Grup Sirkel di SEKATA, Jadi Wadah Refleksi Dinamika Emosional

- Redaksi

Selasa, 18 November 2025 - 15:24 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Para klien Grup Sirkel di SEKATA saat duduk melingkar berbincang bersama.

Foto : Para klien Grup Sirkel di SEKATA saat duduk melingkar berbincang bersama.

 Oleh : Bunga Anggriani

Grup sirkel di Yayasan SEKATA Samarinda merupakan wadah mengekspresikan diri dimana perasaan yang muncul tidak bisa ditebak. Ungkapan hangat, tegang, teetawa, sedih, bahkan marah kerap kali muncul dalam perbincangan. Meski begitu, hal itu berjalan sebagaimana adanya, tidak selalu muku namun berkesan.

Lama berkecimpung dalam 60 hari, Grup Femily menjadi momen dimana para pencerita duduk melingkar, menatao, beradaptasi, berusaha untuk jujur pada diri sendiri bahkan belajar memahami orang lain. Di ruang itu, mengenal bukan menjadi kesan pertama, melainkan terbuka untuk setiap hal baik maupun buruk. Ada yang berani mengungkapkan rasa tidak nyamannya, bahkan ada yang mengapresiasi hal kecil yang diucapkan dalam satu lingkaran.

Baca Juga:  Membangun Kompetensi Profesional Melalui PKL : Pengalaman Mahasiswa dalam Sistem Manajemen Perjalanan Umrah Di PT Wafi Mazidah Wisata

Ruang saling mengevaluasi diri menjadi hal biasa yang harus dibiasakan. Kata sensitif, dominan, tidak peduli aturan, sedih, tertunduk, menghela nafas panjang menjadi bagian intropeksi. Merasa bahwa reaksi kecil seperti itu menjadi bukti bahwa mereka masihlah manusia yang memiliki perasaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Usai mengutarakan perasaan yang ingin disampaikan, suasana pun berubah, amarah mereda, sedih pun tersapu yang kemudian dilanjutkan dengan keheningan panjang. Mereka pun sadar bahwa kritik bukanlah untuk menghakimi, menyakiti atau bahkan merendahkan, melainkan untuk memperbaiki hubungan diantara mereka. Dalam Sirkel SEKATA, mereka belajar bahwa ketidaknyamanan bukan berarti permusuhan, melainkan ajanh saling memahami.

Selain itu, memahami bahwa karakter klien beragam. Belajar memahami mereka yang terlihat keras ternyata lembut, pendiam namun perhatian, pun juga ada yang bercana untuk menutupi ketidapercayaan dirinya merupakan hal yang tidak mudah. Kehadiran Sirkel menjadi wadah untuk menyelesaikan hal-hal mungkin membuat mereka jauh di luar ruangan.

Baca Juga:  Opini Mahasiswa FUAD UINSI Samarinda Tentang Ancaman Banjir Kaltim : Belajar Dari Sumatra

Momen yang paling terasa biasanya terjadi ketika seseorang yang awalnya defensif akhirnya luluh. Misalnya ketika ia berkata, “Maaf… mungkin aku memang terlalu gampang tersinggung,” dan femily lain langsung merespons dengan hangat. Hal kecil seperti itu mungkin terlihat sepele bagi orang luar, tapi di lingkungan rehabilitasi, itu bisa menjadi titik balik bagi seseorang.

Di banyak kesempatan, sirkel juga menjadi ruang di mana mereka akhirnya merasa didengar. Banyak klien yang belum pernah punya pengalaman benar-benar dipahami tanpa dihakimi. Di tempat ini, mereka menemukan ruang dan orang-orang yang bersedia mendampingi, meski masa lalunya beragam dan kadang penuh luka.

Baca Juga:  PROGRAM GRATISPOL MEMBEBANI KAMPUS

Pada akhirnya, sirkel mengingatkan bahwa perubahan tidak terjadi seketika. Tidak ada yang dipaksa. Yang ada adalah proses pelan, kadang berantakan, kadang emosional tapi terus bergerak ke arah yang lebih baik. Di sini, setiap orang diberi kesempatan untuk belajar melihat dirinya lebih jujur dan tumbuh menjadi pribadi yang berbeda dari kemarin

 

#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

September Membuat Sejarah Kelam Baru? Masih Layakkah Kalimantan Disebut Paru-Paru Dunia?
Maulid Nabi: Adilkah Jika Hanya Mencintai Secara Spiritual?
81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia
Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu
Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar
UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur
IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?
Dinamika Sosialisasi Beasiswa Gratispol 2026 Tahap 1
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 15:45 WITA

September Membuat Sejarah Kelam Baru? Masih Layakkah Kalimantan Disebut Paru-Paru Dunia?

Selasa, 15 September 2026 - 16:32 WITA

Maulid Nabi: Adilkah Jika Hanya Mencintai Secara Spiritual?

Senin, 17 Agustus 2026 - 00:37 WITA

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:19 WITA

Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:49 WITA

Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar

Berita Terbaru