LintasJejaring.com, SAMARINDA – Komitmen percepatan listrik desa (Lisdes), kembali ditegaskan dalam momentum penyerahan bantuan ambulans dari Perusahaan Listrik Negara (PLN), melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) kepada Yayasan Insan Nusantara Malanga di Samarinda.
Meski rasio elektrifikasi nasional terus meningkat, masih adanya ribuan desa yang belum teraliri listrik menunjukkan tantangan serius, dalam pemerataan pembangunan infrastruktur dasar. Keterbatasan akses, kondisi geografis yang sulit, hingga kebutuhan anggaran besar menjadi hambatan utama, sehingga percepatan listrik desa tidak hanya menjadi persoalan teknis, tetapi juga menyangkut komitmen negara dalam menghadirkan keadilan energi bagi seluruh wilayah.
Dalam acara penyerahan bantuan Ambulans ini turut hadir bersama masyarakat, Anggota Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR – RI), Syafruddin, ia menegaskan bahwa penyelesaian desa tanpa listrik merupakan komitmen bersama antara DPR RI, dan pemerintah pusat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Indonesia ini sudah hampir 80 tahun merdeka. Tidak boleh lagi ada desa yang belum ada listriknya,” tegasnya.
Ia menyebutkan bahwa, secara nasional masih terdapat sekitar 5.000 desa yang belum teraliri listrik, dengan total 10.600 titik yang mencakup dusun dan wilayah terpencil.
“Ini komitmen kami di Komisi XII DPR RI bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan Direktur Utama (Dirut) PLN untuk mempercepat penuntasan listrik desa,” ujarnya.
Khusus di Kalimantan Timur, ia menyampaikan tersisa sekitar 108 desa yang belum berlistrik. Menurutnya, seluruh desa diprioritaskan tanpa pengecualian, hanya saja pendekatan teknis di lapangan menyesuaikan kondisi infrastruktur dan aksesibilitas.
“Semua desa diprioritaskan. Hanya soal teknis saja. Ada yang aksesnya mudah, ada yang seperti di Kutai Barat dan Mahakam Ulu yang infrastrukturnya masih terbatas,” jelasnya.
Ia mengakui tantangan geografis Kaltim yang luas menjadi kendala tersendiri. Namun ia menegaskan, untuk kepentingan rakyat tidak ada alasan untuk menyerah.
“Namanya juga Kaltim luas. Perlu dana besar untuk konektivitas. Tapi untuk rakyat tidak ada kata mengeluh. Kita harus berjuang,” katanya.
Sementara itu, General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Kaltim-Tara, M. Chaliq Fadli, menyampaikan bahwa PLN menargetkan seluruh desa di Kalimantan Timur, dapat menikmati listrik paling lambat akhir 2027.
“Kami upayakan sampai dengan akhir 2027 seluruh desa di Kalimantan Timur sudah terlistriki,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pada 2025 PLN telah menuntaskan elektrifikasi di 42 desa. Masih tersisa 66 desa yang akan diselesaikan secara bertahap pada 2026 dan 2027.
Salah satu kendala utama, adalah akses jalan untuk distribusi material dan pembangunan jaringan listrik.
“Memang salah satu kendala melistriki desa adalah akses jalan untuk membawa peralatan. Tidak semuanya bisa dibangun jaringan tersambung ke sistem besar,” jelasnya.
Untuk wilayah yang sangat terpencil, PLN akan menggunakan solusi alternatif, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
“Ada yang harus kita layani dengan PLTS karena kondisi geografisnya. Tapi secara prinsip, semua akan kami upayakan,” katanya.
Ia juga berharap dukungan dari DPR RI dan pemerintah daerah agar target 2027 dapat tercapai sesuai rencana. Dalam kesempatan tersebut, PLN juga menyerahkan satu unit ambulans melalui program TJSL kepada Yayasan Insan Nusantara Malanga.
Ia menerangkan jika bantuan TJSL PLN itu rutin dilaksanakan setiap tahun, namun untuk komunitas Buton di Samarinda, ini merupakan yang pertama.
“Mudah-mudahan ini membawa manfaat bagi masyarakat, khususnya masyarakat Buton dan masyarakat Samarinda pada umumnya,” tandasnya.
(Fan)









