Oleh: Suhairi Ahmad
Hindia Belanda pada abad ke-19, menjadi tujuan utama bagi pelancong Eropa untuk bervakansi maupun melakukan penelitian. Hal itu bisa dilihat dari berbagai catatan para naturalis yang mendokumentasikan berbagai hal tentang tanah jajahan.
Karena itu, masa ini adalah masa paling produktif bagi ilmu pengetahuan modern hingga menghasilkan berbagai karya penting. Walaupun begitu, proyek ilmu pengetahuan tersebut tak lain tak bukan adalah proyek kolonial untuk mengidentifikasi alam Nusantara yang masih “asing”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Walaupun mereka sangat terkagum-kagum dengan kekayaan alam Hindia Belanda, tapi para naturalis maupun pelancong tersebut melihat pribumi asli sebagai warga kelas bawah yang harus diperadabkan dan ditaklukkan. Walaupun seperti menemukan surga di dunia nyata yang akan bisa memenuhi hasrat keingintahuan mereka tentang dunia yang liar dan natural, pandangan rasial mereka tak bisa dilepaskan dalam konteks kolonialisme Belanda.
Pandangan semacam inilah yang menjadi awal tentang eksotisme yang sering kali meminggirkan persoalan tempat yang ditemui layaknya seorang turis yang tak mengerti persoalan di mana bumi dipijaknya.
Dalam tradisi seni lukis, ada istilah Mooi Indie yang memotret berbagai keindahan alam di Nusantara kala itu. Dalam tradisi tersebut, Nusantara dibayangkan sebagai hal indah dan asri tanpa konflik orang-orang yang hidup di dalamnya selama berabad-abad. Konflik sosial seolah absen sehingga siapa pun yang melihatnya akan menganggap bahwa keindahan hanyalah keindahan.
Cerpen “Dermaga Kayu Ulin” Karya Iin Sri Rejeki seperti hadir dalam kacamata Mooi Indie yang menampilkan keindahan pedalaman Kalimantan hanya sebagai keindahan. Cerpen ini mengisahkan tokoh “aku” dengan pengalaman masa kecilnya di pedalaman Kalimantan.
Kalimantan dalam cerita tersebut hadir dengan nuansa alam yang masih “asli” penuh dengan gunung dan hutan. Tokoh “aku” menceritakan pengalaman masa kecil di pedalaman dengan akses yang serba terbatas.
Cerpen yang menjadi bagian dari Luka Labatula dan Cerita Lainnya: Antologi Cerita Pendek terbitan Kantor Bahasa Kalimantan Timur pada 2019 ini, mengingatkan saya pada cerita Laskar Pelangi yang tokoh-tokohnya hidup dalam berbagai keprihatinan. Dalam kacamata tokoh, perjuangan yang dilakukan berusaha menampilkan keadaan yang terjadi di pedalaman dengan apa adanya. Pergi ke sekolah mesti memakai perahu yang sering kali mengundang bahaya hingga medan terjal yang harus mereka lalui dalam kehidupan sehari-hari.
Tokoh “aku” terus bercerita berbagai pengalaman yang ditemuinya, termasuk ketika menemukan buah-buahan dan tanaman khas Kalimantan. Cerita terus bergerak hingga kemudian cerita berakhir begitu saja sebagai sebuah kenangan masa lalu dalam album foto. Selain itu, cerpen ini hadir tanpa konflik berarti dan cenderung datar layaknya menceritakan catatan harian si tokoh “aku”.
Cerita-cerita yang Menjual Kesedihan
Dalam banyak cerita dalam sastra Indonesia, banyak sekali karya-karya yang menitikberatkan berbagai kesedihan tokoh-tokohnya. Namun, kesedihan menjadi motor penggerak bagaimana para tokoh tersebut bergelut dengan nasib, yang bisa saja kalah dan juga bisa saja menang dalam berbagai pertarungan. Namun, berbeda ketika menjumpai kisah-kisah motivasi yang menjual berbagai kesedihan hingga aktor utama tampil sebagai pemenang.
Laskar Pelangi menjadi fenomena tersendiri dalam sejarah Sastra Indonesia yang kemudian memantik banyak penulis untuk membuat cerita serupa. Dalam hemat saya, “Dermaga Kayu Ulin” masuk dalam gelombang efek dari arus tersebut. Dalam euforia tersebut, cerita-cerita motivasional seperti pasar yang tak berkesudahan yang bahkan masih diminati hingga hari ini.
Cerita-cerita yang menjual kesedihan dan kemelaratan sering kali terjebak pada glorifikasi yang tak menyentuh persoalan yang dihadapi oleh masyarakat yang diceritakan. Kondisi alam yang serba terjal hingga menyeberang sungai dengan susah payah seolah hadir begitu saja tanpa mempersoalkan ketimpangan.
Selain itu, walaupun tampil menceritakan keadaan alam dari sudut pandang orang pertama, cerita hadir dengan jarak yang begitu lebar. Dari seperti sudut pandang para pelancong yang memandang alam-alam asli dengan takjub, tapi lupa bahwa alam yang sedemikian asri karena ada peran masyarakat yang masih menjaganya atau tidak ada industri yang mencoba merusaknya.
Bagaimana Seharusnya?
Menulis cerita pendek, dan juga jenis tulisan lain seperti novel, puisi, hingga nonfiksi punya kesamaan pokok tentang perspektif yang ditawarkan oleh penulis, bukan semata ide yang turun dari langit atau berkat semedi. Melalui perspektif inilah, ide penulis dibongkar dan dipreteli satu per satu hingga kemudian ke manakah keberpihakan penulis diletakkan.
Cerita-cerita tentang Kalimantan secara umum penuh persoalan yang berkelindan dengan napas dan nasib orang-orang di dalamnya. Dan karena itu, cerita-cerita eksotisme yang mengglorifikasi alam sebagai yang terberi tanpa peran masyarakat yang tinggal di sekitarnya tersebut sudah sepatutnya ditinggalkan karena menjadikan masyarakat atau alam yang diceritakannya hanya sebagai objek semata.
Cerita-cerita semacam itu tidak hanya jauh dari apa yang terjadi dalam kehidupan banyak orang di pedalaman, juga tidak menghadirkan gambaran utuh tentang berbagai tantangan yang mereka hadapi. Selain itu, yang paling mencolok dari cerita yang dihadirkan dalam cerpen ini adalah ketidakhadiran negara untuk menyediakan infrastruktur yang memadai. Dan itu gagal ditampilkan dalam cerpen ini.
Cerpen ini pada akhirnya terjebak pada eksotisme seperti cara pandang pelancong yang berjarak dengan kehidupan yang ditulisnya–alih-alih menjadi penyambung atas persoalan yang terjadi dalam keseharian masyarakat Kalimantan selama ini, terutama kehidupan mereka di pedalaman yang jarang tersentuh mata negara.
(*)









