Lintasjejaring.com, Samarinda – Keberadaan anak jalanan (anjal) dan pengemis di sejumlah simpang lampu merah Kota Samarinda kembali menuai sorotan. Kali ini, masyarakat melaporkan adanya perilaku agresif, termasuk aksi menggores kendaraan saat tawaran berjualan tisu ditolak.
Menanggapi laporan tersebut, Satpol PP Samarinda langsung melakukan penertiban di Simpang Tiga Meranti dan Simpang Muara. Beberapa anak diamankan dan menjalani asesmen bersama orang tua mereka.
“Memang ada laporan mobil digores karena tidak membeli tisu. Anak-anak yang terjaring mengakui, tapi pelaku utama melarikan diri,” ujar Kepala Satpol PP Anis Siswantini
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai langkah awal, orang tua diminta menandatangani surat pernyataan untuk mencegah pengulangan kasus serupa. Anis juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam mengawasi anak-anak.
Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD Samarinda, Shamri Saputra, menilai persoalan ini mencerminkan lemahnya infrastruktur sosial dan dukungan anggaran.
“Masalahnya bukan hanya di penertiban. Setelah diamankan, mereka mau ditempatkan di mana? Anggaran makan dan operasional pun tidak tersedia,” ucapnya.
Ia menyebut, meski patroli rutin dilakukan, penanganan belum menyentuh akar masalah. Oleh karena itu, ia mendorong Pemerintah Kota menyusun kebijakan terpadu yang mencakup rumah singgah, pendampingan sosial, serta anggaran berkelanjutan.
Untuk jangka pendek, ia mendorong penempatan personel Satpol PP di titik-titik rawan serta edukasi kepada masyarakat agar tidak memberi uang kepada anjal maupun pengemis.
“Ini soal memutus mata rantai. Kalau tak ada yang memberi, mereka akan berhenti sendiri. Bukan berarti kita tak punya empati, tapi ini langkah agar mereka bisa ditangani secara layak,” tegasnya.
Satpol PP memastikan akan terus berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk langkah lanjutan yang lebih komprehensif.
(Gil/ADV DPRD Samarinda)









