Lintasjejaring.com, Samarinda – Dinas Kesehatan Kalimantan Timur memperkuat penanganan HIV/AIDS dengan mendekatkan pendampingan teknis ke fasilitas pelayanan kesehatan (faskes). Langkah ini diarahkan agar pelaksanaan program di daerah tidak hanya berjalan, tetapi juga semakin sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Jumat (02/10/2026).
Penguatan tersebut dilakukan melalui Technical Assistant District Mentoring Program HIV Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2026, yang melibatkan Yayasan Kasih Suwitno (YKS).
Program district mentoring berlangsung sepanjang 2025–2026 dan menyasar empat wilayah di Kaltim, yakni Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara, dan Kutai Timur. Pada setiap wilayah, enam faskes mendapat pendampingan dari tim mentor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kaltim sendiri menjadi satu dari delapan provinsi yang mendapat dukungan program tersebut. YKS menjalankan peran sebagai Sub-Recipient Kementerian Kesehatan dalam memberikan asistensi teknis kepada faskes sasaran.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Andi Muhammad Ishak, mengatakan pendampingan teknis dibutuhkan agar pelayanan HIV/AIDS tetap berjalan dengan baik di daerah.
Menurut dia, kerja sama antara pemerintah, tenaga pendamping, dan fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program.
“Sinergi pendampingan teknis ini sangat penting untuk memastikan pelayanan penanggulangan HIV/AIDS dapat terus berjalan secara optimal,” kata Andi Muhammad Ishak.
Ia menjelaskan, mentor tidak hanya hadir dalam kegiatan formal, tetapi memberikan dukungan teknis kepada faskes yang menjadi sasaran program.
Dengan pola tersebut, berbagai kebutuhan di lapangan dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus dasar untuk memperkuat layanan HIV/AIDS.
“Empat wilayah sasaran utama program pendampingan mencakup Kota Samarinda, Kota Balikpapan, Kabupaten Kutai Kartanegara, serta Kabupaten Kutai Timur,” ujar Andi.
24 Faskes Masuk Program Pendampingan
Jika dihitung dari enam faskes di setiap wilayah, program ini mencakup 24 fasilitas pelayanan kesehatan di empat daerah.
Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas faskes dalam menjalankan program HIV/AIDS. Dinkes Kaltim juga menggunakan kegiatan monitoring dan evaluasi untuk melihat sejauh mana pendampingan berjalan serta apa saja yang masih perlu diperbaiki.
Pertemuan monitoring dan evaluasi yang digelar Jumat itu sekaligus menandai berakhirnya rangkaian kegiatan yang mendapat dukungan anggaran YKS di regional Kaltim pada 2026.
Andi menyampaikan penghargaan kepada YKS, para mentor, dan seluruh pihak yang terlibat dalam program tersebut.
“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Yayasan Kasih Suwitno, para mentor, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam memperkuat pelaksanaan program HIV/AIDS di Kalimantan Timur,” tuturnya.
Evaluasi Tak Boleh Berhenti di Laporan
Bagi Dinkes Kaltim, berakhirnya rangkaian mentoring bukan berarti penguatan layanan ikut berhenti. Hasil monitoring dan evaluasi akan menjadi bahan untuk melihat kebutuhan program ke depan.
Andi berharap pengalaman selama pendampingan bisa digunakan oleh pemerintah daerah dan faskes untuk menjaga keberlanjutan layanan HIV/AIDS.
“Hasil evaluasi diharapkan menjadi bahan pembelajaran berharga bagi penguatan keberlanjutan program HIV/AIDS di tingkat daerah,” katanya.
Dinkes Kaltim selanjutnya akan memanfaatkan hasil evaluasi tersebut untuk memperkuat kapasitas kelembagaan sekaligus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
Andi juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor agar penanganan HIV/AIDS tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Sinergi lintas sektor sangat krusial untuk memastikan percepatan penanggulangan HIV/AIDS dapat tercapai secara efektif,” kata Andi.
Dengan pola pendampingan ini, Dinkes Kaltim mendorong agar kemampuan faskes semakin kuat dan layanan HIV/AIDS dapat terus berjalan secara berkelanjutan di tingkat daerah.
Penulis : Sull
Editor : Redaksi










