Penerangan Jalan Mati Dan Lemahnya Perlindungan Keselamatan Di Samarinda

- Redaksi

Selasa, 16 Desember 2025 - 05:45 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Muhammad Faqih Ilham, Mahasiswa UINSI Kota Samarinda.

Foto : Muhammad Faqih Ilham, Mahasiswa UINSI Kota Samarinda.

Oleh : Muhammad Faqih Ilham

Permasalahan lampu penerangan jalan umum yang tidak berfungsi di sejumlah ruas Kota Samarinda tidak dapat dipandang semata-mata sebagai gangguan teknis. Kondisi ini mencerminkan persoalan yang lebih serius, yakni lemahnya perlindungan keselamatan warga serta kurang optimalnya komunikasi publik. Lampu jalan yang padam dalam jangka waktu lama, baik di kawasan permukiman maupun di jalur utama kota, membuat masyarakat menghadapi berbagai risiko, mulai dari kecelakaan lalu lintas hingga meningkatnya potensi tindak kriminal, sekaligus menumbuhkan rasa tidak aman saat beraktivitas pada malam hari.

Fenomena tersebut relevan dianalisis melalui teori komunikasi publik, khususnya konsep responsiveness atau daya tanggap pemerintah terhadap kebutuhan dan keluhan masyarakat. Komunikasi publik yang efektif tidak berhenti pada penyampaian informasi secara sepihak, tetapi menuntut adanya interaksi dua arah yang berkelanjutan. Ketika laporan warga terkait lampu jalan yang mati disampaikan melalui berbagai kanal, namun tidak segera ditindaklanjuti, hal ini menunjukkan bahwa fungsi komunikasi publik belum berjalan secara optimal.

Baca Juga:  GEDUNG ELIT FASILITAS SULIT

Berbagai data serta pemberitaan lokal menunjukkan bahwa minimnya penerangan jalan memiliki kontribusi signifikan terhadap tingginya angka kecelakaan lalu lintas pada malam hari. Selain itu, kawasan dengan pencahayaan yang buruk cenderung lebih rawan terhadap kejahatan seperti pencurian dan perampasan. Fakta ini menegaskan bahwa lampu jalan merupakan bagian penting dari infrastruktur keselamatan publik. Namun demikian, lambannya proses perbaikan mengindikasikan bahwa aspek keselamatan warga belum sepenuhnya menjadi prioritas dalam pelaksanaan pelayanan publik.

Dari perspektif komunikasi, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan penurunan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Ketika keluhan tidak direspons secara memadai, warga merasa diabaikan dan menilai pemerintah kurang memiliki kepedulian. Padahal, komunikasi publik yang baik seharusnya mampu membangun rasa aman, kepercayaan, serta partisipasi aktif masyarakat. Lampu jalan yang dibiarkan mati justru menyampaikan pesan implisit bahwa keselamatan warga belum menjadi perhatian utama.

Oleh karena itu, penyelesaian masalah ini menuntut perbaikan menyeluruh, khususnya dalam sistem komunikasi dan mekanisme respons pemerintah daerah. Pemerintah Kota Samarinda perlu memastikan tersedianya kanal pengaduan yang mudah diakses, transparan, serta disertai kepastian waktu penanganan. Di samping itu, pendataan dan pemeliharaan lampu jalan secara berkala harus dijadikan agenda rutin, bukan sekadar tindakan reaktif. Pelibatan masyarakat di tingkat lokal, seperti RT dan kelurahan, juga penting untuk mempercepat pengawasan. Dengan komunikasi publik yang lebih responsif dan berorientasi pada keselamatan, lampu jalan dapat kembali berfungsi tidak hanya sebagai sarana penerangan, tetapi juga sebagai simbol kehadiran dan kepedulian negara terhadap warganya.

Baca Juga:  Sumpah Pemuda Dan Masa Depan Pemuda

 

#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia
Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu
Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar
UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur
IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?
Dinamika Sosialisasi Beasiswa Gratispol 2026 Tahap 1
Pelaksanaan PKL Mahasiswa prodi Manajemen Dakwah (UINSI) Di DPRD Provinsi Kalimantan Timur
Univisual Studio : Ruang Inovasi Mahasiswa Bagi Agen Perubahan
Berita ini 37 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 00:37 WITA

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:19 WITA

Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:49 WITA

Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar

Kamis, 1 Januari 2026 - 08:12 WITA

UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur

Senin, 29 Desember 2025 - 08:30 WITA

IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi IAIN Tana Tidung. (MetaAI)

Tana Tidung

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:32 WITA