Lintasjejaring.com, Samarinda – Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda memperkuat kesiapsiagaan layanan medis, terutama di wilayah yang terdampak kebakaran. Puskesmas Palaran dan Makroman menjadi perhatian untuk memastikan masyarakat tetap mendapat pelayanan kesehatan di tengah risiko gangguan pernapasan. Senin (26/10/2026)
Langkah tersebut dilakukan seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap paparan polusi udara yang dapat memicu gangguan kesehatan. Kepala Dinkes Samarinda, Ismid Kusasih, mengatakan tenaga medis yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Bencana Pemerintah Kota Samarinda tetap disiagakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Berdasarkan rekapitulasi penanganan medis periode 1–23 Oktober 2026, pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Samarinda didominasi kelompok usia produktif dan pelajar. Tingginya mobilitas kedua kelompok tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan di tengah kondisi udara yang memburuk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau dilihat dari kelompok usianya, masyarakat usia produktif memang memiliki jumlah penduduk yang besar. Mereka juga lebih banyak beraktivitas di luar rumah, baik untuk bekerja maupun bersekolah,” ujar Ismid
Puskesmas di Wilayah Rawan Jadi Perhatian (penajukan 2, bold)
Dinkes Samarinda meminta tenaga kesehatan, mulai dari dokter hingga perawat, meningkatkan kesiapsiagaan di wilayah yang aktivitas karhutlanya cukup tinggi. Puskesmas Palaran dan Makroman menjadi dua fasilitas kesehatan yang mendapat perhatian dalam upaya mengantisipasi kebutuhan pelayanan masyarakat.
Kesiapan tenaga medis dinilai penting agar warga yang mengalami keluhan kesehatan tetap dapat memperoleh pemeriksaan dan penanganan. Terlebih, paparan asap dalam aktivitas sehari-hari dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan.
Ismid menegaskan, kesiapsiagaan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab tenaga kesehatan yang tergabung dalam Satgas Bencana Pemkot Samarinda.
“Tenaga medis, mulai dari dokter sampai perawat, tetap siaga di daerah yang kasus karhutlanya marak, seperti di wilayah Puskesmas Makroman dan Palaran. Pelayanan harus tetap berjalan karena ini bagian dari tugas kami dalam Satgas Bencana,” tegasnya.
Meski demikian, data pasien ISPA tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh kasus disebabkan oleh karhutla. Gangguan pernapasan dapat dipengaruhi berbagai faktor, sehingga kondisi kesehatan masyarakat tetap perlu dipantau seiring berlangsungnya kebakaran dan paparan polusi udara.
Usia Produktif dan Pelajar Rentan Terpapar
Dominasi pasien dari kelompok usia produktif dan pelajar menjadi perhatian karena aktivitas harian mereka relatif tinggi. Kegiatan bekerja, perjalanan menuju tempat kerja atau sekolah, hingga aktivitas di luar gedung dapat meningkatkan durasi paparan ketika kualitas udara memburuk.
Kondisi ini membuat upaya pencegahan perlu dilakukan tidak hanya melalui kesiapan fasilitas kesehatan, tetapi juga dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melindungi diri.
Warga diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak ketika kabut asap semakin pekat. Jika harus beraktivitas di luar, penggunaan masker yang sesuai dan pembatasan paparan asap menjadi langkah perlindungan yang perlu diperhatikan.
Masyarakat Diimbau Disiplin Menggunakan Masker (penajukan 2, bold)
Selain memastikan pelayanan medis tetap berjalan, Dinkes Samarinda mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan perlindungan diri selama kondisi udara belum membaik.
Penggunaan masker menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan partikel pencemar. Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi tubuh dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau keluhan pernapasan yang memburuk.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap disiplin menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Ini salah satu upaya untuk mengurangi risiko paparan yang dapat memicu gangguan pernapasan,” pungkas Ismid.
Kesiapsiagaan puskesmas dan kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan langkah pencegahan, diharapkan dapat membantu menekan risiko gangguan kesehatan selama karhutla masih mengancam kualitas udara di Samarinda.
Penulis : Sull
Editor : Redaksi










