Maulid Nabi: Adilkah Jika Hanya Mencintai Secara Spiritual?

- Redaksi

Selasa, 15 September 2026 - 16:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini Oleh: Eko Abiyyy Dzulsuri Sulthon, S.Sos

Alumni, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, UINSI Samarinda.

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada Selasa 25 Agustus 2026 lalu, umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah. Penanggalan tersebut juga tercantum dalam kalender Hijriah Indonesia, sementara Lembaga Falakiyah PBNU menetapkan 12 Rabiul Awal 1448 H jatuh pada 25 Agustus 2026.

Maulid Nabi lazim dirayakan dengan pembacaan selawat, pengajian, ceramah, dan berbagai kegiatan keagamaan. Semua itu tentu baik. Namun ada satu pertanyaan yang layak diajukan:

Setelah kita memuji Rasulullah SAW, sudahkah kita benar-benar meneladani akhlaknya terhadap kehidupan dan alam?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika lingkungan tempat manusia hidup, terus mengalami tekanan. Sebab mencintai Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya dengan memperbanyak selawat. Kecintaan kepada Rasul seharusnya melahirkan perubahan perilaku. Jika Nabi mengajarkan kasih sayang, maka umatnya harus menjadi manusia yang penuh kasih kepada sesama, hewan, tumbuhan, dan seluruh ciptaan Allah.

Dengan demikian, menjaga lingkungan bukan isu yang berada di luar ajaran Islam. Sebaliknya, ia dapat dibaca sebagai bagian dari tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Kerusakan lingkungan bukan lagi persoalan yang jauh

Data terbaru menunjukkan bahwa persoalan kerusakan lingkungan di Indonesia bukan sekadar wacana. Global Forest Watch mencatat bahwa pada 2025 Indonesia kehilangan sekitar 300 ribu hektare hutan alam, dengan estimasi emisi mencapai sekitar 220 juta ton CO₂. Bahkan dalam rentang 2021-2025, sekitar 2,2 juta hektare hutan alam Indonesia tercatat mengalami kehilangan tutupan pohon.

Angka tersebut harus dibaca dengan hati-hati karena metodologi pemantauan tutupan pohon tidak identik dengan definisi deforestasi resmi pemerintah. Namun, terlepas dari perbedaan metodologi, satu pesan besarnya sulit dibantah:

Tekanan terhadap hutan Indonesia masih menjadi persoalan serius!

Global Forest Watch sendiri menjelaskan, bahwa data 2025 menunjukkan kehilangan hutan primer tropis yang lembap secara global mengalami perlambatan, tetapi kemajuannya tidak merata.

Di Kalimantan Timur, persoalan lingkungan juga bukan sesuatu yang abstrak. Kajian Risiko Bencana Nasional Badan Penanggulanag Bencana Daerah Provinsi Kalimantan Timur (BPBD Kaltim) 2022-2026 mencatat potensi bahaya kebakaran hutan dan lahan mencapai 10.128.093 hektare dan dikategorikan tinggi. Kajian yang sama mencatat potensi kerusakan lingkungan akibat karhutla mencapai 692.558 hektare. Risiko karhutla di tingkat provinsi juga dikategorikan tinggi.

Dokumen tersebut juga menunjukkan bahwa Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Kutai Barat dan Paser termasuk wilayah dengan risiko karhutla tinggi. Artinya, bagi masyarakat Kalimantan Timur, menjaga hutan bukan sekadar kampanye lingkungan. Ia berkaitan langsung dengan keselamatan, ekonomi, kesehatan, sumber air, dan masa depan generasi berikutnya.

Di sinilah pesan Maulid Nabi menemukan relevansinya.
Al-Qur’an sudah memperingatkan manusia!
Jauh sebelum istilah perubahan iklim, deforestasi, emisi karbon, pencemaran sungai dan krisis ekologis dikenal dalam bahasa modern, Al-Qur’an telah memberikan peringatan mengenai perilaku manusia yang merusak keseimbangan bumi.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-A’raf ayat 56:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.”

Ayat ini bukan sekadar larangan moral. Ia memberikan prinsip dasar: bumi telah diciptakan dalam suatu keteraturan, dan manusia tidak boleh menjadikannya objek eksploitasi tanpa batas.

Baca Juga:  DPRD Samarinda Dorong Pemerataan Sarana Pendidikan Di Wilayah Pinggiran

Pesan yang lebih tegas terdapat dalam QS Ar-Rum ayat 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”

Ayat tersebut sangat relevan dengan kondisi hari ini. Kerusakan hutan, pencemaran sungai, sampah plastik, eksploitasi sumber daya alam, emisi, kebakaran hutan dan berbagai bentuk degradasi lingkungan menunjukkan bahwa sebagian kerusakan memang lahir dari aktivitas manusia.

Al-Qur’an tidak sedang menyuruh manusia meninggalkan dunia. Islam justru mengakui manusia sebagai makhluk yang diberi kemampuan untuk memanfaatkan bumi. Tetapi pemanfaatan berbeda dengan penghancuran. Memanfaatkan berarti mengambil manfaat dengan tanggung jawab.

Mengeksploitasi berarti mengambil sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan akibat.
Dan ketika eksploitasi menghasilkan kehancuran, maka manusia telah bergerak menuju apa yang disebut Al-Qur’an sebagai ‘fasad’ atau kerusakan.
Manusia adalah khalifah, bukan pemilik mutlak bumi
Salah satu kekeliruan terbesar manusia modern adalah merasa bahwa bumi sepenuhnya miliknya.

Padahal dalam perspektif Islam, manusia bukan pemilik absolut alam. Manusia diberi amanah.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 30 tentang manusia sebagai khalifah di bumi.
Konsep khalifah seharusnya tidak hanya diterjemahkan sebagai kekuasaan. Ia juga mengandung konsekuensi tanggung jawab.

Seorang khalifah tidak hanya memiliki hak untuk menggunakan. Ia memiliki kewajiban untuk menjaga.

Karena itu, hutan tidak boleh hanya dilihat sebagai kayu.

Sungai tidak boleh hanya dilihat sebagai jalur air.

Laut tidak boleh hanya dilihat sebagai ruang eksploitasi.

Tanah tidak boleh hanya dipandang sebagai komoditas.

Semuanya adalah bagian dari ciptaan Allah yang berada dalam amanah manusia.

Ketika sebuah hutan ditebang, yang hilang bukan hanya pohon. Yang ikut hilang adalah kemampuan tanah menyerap air, habitat satwa, sumber pangan, penyimpan karbon, dan sistem kehidupan yang dibangun selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Karena itu, kerusakan lingkungan sesungguhnya bukan hanya persoalan ekologis.
Ia juga persoalan akhlak.

Nabi Muhammad SAW telah memberikan teladan ekologis. Menariknya, Rasulullah SAW tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan manusia. Ada banyak hadis sahih yang menunjukkan penghargaan Islam terhadap tumbuhan, hewan dan sumber daya alam.

Dalam Sahih al-Bukhari 2320, Rasulullah SAW bersabda bahwa seorang Muslim yang menanam pohon atau menabur benih, lalu hasilnya dimakan manusia, burung atau hewan, maka hal tersebut menjadi sedekah baginya.

Dalam Sahih Muslim 1552a, maknanya ditegaskan kembali: pohon yang ditanam seorang Muslim dan kemudian dimanfaatkan oleh manusia, hewan maupun burung menjadi sedekah bagi penanamnya.

Pesannya sangat kuat!

Dalam Islam, menanam bukan sekadar aktivitas ekonomi. Menanam dapat menjadi ibadah. Menjaga keberlangsungan kehidupan makhluk lain dapat bernilai sedekah.

Dengan logika yang sama, merusak sumber kehidupan makhluk lain semestinya tidak dianggap sebagai persoalan sepele.
Bayangkan jika cara pandang ini benar-benar hidup dalam masyarakat.

  • Menanam pohon dipandang sebagai amal.
  • Menjaga sungai dipandang sebagai amanah.
  • Tidak membuang sampah sembarangan dipandang sebagai akhlak.
  • Mengurangi pemborosan dipandang sebagai bagian dari ketaatan.
  • Melindungi habitat satwa dipandang sebagai bentuk kasih sayang kepada ciptaan Allah.

Maka Islam tidak berhenti di masjid. Nilai-nilainya hadir di sungai, hutan, jalan, pasar, kebun, pesisir dan ruang publik.

Dan yang perlu sangat digarisbawahi adalah:

Nabi mengajarkan rahmat, bukan eksploitasi.

Allah SWT menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam, dalam QS Al-Anbiya ayat 107. Kata “alam” di sini semestinya mendorong umat Islam untuk memperluas pemahaman mengenai rahmat.

Baca Juga:  PENGUATAN KOMPETENSI MANAJEMEN DAKWAH MELALUI PKL DI PT. SALSABILA GLOBAL WISATA SEBAGAI MEDIA PEMBENTUKAN SARJANA YANG TANGGUH DAN PROFESIONAL

Rahmat tidak berhenti pada hubungan antarmanusia. Ada rahmat terhadap hewan, ada rahmat terhadap tumbuhan, ada rahmat terhadap air, ada rahmat terhadap tanah, ada rahmat terhadap generasi yang belum lahir.

Salah satu hadis sahih yang sangat kuat menggambarkan hal tersebut adalah kisah seorang lelaki yang memberi minum seekor anjing yang kehausan. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah mengampuni orang tersebut karena perbuatannya kepada hewan itu. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.

Kalau memberi minum seekor anjing saja mendapatkan nilai kasih sayang di hadapan Allah, bagaimana mungkin seorang Muslim merasa tidak memiliki kewajiban moral ketika tindakannya menyebabkan sungai tercemar dan makhluk hidup kehilangan sumber air?

Pertanyaan ini penting.

Sebab kerusakan lingkungan sering terjadi bukan karena manusia tidak mengetahui akibatnya, tetapi karena manusia merasa akibat tersebut bukan urusannya.
Maulid jangan hanya menjadi seremoni

Di sinilah Maulid Nabi seharusnya mendapatkan makna yang lebih luas.

Kita sering mengatakan ingin meneladani Rasulullah SAW. Tetapi keteladanan tidak boleh berhenti pada pakaian, simbol, ucapan dan seremoni. Meneladani Nabi berarti mencoba menghadirkan akhlak beliau dalam persoalan nyata.

  • Jika Nabi mengajarkan kasih sayang, maka kita harus mengurangi tindakan yang menyakiti kehidupan.
  • Jika Nabi mengajarkan kesederhanaan, maka kita harus melawan budaya berlebihan dan pemborosan.
  • Jika Nabi menghargai tumbuhan dan hasil pertanian, maka kita harus menjaga tanah dan pangan.
  • Jika Nabi mengajarkan kebersihan, maka kita tidak boleh menganggap sampah sebagai urusan orang lain.
  • Dan jika Al-Qur’an melarang kerusakan di bumi, maka umat Islam tidak seharusnya menjadi bagian dari kerusakan tersebut.

Maulid seharusnya menjadi momentum evaluasi, bukan hanya perayaan.

Pertanyaannya bukan sekadar: berapa banyak selawat yang kita baca?

Tetapi juga: apa yang berubah dalam perilaku kita setelah memperingati kelahiran Rasulullah SAW?

Dari Ceramah Menuju Gerakan

Persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya dengan ceramah. Tetapi ceramah dapat menjadi titik awal perubahan perilaku. Masjid, pesantren, sekolah, organisasi Islam dan komunitas masyarakat dapat menjadikan isu lingkungan sebagai bagian dari dakwah.

Peringatan Maulid dapat diikuti dengan gerakan menanam pohon. Pengajian dapat dibarengi aksi membersihkan sungai. Pesantren dapat mengembangkan pengelolaan sampah. Masjid dapat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Masyarakat dapat membangun kebiasaan memilah sampah. Pemerintah dan masyarakat dapat memperkuat perlindungan kawasan hutan, daerah resapan, sempadan sungai dan ekosistem pesisir.

Di tingkat kebijakan, penanggulangan kerusakan lingkungan harus bergerak dari pendekatan reaktif menjadi preventif.

  • Jangan menunggu banjir baru berbicara tentang daerah resapan.
  • Jangan menunggu sungai tercemar baru berbicara tentang limbah.
  • Jangan menunggu hutan terbakar baru berbicara tentang pencegahan karhutla.
  • Jangan menunggu longsor baru berbicara tentang tutupan lahan.
  • Jangan menunggu masyarakat kehilangan sumber air baru berbicara tentang konservasi.
  • Kerusakan lingkungan jauh lebih murah dicegah daripada dipulihkan.

Menanam Hari Ini Untuk Manusia Yang Belum Lahir

Ada sebuah pesan Nabi yang sangat indah tentang menanam. Dalam sebuah riwayat yang dikenal dalam literatur hadis, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa:

“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian terdapat sebuah tunas (bibit), maka jika ia mampu sebelum terjadi kiamat untuk menanamnya, maka tanamlah.” (HR. Ahmad)
Pesan tersebut menggambarkan optimisme yang luar biasa! Bahkan ketika dunia berada di ambang akhir, tindakan yang menghasilkan kehidupan tetap memiliki nilai.

Dalam konteks hari ini, pesan itu dapat kita baca sebagai kritik terhadap sikap manusia yang hanya berpikir tentang keuntungan jangka pendek. Menebang pohon hari ini mungkin menghasilkan uang hari ini. Tetapi…

  • Siapa yang membayar ketika banjir datang?
  • Siapa yang menanggung ketika air bersih semakin sulit?
  • Siapa yang kehilangan rumah ketika longsor terjadi?
  • Siapa yang kehilangan habitat ketika hutan menghilang?
  • Dan siapa yang harus hidup dengan udara yang semakin buruk?
Baca Juga:  Pekerja Proyek Stadion Malinau Asal Makassar Meninggal Dunia, Polisi Tak Temukan Bukti Kekerasan

Jawabannya adalah generasi berikutnya.

Karena itu, menjaga lingkungan sebenarnya bukan hanya berbuat baik kepada alam.
Menjaga lingkungan adalah berbuat adil kepada manusia yang belum lahir.
Kesimpulan: Mencintai Rasul Berarti Menjaga Amanahnya

Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 H harus menjadi momentum untuk mengembalikan makna kecintaan kepada Rasulullah SAW pada sesuatu yang lebih substantif: Akhlak dan tindakan.

Al-Qur’an telah mengingatkan agar manusia tidak membuat kerusakan di bumi. QS Ar-Rum ayat 41 bahkan menghubungkan kerusakan di darat dan laut dengan perbuatan tangan manusia. Sementara hadis-hadis sahih menunjukkan bahwa menanam pohon dan memberi manfaat kepada makhluk hidup merupakan amal yang bernilai sedekah.

Di sisi lain, realitas Indonesia menunjukkan bahwa persoalan tersebut semakin nyata. Kehilangan hutan alam masih terjadi dan Kalimantan Timur sendiri memiliki tingkat risiko tinggi terhadap karhutla dengan potensi kerusakan lingkungan yang sangat luas.

Maka korelasinya menjadi jelas.

Islam tidak mengajarkan manusia menjadi penguasa bumi yang bebas melakukan apa saja. Islam mengajarkan manusia menjadi khalifah yang bertanggung jawab atas bumi.

Rasulullah SAW datang membawa rahmat. Karena itu, umatnya seharusnya tidak menjadi sumber kerusakan.

Jika kita benar-benar mencintai Nabi Muhammad SAW, maka kecintaan itu semestinya terlihat dari cara kita memperlakukan ciptaan Allah, tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak hutan, tidak mencemari sungai, tidak menyiksa hewan, tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan.

Menanam kembali apa yang telah hilang, memulihkan apa yang telah rusak dan memastikan anak cucu kita masih memiliki udara untuk dihirup, air untuk diminum, tanah untuk ditanami dan hutan untuk diwariskan.

Sebab pada akhirnya, Maulid Nabi bukan hanya tentang mengingat kapan Rasulullah lahir. Maulid adalah kesempatan untuk bertanya apakah akhlak Rasulullah benar-benar hidup dalam diri kita?

Dan jika Rasulullah adalah rahmatan lil ‘alamin, maka salah satu bentuk paling nyata dari cinta kepada beliau pada zaman krisis ekologis adalah menjadi manusia yang menghadirkan rahmat bagi alam.

“Merayakan Maulid dengan selawat adalah bentuk cinta dalam lisan.
Meneladani akhlak Nabi adalah bentuk cinta dalam tindakan.
Dan menjaga bumi dari kerusakan adalah salah satu cara membuktikan bahwa cinta itu benar-benar hidup.”

 

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia
Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu
Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar
UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur
IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?
Dinamika Sosialisasi Beasiswa Gratispol 2026 Tahap 1
Pelaksanaan PKL Mahasiswa prodi Manajemen Dakwah (UINSI) Di DPRD Provinsi Kalimantan Timur
Univisual Studio : Ruang Inovasi Mahasiswa Bagi Agen Perubahan

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 16:32 WITA

Maulid Nabi: Adilkah Jika Hanya Mencintai Secara Spiritual?

Senin, 17 Agustus 2026 - 00:37 WITA

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:19 WITA

Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:49 WITA

Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar

Kamis, 1 Januari 2026 - 08:12 WITA

UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur

Berita Terbaru

Karya Tulis

Maulid Nabi: Adilkah Jika Hanya Mencintai Secara Spiritual?

Selasa, 15 Sep 2026 - 16:32 WITA

Foto: Kepala Dinas Perikanan (Diskan) PPU, Andi Trasodiharto. (Ist)

PPU

Dorong Babulu Jadi KNMP, Diskan PPU Lirik Potensi Besar

Senin, 14 Sep 2026 - 18:16 WITA