LINTASJEJARING.COM, Samarinda- Berawal diremehkan, Bambang Bagus Wondo Saputra buktikan mampu duduk di kursi Legislatif Kutim.
Menjadi perwakilan rakyat, tentu memiliki luka-liku yang harus dilewati. Salah satunya, ialah diremehkan.
Legislator muda Sangatta terpilih periode 2024-2029, Bambang Bagus Wondo Saputra, S.A.P berbagi kisah bersama Selaras Jejaring Media Group.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengawali karir menjadi Kepala Desa Makmur Jaya pada tahun 2021-2022, tidak pernah terlintas di benaknya untuk memimpin ribuan masyarakat Desa Makmur Jaya. Meskipun, dirinya mengakui masih terdapat segelintir orang yang meremehkan dan mempertanyakan kemampuan dirinya.
“Saya menjadi Kepala Desa Makmur Jaya itu bukan juga keinginan saya, adanya dorongan dan support akhirnya saya memutuskan untuk maju pada Pilkades waktu itu,” ucap Bambang.
Baginya, diremehkan sudah menjadi konsumsi keseharian selama meniti karir. Eks pedagang lalapan didepan Kantor Desa Makmur Jaya tersebut, justru menggunakan celetukan remehan sebagian orang sebagai modal untuk selalu optimis, dalam menjalankan amanah sebagai Kepala Desa.
“Masyarakat yang meremehkan itu pasti ada. Dari waktu Pilkades juga diremehkan, cuman ya sudah bagi saya tidak papa, setiap orang memiliki pandangannya masing-masing,” lanjut pria kelahiran tahun 89’ itu.
Sportif dan Tidak Ambisi
Dalam perhelatan politik, persaingan mengunggulkan ‘pahlawan politik’ masing-masing tim sukses (timses) merupakan bagian dari proses kampanye. Bagi Bambang, mengunggulkan calon merupakan hal yang wajar dalam proses kampanye. Namun, yang perlu digaris bawahi menurut Bambang, adalah proses kampanye yang menjatuhkan lawan dan tidak sportif.
“Saya sampaikan, saya sebagai pelaku politik, silahkan unggulkan produk program saya, tapi jangan jatuhkan lawan,” tegasnya.

Pria yang lahir dari keluarga petani ini, pada dasarnya juga tidak memiliki ambisi lebih dalam dunia politik. Duduknya di kursi parlemen DPRD Kutim pun, tak lepas dari dorongan dan support yang banyak dari masyarakat, terkhusus masyarakat Kecamatan Kombeng.
“Sebenarnya saya tidak punya jabatan juga tidak papa, karena bukan cita-cita saya. Namun, kalau masyarakat mengamanati saya, ya saya akan menjalankan amanah itu dengan komitmen kuat,” ungkapnya.
Begitu pun dengan pendukung, terkadang kata Bambang, dorongan keoptimisan itu datang dari orang-orang yang tidak ditemui setiap hari.
“Terkadang support itu datang dari orang-orang yang hari-hari tidak bergaul dengan kita, malah terkadang yang dekat itu yang lebih pesimis. Walaupun ada juga yang dekat dan optimis, semuanya ada,” lanjutnya, sambil membakar sebatang rokok menemani diskusi malam itu.
“MENUJU KESUKSESAN TIDAK SEMUDAH MEMBUKA KULIT KACANG. BERBAGAI RINTANGAN, TENGAH SIAP MENYAPA DI PERTENGAHAN PROSES MENUJU KESUKSESAN”
Jarum jam tengah hampir menunjukkan pukul 12 malam. Seduhan kopi masih begitu nikmat. Namun, diskusi bersama ‘Kang Bambang’ sudah masuk pada penghujung kata.
Diakhir, dirinya berpesan pada generasi muda dan siapapun yang sedang berjuang dalam penggapai cita-cita. Bahwa, haruslah memegang prinsip “Semakin Berisi Semakin Merunduk” atau biasa yang dikenal dengan Ilmu Padi.
BERBEKAL ILMU PADI DAN BELAJAR PADA SIAPAPUN
Menurutnya, dengan berbekal prinsip tersebut, akan membentuk karakter yang berani, mampu dan memiliki etika yang baik saat akan menempuh kesuksesan.
“Hindari dan jangan jadi orang yang merasa pintar, orang yang merasa kaya dan merasa tua, kalau ini ada macet sudah ini barang,”ujarnya.
“Kopi satu teko pun gak bakal cukup untuk menyelesaikan masalah,” sambung Bambang, diiringi nada tawa oleh seluruh tim.
Kedua, dirinya juga menyampaikan setidaknya ada tiga golongan orang yang dapat dinilai dalam dunia politik.
Pertama, adalah orang yang berkeinginan terjun kedalam dunia politik namun memiliki keterbatasan materi dan yang lainnya. Kedua adalah orang yang memiliki kemampuan namun tidak memiliki keberanian.
“Dan ada yang berani tapi ngawur. Yang ketiga ini lah yang berbahaya. Karena dia hanya modal berani, tapi tidak memperhitungkan yang lainnya. Tinggal generasi muda memilih yang mana, pertama, kedua atau ketiga?” tutupnya.
Pada akhirnya penggagas slogan “Putra Transmigrasi” tersebut, dengan berbekal keyakinan, dorongan, support dan pengalaman memimpin rakyat Desa, berhasil duduk di kursi perwakilan rakyat Kutai Timur, mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) IV dengan perolehan suara 1.986 terbanyak di Dapil IV.
Penulis : Sean
Editor : Man










