Oleh : Risma
Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur menjadi salah satu proyek besar yang bukan hanya menyangkut infrastruktur, tetapi juga masa depan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Dalam perspektif komunikasi, pembangunan IKN adalah ujian sejauh mana komunikasi publik dapat dilakukan secara terbuka, partisipatif, dan memberdayakan masyarakat lokal.
Komunikasi publik yang baik seharusnya menjembatani kepentingan negara dengan suara masyarakat. Namun, di lapangan, sering muncul kritik bahwa proses komunikasi dalam pembangunan IKN masih bersifat top-down, yaitu informasi lebih banyak disampaikan dalam bentuk sosialisasi sepihak daripada dialog dua arah. Hal ini berpotensi menimbulkan resistensi dari masyarakat adat dan warga sekitar yang merasa tanah dan ruang hidupnya terancam.
Komunikasi pembangunan menekankan bahwa pembangunan tidak hanya soal fisik, melainkan juga transformasi sosial yang melibatkan warga. Komunikasi adalah proses membangun makna bersama agar individu dan kelompok dapat berpartisipasi secara efektif dalam kehidupan sosial mereka. Dalam konteks IKN, komunikasi seharusnya tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga persuasif dan partisipatif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika pemerintah berhasil mengelola komunikasi publik dengan baik, misalnya melalui forum musyawarah, konsultasi masyarakat, serta media lokal yang ramah warga, maka proyek IKN bisa diterima dengan lebih baik. Namun, jika komunikasi hanya menjadi alat legitimasi kebijakan, konflik horizontal maupun vertikal sangat mungkin terjadi. Dengan kata lain, keberhasilan pembangunan IKN bukan hanya ditentukan oleh beton dan baja, tetapi juga oleh kualitas komunikasi antara negara dan rakyat.
Fenomena IKN di Kalimantan Timur mengajarkan bahwa komunikasi bukan sekadar penyampaian pesan, melainkan proses membangun kepercayaan. Komunikasi yang jujur, terbuka, dan partisipatif akan membuat masyarakat merasa dilibatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek. Jika pemerintah mampu menerapkan strategi komunikasi yang inklusif, maka IKN tidak hanya menjadi simbol fisik ibu kota baru, tetapi juga simbol kematangan komunikasi pembangunan di Indonesia.
#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM









