Lintasjejaring.com, Samarinda – Kualitas udara di Samarinda memburuk, pemantauan di Stasiun BMKG Bandara APT Pranoto, Samarinda Utara, mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 210 pada pukul 16.00 WITA. Rabu (16/09/2026).
Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat, yakni rentang 201–300. Pada waktu yang sama, jarak pandang di sekitar lokasi pemantauan hanya berkisar 1–2 kilometer dan laporan pemantauan menyebut kondisi berkabut tebal.
Data tersebut menunjukkan adanya tekanan serius terhadap kualitas udara, terutama ketika masyarakat masih merasakan dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Timur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, angka ISPU 210 perlu dibaca secara tepat. Nilai tersebut merupakan hasil pengukuran pada lokasi dan waktu tertentu, yaitu Stasiun BMKG Bandara APT Pranoto di Samarinda Utara pada pukul 16.00 WITA. Angka itu tidak otomatis menggambarkan kualitas udara di seluruh wilayah Samarinda pada waktu yang sama.
ISPU 210 Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat
BPBD Kota Samarinda mencatat nilai ISPU 210 dalam peringatan kualitas udara yang diterbitkan pada Rabu sore.
Dalam sistem kategori ISPU, nilai tersebut berada pada rentang 201–300 atau kategori sangat tidak sehat. Sebagai pembanding, ISPU 1–50 masuk kategori baik, 51–100 sedang, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, sedangkan angka 301 ke atas masuk kategori berbahaya.
Dengan demikian, angka 210 menunjukkan kualitas udara di titik pemantauan sudah melewati kategori tidak sehat.
Kondisi tersebut semakin perlu diperhatikan karena jarak pandang ikut menurun. Pemantauan mencatat visibilitas sekitar 1–2 kilometer dengan kondisi kabut tebal.
Penurunan visibilitas dapat mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pengguna kendaraan yang melintas di wilayah dengan pandangan terbatas.
Asap Karhutla Ikut Menekan Kualitas Udara
Kondisi kualitas udara Samarinda pada Rabu sore juga terlihat dalam pemantauan kualitas udara lainnya.
Data IQAir pada pukul 16.20 WITA mencatat indeks kualitas udara Samarinda sebesar 108 AQI US. Konsentrasi PM2.5 mencapai 38,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Data tersebut menggunakan sistem AQI US sehingga angkanya tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan nilai ISPU 210 seolah-olah keduanya menggunakan skala yang sama. Keduanya merupakan hasil pemantauan dengan sistem indeks yang berbeda.
Meski demikian, kedua informasi tersebut sama-sama menunjukkan adanya persoalan kualitas udara pada hari yang sama.
BMKG Samarinda juga memantau kondisi PM2.5 dan mencatat kualitas udara pada kategori yang perlu mendapat perhatian, terutama bagi kelompok masyarakat yang lebih sensitif terhadap paparan polusi udara.
Mengapa Asap Bertahan di Dekat Permukaan?
Forecaster BMKG Samarinda, Duo Rahman Abdilah, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer turut memengaruhi penyebaran asap.
Menurut Rahman, penurunan visibilitas terjadi bersamaan dengan keberadaan asap dan tutupan awan yang cukup banyak di wilayah Samarinda.
“Hasil observasi kami memang saat ini udara cenderung turun, kemudian visibilitas atau pandangan ini juga berkurang akibat adanya asap dan juga tutupan awan yang cukup menutupi langit di Samarinda,” kata Rahman.
Tutupan awan yang cukup banyak mengurangi radiasi matahari yang mencapai permukaan. Kondisi tersebut membuat proses pemanasan permukaan berkurang sehingga suhu udara ikut menurun.
Pada saat yang sama, kondisi atmosfer dapat membuat asap lebih sulit menyebar. Asap dari kebakaran hutan dan lahan kemudian bertahan lebih lama di lapisan udara dekat permukaan.
Akibatnya, konsentrasi asap menjadi lebih terasa oleh masyarakat. Jarak pandang pun dapat mengalami penurunan.
“Visibilitas yang berkurang ini besar dipengaruhi oleh adanya asap dari kebakaran hutan karena dari tutupan awannya cukup banyak, jadi asap itu cenderung terperangkap di bawah permukaan daerah Samarinda,” jelas Rahman.
Penurunan Jarak Pandang Tidak Selalu Berarti Kabut
Menurunnya jarak pandang membuat masyarakat dapat mengira kondisi tersebut semata-mata akibat kabut. Namun, BMKG melihat adanya faktor lain yang ikut memengaruhi visibilitas.
Rahman menyebut kelembapan udara saat pengamatan berada di sekitar 70 persen. Menurutnya, angka tersebut tidak menunjukkan kondisi kelembapan yang cukup tinggi untuk menjelaskan seluruh penurunan jarak pandang sebagai kabut.
“Dari data kelembaban kami itu tidak cukup sampai dikatakan ini kabut karena dia di bawah dari 90 malah sekarang sekitar 70 untuk kelembabannya,” ujarnya.
Karena itu, BMKG mengaitkan berkurangnya visibilitas dengan keberadaan asap yang tertahan di dekat permukaan.
“Makanya kami bisa mengatakan ini faktor dari asap,” tegas Rahman.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas udara tidak hanya bergantung pada seberapa banyak sumber asap yang muncul. Pergerakan udara, tutupan awan, suhu, kelembapan, dan kondisi atmosfer juga memengaruhi seberapa cepat polutan menyebar atau bertahan di suatu wilayah.
BPBD Minta Warga Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Melihat nilai ISPU yang mencapai 210, BPBD Kota Samarinda memasukkan kondisi tersebut sebagai peringatan kualitas udara sangat tidak sehat.
Peringatan BPBD mencantumkan sejumlah langkah perlindungan bagi masyarakat. Warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan tetap berada di dalam ruangan ketika kondisi udara memburuk.
Masyarakat juga disarankan menutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya udara luar ke dalam rumah.
Ketika harus keluar rumah, peringatan tersebut menyarankan penggunaan masker N95 atau respirator untuk membantu mengurangi paparan partikel udara.
Kelompok yang perlu memberikan perhatian lebih antara lain anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang sensitif terhadap perubahan kualitas udara.
Masyarakat Perlu Memantau Kondisi Udara
Kondisi Samarinda pada 16 September menunjukkan bagaimana asap dan kondisi atmosfer dapat berdampak langsung terhadap jarak pandang serta kualitas udara.
Namun, masyarakat juga perlu memahami bahwa ISPU 210 merupakan hasil pengukuran spesifik di Stasiun BMKG Bandara APT Pranoto, Samarinda Utara, pada pukul 16.00 WITA. Kondisi udara dapat berbeda antara satu kawasan dengan kawasan lainnya dan dapat berubah seiring perubahan cuaca serta pergerakan angin.
Karena itu, masyarakat sebaiknya mengikuti pembaruan dari BPBD, BMKG, dan lembaga resmi lainnya sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
Bagi pengguna kendaraan, penurunan jarak pandang juga perlu menjadi perhatian. Ketika visibilitas menurun hingga 1–2 kilometer, pengendara perlu meningkatkan kewaspadaan dan menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan.
Kondisi udara pada Rabu sore tersebut menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak hanya terlihat dari kepulan asap. Ketika asap bertahan di dekat permukaan, masyarakat juga menghadapi konsekuensi berupa penurunan jarak pandang dan memburuknya kualitas udara.
Sebagai upaya tanggap darurat, BPBD Kota Samarinda juga mencantumkan kontak darurat, guna mengantisipasi peristiwa dengan cepat. 0811-5537-007
Penulis : Sull
Editor : Redaksi









