Lintasjejaring.com, Samarinda – Perayaan Erau 2026 tidak sekadar menjadi ruang untuk menjaga tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara. Kehadiran pembacaan Maulid Barzanji dalam rangkaian kegiatan tahun ini, juga menghadirkan warna baru yang mempertemukan nilai budaya dengan pesan spiritual. Senin (28/09/2026).
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Samarinda, Saparudin, menilai perpaduan tersebut sebagai bentuk inovasi yang tetap berpijak pada akar tradisi.
Menurutnya, masyarakat perlu memberi ruang terhadap perkembangan budaya selama inovasi tersebut membawa nilai positif dan tetap menghormati tradisi yang sudah hidup di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sebagai orang tua, terlepas dari posisi saya sebagai Ketua FKUB, tentu saya mengapresiasi budaya-budaya yang hidup dan berkembang di daerah kita,” kata Saparudin.
Barzanji Membawa Pesan Spiritual
Saparudin menjelaskan, pembacaan Barzanji bukan sekadar rangkaian ritual. Tradisi tersebut memuat kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW sekaligus menggambarkan nilai-nilai kehidupan yang dibangun para ulama.
Karena itu, penyampaian pesan keagamaan melalui Barzanji dapat membuat nilai tersebut lebih mudah diterima dan dipahami masyarakat.
“Di dalam Barzanji itu dibicarakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dan tata kehidupan yang dibangun oleh para ulama. Itu disampaikan dalam bentuk Barzanji supaya mudah dipahami oleh umat,” ujarnya.
Ia melihat kehadiran Barzanji dalam Erau menjadi bagian dari upaya menghadirkan keseimbangan antara pelestarian budaya dan penguatan nilai spiritual.
“Dalam konteks itu, saya kira kita mengapresiasi perayaan Erau yang ada di masyarakat, khususnya karena ada nilai-nilai keagamaan yang juga dihadirkan oleh pihak Kesultanan Kutai Kartanegara,” katanya.
Tradisi Tidak Berhenti pada Warisan Masa Lalu
Bagi Saparudin, budaya tidak harus berhenti pada bentuk yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Tradisi tetap bisa berkembang melalui kreativitas, selama perubahan tersebut tidak menghilangkan nilai dasar yang menjadi identitasnya.
Ia menilai perpaduan antara unsur budaya dan spiritual justru dapat memperkaya sebuah perayaan adat.
“Sebagai masyarakat daerah kita hormati dan kita hargai sebuah inovasi, sebuah karya baru yang menggabungkan antara nilai-nilai kultural dengan nilai-nilai spiritual,” ucapnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut juga dapat membuat generasi muda semakin tertarik mengenal budaya daerah. Tradisi tidak hanya hadir sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus memiliki relevansi dalam kehidupan masyarakat.
Samarinda dan Jejak Kesultanan Kutai
Saparudin juga mengingatkan bahwa masyarakat Samarinda memiliki hubungan historis dengan Kesultanan Kutai. Karena itu, penghormatan terhadap tradisi Kesultanan menjadi bagian dari penghormatan terhadap sejarah dan identitas daerah.
Ia menggambarkan hubungan tersebut sebagai hubungan timbal balik. Masyarakat menghormati Kesultanan, sementara Kesultanan ikut menjaga tradisi yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Prinsip tersebut, menurutnya, sejalan dengan ungkapan “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
“Budaya yang ada kita perkuat, kita pertahankan dan kita kembangkan. Dalam konteks dikembangkan inilah biasanya inovasi selalu ada, dan inovasi-inovasi baru yang positif kita harapkan mendapat respons positif dari masyarakat luas,” jelas Saparudin.
Ia berharap perpaduan budaya dan nilai keagamaan dalam Erau dapat terus berkembang secara positif. Selain menjaga identitas budaya, rangkaian kegiatan tersebut juga diharapkan membawa keberkahan dari Allah SWT serta syafaat Nabi Muhammad SAW.
Bagi FKUB Samarinda, inovasi semacam ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berjalan sendiri. Tradisi, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat dapat saling menguatkan selama tetap berada dalam koridor penghormatan terhadap keberagaman.
Penulis : Sull
Editor : Redaksi










