Opini Mahasiswa FUAD UINSI Samarinda Tentang Ancaman Banjir Kaltim : Belajar Dari Sumatra

- Redaksi

Senin, 8 Desember 2025 - 13:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Muhammad Iqbal Syafi'i Ma'rif, Mahasiswa Fuad UINSI Samarinda

Foto : Muhammad Iqbal Syafi'i Ma'rif, Mahasiswa Fuad UINSI Samarinda

Oleh : Muhammad Iqbal Syafi’i Ma’rif

Sebagai mahasiswa UINSI Samarinda, saya melihat banjir yang terjadi di Sumatra bukan hanya sebagai persoalan cuaca ekstrem, tetapi sebagai realitas sosial yang dibentuk melalui cara masyarakat memaknainya. Dalam Teori Konstruksi Sosial Berger & Luckmann, realitas tidak hadir begitu saja, melainkan dibangun melalui interaksi antara masyarakat, media, dan pemerintah. Di Sumatra, banjir sering diberi makna sebagai “musibah tahunan”. Data BNPB mencatat lebih dari 450 kejadian banjir sepanjang 2023, sebagian besar terkait kerusakan hutan dan tata ruang yang buruk. Narasi “musibah tahunan” ini membuat publik menerima bencana sebagai hal rutin, padahal deforestasi Sumatra telah mencapai lebih dari 5,3 juta hektare sejak 1990 (KLHK, 2022). Makna sosial seperti inilah yang membentuk respons publik melihat banjir bukan sebagai masalah struktural, melainkan sebagai takdir alam.

Kalimantan Timur sesungguhnya berada pada jalur yang serupa. Banjir Samarinda dari tahun 2019 hingga 2024 menunjukkan pola berulang: curah hujan tinggi dianggap penyebab utama, sementara persoalan ekologis kurang mendapat perhatian. Laporan Walhi Kaltim (2023) menyebutkan bahwa 51% DAS di Kaltim mengalami kerusakan sedang hingga berat, terutama akibat keberadaan lebih dari 1.700 konsesi tambang terbuka. Kota Samarinda sendiri dikelilingi lubang tambang, sebagian di antaranya berada dekat aliran sungai dan kawasan pemukiman. Selain itu, pembangunan Ibu Kota Nusantara turut mengubah tutupan lahan secara signifikan KLHK mencatat penurunan hutan di kawasan IKN dan sekitarnya mencapai 4.800 hektare pada 2021–2023. Namun selama narasi publik hanya memaknai pembangunan sebagai simbol kemajuan, masyarakat bisa menginternalisasi anggapan bahwa kerusakan ekologis merupakan harga yang wajar.

Baca Juga:  Univisual Studio : Ruang Inovasi Mahasiswa Bagi Agen Perubahan

Jika konstruksi sosial seperti ini dibiarkan, bukan tidak mungkin Kaltim akan mengalami nasib yang sama dengan Sumatra. Ketika masyarakat terbiasa menganggap banjir sebagai sesuatu yang normal, tekanan terhadap pemerintah untuk memperbaiki tata kelola lingkungan akan semakin melemah. Padahal, data Bappenas (2024) menempatkan Kaltim sebagai salah satu dari tiga provinsi dengan indeks risiko banjir tertinggi di Indonesia. Media yang lebih sering menonjolkan proyek mercusuar ketimbang kerentanan ekologis ikut memperkuat ketidakpekaan publik terhadap akar persoalan. Pada titik ini, bencana ekologis di Kaltim bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan konsekuensi dari makna sosial yang terus kita bangun dan kita terima.

Karena itu, masyarakat Kaltim perlu membangun konstruksi baru: bahwa lingkungan bukan ruang yang boleh dikorbankan atas nama pembangunan, tetapi fondasi utama keberlanjutan daerah. Beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain:

1. Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota harus memperketat penegakan hukum terhadap perusahaan tambang yang mengabaikan kewajiban reklamasi, mengacu pada data bahwa tingkat reklamasi baru mencapai 34% dari total area yang wajib direstorasi.

Baca Juga:  PKL Sebagai Media Pembentukan Sarjana Yang Tangguh Dan Profesional : Pengalaman Mengajar Tahfidz Di Pondok Yayasan Salsabila Samarinda

2. Masyarakat perlu mendorong transparansi tata ruang, terutama terkait izin tambang dan perkebunan di kawasan resapan air.

3. Media harus berani menjadikan isu lingkungan sebagai fokus pemberitaan utama, bukan sekadar pelengkap.

4. Kampus, termasuk mahasiswa UINSI Samarinda, perlu terlibat dalam riset dan advokasi kebijakan berbasis data, bukan hanya wacana moral.

5. Pemerintah pusat dan daerah wajib memperkuat early warning system serta mempercepat rehabilitasi DAS Mahakam dan Sungai Karang Mumus.

Jika Sumatra dapat menjadi pelajaran, maka Kaltim harus menjadi perubahan bukan hanya menunggu sampai banjir menjadi identitas baru bagi daerah ini. Membangun konstruksi sosial yang lebih sadar lingkungan bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan mendesak demi masa depan Kalimantan Timur.

 

#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia
Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu
Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar
UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur
IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?
Dinamika Sosialisasi Beasiswa Gratispol 2026 Tahap 1
Pelaksanaan PKL Mahasiswa prodi Manajemen Dakwah (UINSI) Di DPRD Provinsi Kalimantan Timur
Univisual Studio : Ruang Inovasi Mahasiswa Bagi Agen Perubahan
Berita ini 184 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 00:37 WITA

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:19 WITA

Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:49 WITA

Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar

Kamis, 1 Januari 2026 - 08:12 WITA

UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur

Senin, 29 Desember 2025 - 08:30 WITA

IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi IAIN Tana Tidung. (MetaAI)

Tana Tidung

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:32 WITA