JEBAKAN “VIRALITAS” DAN KOMUNIKASI YANG MENIPU DALAM IKLAN REELS

- Redaksi

Minggu, 14 Desember 2025 - 14:57 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Ridho Adriannur, Mahasiswa Komunikasi Dan Penyiaran Islam UINSI Kota Samarinda.

Foto : Ridho Adriannur, Mahasiswa Komunikasi Dan Penyiaran Islam UINSI Kota Samarinda.

Oleh : Ridho Adriannur

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UINSI Samarinda

Pengalaman saya sebagai mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) yang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di divisi digital marketing memberi saya pandangan yang unik. Terutama saat memproduksi konten Reels untuk brand universal seperti air mineral, saya merasakan langsung adanya tekanan agresif untuk mencapai views tinggi dan viralitas. Namun, tuntutan engagement yang masif ini seringkali memaksa content creator dan brand untuk menari di tepi jurang etika. Pertanyaannya: Apakah mencapai viralitas membenarkan komunikasi yang menyesatkan?

Mengapa KPI Harus Jadi Rem Etika

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam sangat menekankan pada prinsip dasar kejujuran (shidq) dan dapat dipercaya (amanah). Prinsip ini mengajarkan bahwa tujuan komunikasi yang luhur harus diutamakan, melampaui kepentingan materi atau popularitas semata. Sayangnya, dalam ekosistem Reels yang serba cepat, prinsip ini seringkali dikorbankan demi “sukses instan” di metrik digital. Inilah beberapa bentuk pelanggaran etika yang tersembunyi di balik konten Reels viral:

Baca Juga:  Membentuk Sarjana Tangguh Dan Profesional Melalui PKL : Refleksi Pengalaman Di Yayasan Salsabila

1. Clickbait yang Mengkhianati Janji: Seringkali, thumbnail atau hook di awal Reels dibuat sensasional atau memancing rasa penasaran berlebihan, tetapi isinya ternyata tidak relevan atau hanya gimmick kosong untuk menjual produk. Ini adalah bentuk komunikasi yang menipu, melanggar prinsip shidq.

2. Hiperbola Produk yang Melampaui Batas: Dalam upaya membuat produk terlihat superior, Reels kadang menampilkan klaim manfaat yang dilebih-lebihkan, tidak didukung fakta, atau bahkan mustahil. Komunikasi semacam ini secara perlahan menggerus kepercayaan publik.

3. Memanfaatkan Sensasi dan Kontroversi: Demi mendapatkan jangkauan organik yang luas, beberapa iklan sengaja menyentuh isu sensitif atau menggunakan gimmick yang kontroversial, yang meskipun berhasil viral, merusak etika komunikasi publik.

Baca Juga:  Yang Menarik Belum Tentu Baik

Etika Komunikasi untuk Kepercayaan Jangka Panjang

Pengalaman PKL mengajarkan bahwa tekanan digital marketing itu nyata, tetapi jika brand hanya fokus pada views hari ini, mereka berisiko merusak citra mereka di masa depan. Kerusakan reputasi yang disebabkan oleh iklan tidak jujur jauh lebih mahal dibandingkan biaya produksi konten manapun.

Prinsip KPI memberikan solusi: Komunikasi yang bertanggung jawab dan humanis. Reels yang baik adalah yang tidak hanya mengiklankan, tetapi juga mengedukasi dan menginspirasi. Konten yang jujur, menyentuh nilai-nilai positif audiens, dan menghargai kecerdasan konsumen akan membangun kepercayaan aset yang jauh lebih berharga daripada jutaan views dalam semalam.

Menuju Sarjana yang Tangguh dan Profesional

Bagi saya, pengalaman di balik layar digital marketing ini adalah realisasi dari tema utama PKL: “PKL Sebagai Media Pembentukan Sarjana yang Tangguh dan Profesional.” Ketangguhan seorang sarjana Komunikasi dan Penyiaran Islam diukur dari kemampuannya untuk mempertahankan integritas pesan di tengah hiruk pikuk tren viral. Sementara profesionalisme diukur dari kesediaan untuk mengintegrasikan nilai-nilai etika (shidq dan amanah) ke dalam praktik teknis sehari-hari, bahkan untuk konten universal seperti iklan air mineral. Sebagai penutup, bagi brand dan para content creator, sudah saatnya kita mengevaluasi ulang metrik kesuksesan. Viralitas memang menggiurkan, tetapi integritas komunikasi adalah pondasi yang abadi. Pengalaman ini mengajarkan bahwa menjadi profesional berarti menempatkan etika di atas metrik, dan itulah tantangan terbesar kita di era digital.

Baca Juga:  Kampus? Tempat Belajar atau Organisasi?

 

#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia
Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu
Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar
UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur
IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?
Dinamika Sosialisasi Beasiswa Gratispol 2026 Tahap 1
Pelaksanaan PKL Mahasiswa prodi Manajemen Dakwah (UINSI) Di DPRD Provinsi Kalimantan Timur
Univisual Studio : Ruang Inovasi Mahasiswa Bagi Agen Perubahan
Berita ini 40 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 00:37 WITA

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:19 WITA

Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:49 WITA

Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar

Kamis, 1 Januari 2026 - 08:12 WITA

UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur

Senin, 29 Desember 2025 - 08:30 WITA

IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi IAIN Tana Tidung. (MetaAI)

Tana Tidung

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:32 WITA