Oleh : M. Syahrul Gunawan
Kesempatan menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama 2 Bulan, 15 September – 14 November di Bidang Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama Kota Samarinda adalah pengalaman transformatif. Sebagai mahasiswa Managemen Dakwah di Bimas Islam menjadi laboratorium ideal untuk melihat bagaimana kebijakan keagamaan diturunkan menjadi layanan nyata bagi masyarakat.
Bimas Islam, sering kali hanya diasosiasikan dengan urusan Kantor Urusan Agama (KUA) dan pernikahan, ternyata memiliki spektrum tugas yang jauh lebih luas: mulai dari pembinaan kemasjidan, penyuluh agama, penerbitan rekomendasi pendirian tempat ibadah, hingga pengelolaan data haji dan zakat. Inilah yang menjadi fokus utama observasi saya.
Selama PKL, saya terlibat dalam beberapa kegiatan rutin, membantu pengarsipan surat masuk dan keluar, verifikasi data kepenghuluan, atau mendokumentasikan kegiatan pembinaan penyuluh. Dari sana, saya mencatat beberapa poin kunci mengenai kultur kerja dan tantangan:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
A. Profesionalisme dan Etos Pengabdian
Para ASN di lingkungan Bimas Kemenag Samarinda menunjukkan profesionalisme yang tinggi. Mereka tidak hanya menjalankan tugas secara birokratis, tetapi juga dengan etos pengabdian karena berhadapan langsung dengan urusan keagamaan masyarakat. Proses konsultasi masyarakat, mulai dari masalah keagamaan hingga administratif, dilayani dengan humanis dan responsif.
B. Transformasi Digital dan Tantangan Data
Dalam era digital, Bimas Kemenag Samarinda sudah berupaya mengintegrasikan layanan melalui berbagai aplikasi digital Kemenag, seperti Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH) atau Sistem Informasi Data Masjid.
Pengalaman di Bimas Kemenag membuktikan bahwa ilmu Managemen Dakwah memiliki relevansi kuat di lapangan. Mata kuliah tentang Manajemen Sumber Daya Manusia/Etika Profesi/Sosiologi Agama secara tidak langsung saya terapkan.
– Penerapan Teori: Praktik membantu menyusun laporan atau Kegiatan melatih Saya untuk berpikir sistematis dan memahami struktur organisasi yang efektif.
– Pengembangan Soft Skill: Lingkungan kerja yang kekeluargaan namun disiplin mengajarkan saya tentang manajemen waktu, komunikasi interpersonal, dan adaptasi terhadap berbagai jenis karakter. Kemampuan berinteraksi dengan pejabat, kolega, dan masyarakat menjadi soft skill berharga yang tidak didapatkan di ruang kelas.
Secara keseluruhan, PKL di Bimas Kemenag Kota Samarinda adalah investasi pengetahuan yang tak ternilai. Instansi ini adalah garda terdepan dalam menjaga moderasi beragama dan kerukunan umat di Samarinda.
Saya berharap Kemenag Samarinda dapat terus berinovasi, terutama dalam memperkuat program penyuluh agama sebagai ujung tombak pembinaan umat, serta mengoptimalkan sistem informasi terpadu untuk mewujudkan pelayanan yang lebih cepat dan transparan.
Terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Dr H. Ikhwan Saputera, S.Kom., M.Sos /Kepala Seksi Bimas Islam dan seluruh jajaran Kemenag Kota Samarinda atas bimbingan dan kesempatan yang diberikan. Pengalaman ini telah mengubah perspektif saya dari sekadar teori menjadi pemahaman mendalam tentang pengabdian kepada negara dan umat.
#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM









