Ekonomi Mengalami Stagnasi, Pakar Ekonomi Sebut Industri RI Belum Mampu duduk Di Angka 6%

- Redaksi

Kamis, 4 Juli 2024 - 09:42 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Pakar Ekonomi Prof. Dr. Didik J. Rachbini

Foto: Pakar Ekonomi Prof. Dr. Didik J. Rachbini

LINTASJEJARING.COM, Semarang – Pakar Ekonomi Prof. Dr. Didik J. Rachbini menyampaikan tentang kehadiran Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan memegang peranan penting pada masa pemerintahan yang akan datang, hal ini sekaligus menentukan tentang apakah nantinya pertumbuhan ekonomi dapat mencapai dan melewati angka 6%.

Menurutnya, kegagalan dalam mendorong ekonomi agar dapat tumbuh diatas 6 persen adalah, dikarenakan pertumbuhan serta pergerakan sektor industri yang sangat lambat.

“Hal ini dapat terjadi karena adanya absensi dan kekosongan dalam kebijakan industri dan Kementerian Perindustrian yang dorman,” ucap Prof. Didik J. Rachbini ketika ditemui awak media.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

hingga saat ini, Ujar Prof. Didik, Kemenperin memiliki peran yang sangat terbatas dalam membuat kebijakan yang kuat dan tidak memiliki nilai yang signifikan guna memajukan sektor industri.

Menurut beliau, sektor industri tumbuh dibawah 5 persen secara terus – menerus sehingga tidak memiliki daya dorong dan tidak mampu untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Baca Juga:  Usai PDNS Diretas, Dirjen Aptik Kemenkominfo Menggundurkan Diri

Sektor ini juga mengalami mandek dengan pertumbuhan yang hanya berada pada angka 3 – 4 persen saja. Menurutnya, hal tersebut menandakan ketiadaan dan absensi dari kebijakan industri. Industri dimatikan dikarenakan kebijakan yang surut dan tidak diberikan sebuah kesempatan, ruang, dan dorongan bagi industri nasional.

Foto: Gedung Kementerian Perindustrian

Jika ada suatu kebijakan industri yang akan terus terjsdi seperti selama 1 – 2 dekade terakhir ini, maka gugurlah janji dari Calon Presiden RI Prabowo Subianto terkait kemajuan perekonomian dan pertumbuhan yang tinggi akan tergapai.

“Ada kemungkinan, pertumbuhan ekonomi akan selalu di bawah 5 persen, hal ini dikarenakan terseret pertumbuhan industri yang sangat rendah,” jelasnya.

Prof. Didik juga membandingkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang terjadi di negara Vietnam dan India. India dan Vietnam berhasil mendorong industri sebagai sarana perkembangan dan pertumbuhannya.

Baca Juga:  Polres KTT Peringatkan Oknum Penimbun Bapokting : Pidana Menanti.

Sektor industri di india bertumbuh sebanyak dua digit hingga pertumbuhan ekonomi menyentuh angka 7 persen. Berbanding terbalik dengan indonesia dalam dua dekade terakhir, sektor industri di indonesia hanya tumbuh sebesar 3 – 4 persen atau berada dibawah angka 5 persen.

Kegagalan indonesia dalam menempatkan sektor industri sebagai sarana pertumbuhan dan serta Kementerian Perindustrian yang terhambat dalam menjalankan kebijakan industrinya, menjadi alasan mengapa indonesia gagal mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam dua dekade terakhir.

Prof. Didik juga menekankan, terkait “Faktor Kritis dalam pertumbuhan ekonomi pada masa pemerintaha Prabowo akan berdasar pada kemeperin.”

Beliau, juga menyampaikan terkait ekonomi indonesia yang telah mengalami stagnasi pertumbuhan 5 persen atau dibawahnya, karena hanya bertumpu pada konsumsi dan sektor jasa saja, yang dicampuradukan dengan sektor informal.

Baca Juga:  Pertimbangan Teknis Menjadi Alasan Dispora Kaltim Undur Jadwal Kegiatan Festival Musik Menjadi 30 November

Menurut beliau, dengan hadirnya sektor jasa yang tidak modern serta hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga saja, perekonomian akan kehilangan sarana perkembangannya, yang berakhir pada rendahnya pertumbuhan ekonomi dan berakhir moderat saja.

Terkait janji kampanye Calon Presiden RI Prabowo, Bahwa pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, Prof. Didik beranggapan bahwa hal tersebut merupakan suatu target yang mustahil untuk didapatkan dengan kebijakan yang ada saat ini, serta tindakan pasif dari Kementerian Perindustrian yang tidak dapat berbuat banyak untuk mengubah keadaan perekonomian.

“Jika kita ingin berbeda dari pemerintahan sebelumnya, kunci suksesnya terletak pada sukses atau tidaknya kita dalam membenahi Kementerian Industri dan Kebijakan Industrinya. Tanpa itu Indonesia akan menjadi Underdog atau tidak diunggulkan di tubuh ASEAN,” tutupnya.

Penulis : Sean

Editor : Niken

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rocky Gerung Resmi Jadi Wantimpres Prabowo, Tegaskan  Tetap ‘Radical Break’
Kursi 2 RI Di Gugat, Administrasi Gibran Jadi Persoalan Di Meja MK
Usai Di Telpon Prabowo, Nahkoda Menkeu Di Gantikan Suahasil Nazara
Teguh Santosa: BRICS New Delhi Uji Arah Baru Politik Luar Negeri Indonesia
Ratusan Rumah Rusak Akibat Gempa Sigi, PMII Serukan Gerakan Solidaritas Kemanusiaan
Tak Ada Ruang Salah, Borneo FC Fokus Amankan Tiga Poin
Istikmal 30 Hari, Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh Pada 21 Maret 2026
Harga Pertamax Naik Lagi, BBM Nonsubsidi Disesuaikan Mulai Maret 2026

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 20:00 WITA

Rocky Gerung Resmi Jadi Wantimpres Prabowo, Tegaskan  Tetap ‘Radical Break’

Rabu, 23 September 2026 - 17:13 WITA

Kursi 2 RI Di Gugat, Administrasi Gibran Jadi Persoalan Di Meja MK

Senin, 14 September 2026 - 15:06 WITA

Usai Di Telpon Prabowo, Nahkoda Menkeu Di Gantikan Suahasil Nazara

Senin, 14 September 2026 - 13:49 WITA

Teguh Santosa: BRICS New Delhi Uji Arah Baru Politik Luar Negeri Indonesia

Selasa, 16 Juni 2026 - 18:03 WITA

Ratusan Rumah Rusak Akibat Gempa Sigi, PMII Serukan Gerakan Solidaritas Kemanusiaan

Berita Terbaru