LINTASJEJARING.COM, Jakarta – Perry Warjiyo selaku Gubernur Bank Indonesia menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia tetap bertahan kuat dalam menghadapi peningkatan ketidakpastian global.
Indonesia yang sekarang, menurut Gubernur BI tersebut, tetap stabil dalam menghadapi ketidak pastian ekonomi yang sedang berputar di dunia.
“Bagaimana dampak ketidakpastian global itu terhadap ekonomi domestik? Secara keseluruhan ketahanan ekonomi Indonesia itu berdaya tahan kuat,” ucapnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketahanan sektor ekonomi yang kuat, ditampakkan dari pertumbuhan ekonomi indonesia yang tetap tinggi. Inflasi yang terjaga dengan kisaran sasaran 2,5 plus minus 1%, serta ketahanan eksternal ekonomi yang kuat.
“Ketahanan eksternal baik berkaitan dengan utang luar negeri, neraca pembayaran maupun juga kecukupan cadangan devisa itu tetap kuat,” katanya.
Ketidakpastian global saat ini bersumber dari perubahan arah penurunan suku bunga Fed Funds Rate (FFR) dan peningkatan ketegangan geopolitik di daerah Timur Tengah.
“Kedua risiko itu berdampak pada kenaikan US Treasury yang lebih tinggi, dipengaruhi juga kebutuhan penerbitan utang oleh pemerintah Amerika Serikat yang lebih besar dan tentu saja itu membuat juga mata uang dolar AS itu menguat dan juga akan tetap kuat,” ujarnya.
Sementara itu, Bank Indonesia telah menakar risiko dan probabilitas terkait FFR dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yakni baseline skenario dengan probabilitas di atas 75%, risiko potensial dengan probabilitas 50 hingga 70%, serta risiko terburuknya (tail risk) berada di probabilitas dibawah 50%.
Sedangkan, untuk baseline skenario ketegangan geopolitik yabg terjadi di Timur Tengah, terdapat kemungkinan akan terjadinya retaliasi secara terbatas serta akan berdampak pada kenaikan harga minya dunia yang lebih terbatas.
Untuk risiko potensial, eskalasi konflik meningkat secara moderat dan menengah, sedangkan untuk tail risknya sendiri, eskalasi ketegangan terus meluas.
Untum skenario baseline dengan probabilitas diatas 75%, BI sendiri telah memperkirakan FFR akan menurun pada triwulan IV – 2024 sebesar 25 basis poin.
Perry berpendapat bahwa, untuk mengatisipasi segala risiko dari ketidakpastian penurunan FFR dan ketegangan geopolitik yang terjadi di timur tengah, kebijakan – kebijakan antisipatif sangat diperlukan serta forward looking dan pre – emptive.
BI sendiri telah meningkatkan suku bunga BI – Rate sebesar 25 basis poin hingga menjadi 6,25% untuk memperkuat stabilitas dari nilai tukar rupiah dan dari kemungkinan meningkatnya risiko global.
BI sendiri meyakini nilai tukar ruliah triwulan II – 2024 akan relatif stabil pada level Rp. 16.200 per dolar AS dan akan menguat ke kisaran Rp.16.000 per dolar AS di triwulan III – 2024 serta Rp. 15.800 per dolar AS do triwualn IV – 2024.
Penulis : Sean
Editor : Niken









