemantauan BMKG selama dua pekan terakhir menunjukkan kualitas udara belum sepenuhnya pulih dari dampak pencemaran partikulat.
Rahman menyebut, hujan memang memberikan pengaruh positif terhadap kondisi udara. Akan tetapi, perbaikan tersebut belum berlangsung secara konsisten.
“Tren dari dua minggu terakhir atau 15 hari terakhir sebenarnya masih berada dalam kategori tidak sehat. Akhir-akhir ini selama ada hujan cenderung lebih baik kondisi kualitas udaranya,” ungkapnya.
Masyarakat juga diminta mewaspadai periode dini hari hingga pagi, khususnya pukul 02.00 sampai 08.00 Wita. Pada rentang waktu tersebut, partikulat di udara cenderung terkumpul dalam jumlah cukup banyak.
Kondisi ini membuat ancaman paparan udara tidak sehat masih perlu diperhatikan, sekalipun hujan mulai turun di sejumlah kawasan.
El Nino Membayangi Musim Hujan
Tantangan pemulihan lingkungan di Kaltim belum berhenti. Fenomena El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga akhir 2026 dan berpotensi membuat curah hujan selama musim penghujan sedikit berada di bawah kondisi normal.
Meski demikian, pergerakan matahari menuju belahan bumi selatan serta perubahan pola angin turut mendukung pembentukan awan hujan.
“El Nino masih tetap ada sampai akhir tahun. Namun, matahari saat ini sudah bergerak ke belahan bumi selatan, sehingga musim hujan sangat wajar terjadi. Hanya saja intensitasnya sedikit berada di bawah normal karena El Nino tadi,” papar Rahman.
Peningkatan curah hujan tidak hanya diharapkan membantu menekan kabut asap, tetapi juga memperbaiki ketersediaan air di sejumlah wilayah, termasuk mendukung peningkatan debit Sungai Mahakam.
BMKG berharap hujan semakin intensif dan menjangkau daerah-daerah yang sebelumnya mengalami kekeringan. Pemerataan curah hujan dinilai penting untuk menekan risiko karhutla sekaligus mempercepat pemulihan kualitas udara di Kaltim.
“Harapannya, hujan tidak hanya turun di beberapa wilayah, tetapi juga merata hingga daerah yang masih mengalami kekeringan. Dengan begitu, risiko karhutla bisa ditekan dan kualitas udara masyarakat perlahan membaik,” tutupnya.
Penulis : Sull
Editor : Redaksi










